Wednesday, March 25, 2009

Ah, time..

Sebenernya sempat, kalau disempat-sempatkan. Toh orang sukses punya waktu sama seperti kita, 24 jam.

Ahh rasanya kutipan di atas sudah bolak-balik dikisahkan oleh para pendahulu kita. Namun entah knapa biar diulang-ulang terus, yang namanya masalah manajemen waktu teteuuupp saja menjadi suatu permasalahan rutin buat kita. Contoh tunggal dalam postingan ini : Tyzha Inandia. Aka saya sendiri.

Kata ‘nanti’ masih menjadi sebuah slogan ampuh buat si Tyzha untuk mengelak, berkelit dengan suksesnya akan tanggung jawab yang bertebaran di mana-mana. Kemempuan untuk terlelap dalam tempo singkat (hingga dijuluki Putri Tidur oleh rekan2nya di kampus), membuat kata nanti itu terus menjadi ‘nanti-nanti’ yang sangat panjang. “Nanti malam pasti saya kerjakan” misalnya, bisa tetap manjadi frase “nanti malam” tetapi dalam konteks dikatakan esok harinya. Atau besoknya lagi. atau besok-besok-besoknya lagi. Didukung daya ingat yang parah, kata nanti ini bisa menjadi senjata mematikan. Contohnya lagi ketika Tyzha sedang bermuram durja mengingat tugas-tugasanya yang banyak tetapi tidak juga mulai dikerjakan karena ‘sedang tidak mood’, ia bisa saja mendadak teringat tanggungan tugas dari kapan hari yang terlupa karena timbunan tugas yang baru.


Scene 01.

KAMAR KOS, INT. MENJELANG MAGHRIB.

(tyzha sedang asik mengetik postingan di blognya. Wajahnya berkerut tanda sedang memikirkan beban hidup yang menderanya)

TYZHA

(menjerit kencang, terlonjak dari kursi, lantas memasang kuda-kuda ala pencak silat) YA AMPUN GUE LUPA BLOM BIKIN LPJ ART INJECTIONNN!!!

(susana hening sejenak, Tyzha pun kembali duduk dalam posisi normal)

TYZHA

(menjerit kencang, terlonjak dari kursi, lantas memasang kuda-kuda ala pencak silat kali kedua)

YA AMPUN ESAI AMPELNYA MAS AYOS JUGA BELUM YA? AKHH!!

(matanya nanar menjelajahi kamar berukuran sekian kali sekian itu. Tatapannya tertumbuk pada sebuah PISAU. Tangan TYZHA terulur mengambilnya, ia lalu memandangi pergelangan tangannya dan..




Ehm. Silakan lanjutkan sendiri.

Oke balik2 ke masalah manajemen waktu. Ya ituu saya sendiri nggak keitung bertanya pada orang yang lebi kompeten dalam hal ini temen, senior, mantan temen, mantan senior, sapajalah yang menurut saya bisa ngasi referensi how to manage our time. Kadang kalau saya mikir sendiri, iyah sempet. 24 jam lho banyak. Saya juga blom jadi presiden yang sibuknya minta apmyun. Jadi intinya dimana letak permasalahan mengerjakan-tugas-geradakan-karena-gak-dicicil-dari-kemarin2 itu bersumber?

Jawabannya sudah saya sebutkan di atas. Nggak mood jeungg..

Susahnya jadi anak seni desain, kadang semaunya dalam hal mood. Istilah kerennya dalam ngerjain tugas itu berkarya. Kalau nggak mood berkarya yo hasilnya tar jelek. Masalahnya si mood ini datangnya ga ktauan tempo pastinya. Kalo dalam kasus saya pas deadline udah mepet. Udah H-mepet baru mood itu muncul. Sebenernya hasilnya tar memang ga jelek, karena dikerjain dalam mood yang bagus. Tapi nggak maksimal.. karena itu mengantisipasi segala kemungkinan buruk biasanya kalo dikasi kerjaan saya selalu nanya ke empunya gawe. Deadlinenya kapan? Sebelnya kalo si punya gawe orang yang kelewat baik hati. Secepatnya aja, begitu jawabannya. Batin saya, yah semua juga mau cepet, tapi secepat apa? Karena standar cepetnya orang itu beda2. Dan dalam kasus saya, sebut aja deh lu mau selese kapan. Insya Allah bisa selesei. Asal jelas waktu kapan selesainya itu. Karena kalo ga nyebut waktu pastinya, ya bgini jadinya, ga kegarap-garap. Karena seolah kata secepatnya itu kata halus dari ya klo sempet dikerjain, kalo nggak ntar2 aja.. paling tidak buat saya.


tick-tock-tick-tock


Ah sebenernya saya mau ngasi tips gimana menej waktu, tapi saya sendiri blum bener jadi ga usa deh. Saya ni emg pinter ngajar tapi ga pinter ngelaksanain. Pinter teori doang tapi praktenya mbambet boi.. yah semoga temen2 nggak ada yang niru bad habit saya deh, karena saya juga pengen tobat. Tapi mau tobat juga masi bilang nanti-nanti saja huhu..


My deepest apologize for mas jo.. haha. Karena bulan kmarin ga nyampe 4 artikel. Bukan mas, bukan maslah HR, tapi lebih ke kegagalan buat menuhin tanggung jawab. Yea, i really sorry. Sebenernya ga pengen ngasi alasan pembenaran, tapi tetep aja saya punya alasan. I’ve got problem yg terlalu privacy buat ditulis di blog atawa dicritain ke orang. Biar udah ditulis di file pribadi tapi ternyata nggak lega juga huff..jadi ya mbambet, mempengaruhi kinerja otak dan hati, dan membuat pengen muntah all day long.

Buat mb senja juga huhu..sepurane mbak dkv2ku sering mbambet asitensinya. Yo ngunu mbak, unuk masalah huhu. Padahal wes ga remaja maneh ko yo blum dewasa2 juga huhu..kangen diomeli mbak senja pas asistensi :p

Wednesday, March 18, 2009

Something Knocking My Mind..

Sekitar sebulan lalu saya asyik berblogging ria, berjalan-jalan di blognya orang-orang. Sekedar mengintip postingan baru atau mencari kenalan baru yang blognya lebih yahut. Sampai di blog salah satu mantan webmaster ITS saya sampai pada postingannya yang berisi kata-kata yang isinya menohok ulu hati. Makjrot, saya tersindir sampai bloody-bloody walaupun maksud si empunya blog sebenarnya mengkritisi dirinya sendiri.

Intinya si mas itu ngomentarin dirinya yang mulai kehilangan arah (baca: males) sehingga blognya pun diisi postingan ga jelas sampa dy sendiri ga ngerti ke mana juntrungannya blognya dia itu huhu..

Weitss, ko gue banget yah?

Saya sendiri nyadar, blog saya ini ga kayak blognya Mas Ayos yang jelas tujuannya buat para traveler, karena dia suka nulis soal perjalan-perjalannya, trus juga soal budaya. Atau punya Mas Jo yang semi curhat tapi sebenernya isinya mendalam dan berdasarakan isu yang faktual. Atau blog junior saya yang suka saya intip2 Qza yang isinya curhatannya dia tapi lebih ke arah fashion. Plus full english. Jadi para penikmat blog tersebut juga jelas spesifikasinya. Oh yang baca blognya si ini orang yang concern dengan masalah ini, oh yang baca ni pasti anak-anak yang sukanya bergaul bgini bgitu.

Lha trus saya?

Dari awal saya namain blog ini catatan harian ya karena memang itu tujuan saya, ya menjadikan blog ini kayak catatan harian, yang mungkin bisa digunakan untuk mengenal lebih baik penulisnya. Bisa buat share apa saja yang mungkin menarik/ tidak bagi saya. Tempat ngoceh ga jelas. Intinya apapunlah yang saya mau. Namanya aja catatan harian ya suka-suka saya dong mau nulis apa, iya enggak? Tapi sekarang setelah berjalan memang terjadi beberapa kebingungan. Saya ga ngerti yang baca blog saya ini siapa. Saya juga ga ngerti sebenernya yang dicari dalam blog saya ini apa. Saya pribadi seneng2 aja nulis smau gue tapi mau ga mau saya mikir, apa memang relevan? Apakah berguna? Apakah penting?


penting ga seh masang foto bginian di blog??


Di sisi lain ada temen yang nyaranin buat nulis yang lebih serius. Well, saya suka mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar saya dan mengomentarinya. Saya suka ko mengkritisi, nulis sesuatu yang ada isinya-lah, tapi hehe ya kayaknya tulisan saya blom berbobot2 amat. Karena kecenderungan saya suka nyelimur alias kalo ngomongin ini trus suka kluar jalur. Jadinya yang aslinya ngomong serius gini gitu ehh di akhir2 nemuin senuatu yanga agak2 nyambung jadilah ceritanya berbelok.

Tapi mungkin di situlah pentingnya tag dalam blog kita ya? Jadi seorang penulis serius pun bisa aja nulis kejadian sehari-harinya yang ga penting di bagian ‘my life’ misalnya. Atau saya lagi pengen ngomel, nuntut, saya tag aja ‘lil serious’.

Hmm.. nyelimur kan..

Oke, jadi intinya?

Menulis masih jadi sarana ekspresi diri saya. Mboh blog ini isinya masih campur aduk kepikiran ngasi nama gado-gado tapi ko ga menjual tapi detik inipun saya sudah berniat dan sedang melaksanakan beberapa perbaikan yang mudah2an bisa membuat blog ini agak genah dalam pengertian saya sendiri tentunya hehe. Terima kasih buat yang suka mampir saya sendiri nggak ngerti apa yang anda semua cari di sini. Mungkin ada yang mau berbagi cerita? Kenapa ko suka mampir di sini? :)

Menulis, Terapi yang Menyembuhkan*



Saya pernah membaca tulisan Munawir Aziz yang dimuat di Jawa Pos, sekitar sebulan atau dua bulan lalu rasanya (saya lupa tanggal pastinya). Yang jelas di kolom tersebut, Munawir yang adalah seorang peneliti menulis semacam esai menarik dengan judul Menulis, Terapi yang Menyembuhkan. Isi esainya sangat menarik. Tak hanya mengupas pentingnya menulis sebagai sarana pemacu kreativitas layaknya jamak ditulis orang, Munawir juga enampilkan fakta bahwa menulis juga berfungsi sebagai media pengobatan, sebuah terapi bagi kesehatan. Ia sendiri memberi contoh Dahlan Iskan yang menulis pengalamannya selama operasi ganti hati di Tiongkok yang kemudian ditumpahkannya dalam bentuk buku yang berjudul Ganti Hati. Munawir juga memberi contoh seorang Christine Clifford, penulis buku besar yang di tengah perjuangannya menghadapi kanker malah terus menulis hingga diterbitkanlah buku pertamanya yang berjudul Not Now..I’m having No hair Day!

Dalam esainya Munawir hendak menyampaikan bahwa menulis bisa jadi merupakan semacam transfusi energi bagi tubuh kita. Baik bagi Dahlan Iskan selama masa penyembuhannya, juga baik Pipiet Senja yang terus menulis di tengah statusnya sebagai seorang penderita leukimia, menulis adalah sebuah terapi psikologis maha dahsyat. Dan nampaknya kita semua sepakat, bukan, bahwa sisi psikologis itulah kunci dari semua kesembuhan.

Artikel yang ditulis Munawir Aziz itu saya gunting dan saya tempel di dinding di atas meja tulis saya, tempat saya biasa menulis, sebagai spirit.

Dan kalau ngomong-ngomong soal pengalaman pribadi, menulis sebagai terapi kesembuhan ini baru saja menunjukkan daya pikatnya pada saya. sekitar dua minggu lalu saya berada dalam kondisi mengenaskan. Setelah berhari-hari teronggok tanpa daya di atas kasur, di tengah deraan pilek dan pusing, ditambah batuk dan mata berkunag-kunang, saya akhirnya bangkit dan dalam sepuluh menit merasa sudah agak baikan. Apa yang bisa membuat saya bangun, kalau tuntutan mandi saja masih bisa dikalahkan rasa sakit yang berkepanjangan? Jawabannya ternyata adalah pikiran untuk menulis postingan di blog ini. ya! Saya masih bergelung di atas kasur, menutupi mata yang terasa berkunang-kunang ketika timbul keinginan untuk menulis. Seketika itu saya tegak dan mulai mengetik di laptop. Dan lihat saya! Belum sepuluh menit saya sudah bisa bernafas lewat hidung dan batuk-batuk terasa berkurang. Sedemikian dahsyat manfaatnya menulis.

Akhirnya, hanya menulis yang bisa membuat saya menunaikan salah satu kewajiban utama: mandi!


*judul postingan saya mengutip esai berjudul serupa
karya Munawir Aziz yang dimuat di harian Jawa Pos

Tuesday, March 17, 2009

In Chat with the Guys



Seminggu lebih yang lalu saya sempet chat dengan kawan lama. Kebetulan anaknya memang asyik diajak ngobrol dan becanda. Nah kenapa waktu itu saya iseng aja pengen tanya2 sama dia. Kebetulan kawan saya ini selain pintar, humoris, anaknya juga ga neko-neko (aduh mudah2an dy ga baca postingan ini tar GR haha) yahh kesimpulan sekilas adalah mahasiswa teladan yang tak banyak tingkah dan berbakti pada orangtua wekeke

saya punya kecurigaan dy naksir dengan salah seorang teman masa kecilnya, yang kebetulan adalah seorang akhwat yang Insya Allah shalihah. Saya pun tertarik untuk melihat perspektif dia terhadap hubungan cewek dan cowok itu. Jadilah saya cerita sedikit soal roman kehidupan saya wekeke..dan jadilah pula saya minta dy urun nasihat.

Singkatnya saja saya cerita kalo sedang tertarik dengan seorang laki-laki yang menurut saya cuek, dingin, dan bukan tipe cowok berpacaran. Lalu kawan saya itu memberi sebuah pernyataan yang menarik. Dia bilang:



Kl km tau dy tipe sperti itu
Km ckup memberi isyrat bahwa km ska sm dy
Ingat,tp hanya isyrat
G perlu diungkapin



Ya saya bilang saya memang ga perna bilang apa-apa..secara langsung. Tapi saya perna nulis di blog tentang dia! Baru belakangan saya tau dia pernah baca blog saya. Saya bilang ke kawan saya, saya nggak tau apakah cowok itu membaca postingan yang tentang dia. Dan kalaupun dia baca saya juga nggak tahu apakah dia ngerasa yang dibicarakan adalah dia.

Kawan saya itu lantas bilang kalo ada di posisinya si cowok dia pasti bingung apakah benar yang saya tulis itu dirinya atau bukan. Lantas kawan saya itu bercerita tentang kisahnya sendiri beberapa tahun lalu yang kurang lebih sama seperti ini. ia mengaku sampai sekarangpun ia masih ragu apakah yang dimaksud wanita yang disukainya itu adalah dirinya.

Kawan saya itu juga bilang kalaupun saya suka dengan laki-laki tersebut, yang terpenting adalah tetap menjalin silaturahim.. dan ia berpesan agar saya jangan terlalu agresif haha.. Saya sih bilang paling saya nyapa laki-laki itu seminggu sekali lewat chatting, apakah itu kelewat agresif? Kawan saya sih bilang nggak, bahkan dia cerita kalau dia hanya sms wanita yang disukainya itu sebulan sekali, itupun hanya membahas hal-hal yang umum saja. Bahkan wanita yang disukainya itupun menurutnya hanya membalas seperlunya saja! Wah sungguh sikap yang saya harap dapat saya tiru..

Intinya sih di mata saya kawan saya ini orang yang cukup baik, dan wanita yang disukainya itu yang kebetulan saya kenal juga adalah wanita yang baik. Entah mereka bakal berjodoh atau tidak, tapi saya sebagai pengamat melihat intinya adalah cowok baik itu untuk cewek yang baik, dan begitu pula sebaliknya..

Saya sempet tanya ke kawan saya, apa yang dia harapkan sebenarnya? Apakah dia berharap bisa lebih dekat dengan wanita itu? Apakah dia berharap wanita itu akan mengsms dirinya atau membalas smsnya dengan lebih panjang lebar? Kawan saya bilang dia ingin keadaannya tetap seperti sekarang. Tahu kenapa? Kawan saya bilang kalau terlalu dekat dia takut terlalu berharap, takut nantinya bakal sakit hati, takut kalau akhirnya semua itu malah bikin kuliahnya berantakan.. takut kalau akhirnya wanita tersebut menikah dengan orang lain.. intinya dia bilang kalau terlalu suka dia takut kalau hidupnya malah jadi hancur..

Well?




..Saya cuma bisa bilang itu salah satu chatting paling bermutu yang pernah saya lalui haha.. banyak, banyak sekali memberi masukan. Trims kawan :)

Lalu kebetulan saat chatting dengan kawan saya itu saya chatting dengan kawan saya yang satu lagi. yang ini temen SMA dan areke rodo’ mbeling ahahaha.. saya sempet kesal setengah mati beberapa waktu lalu gara-gara kena tipu dengan gobloknya perihal pernikahannya dengan soulmatenya. Jadi ceritanya waktu itu saya dibilangin kalau dy akan melangsungkan pernikahan dengan pacarnya itu. Saya sih sempet ga percaya tapi setelah dia dengan lihai menyodorkan ini itu saya malah jadi heboh sendiri (catatan: super HEBOH sebenernya, sampai histeris) dan percaya-percaya aja, ikut seneng, tanya ini itu, dan mengucapkan selamat dengan cerianya.. bahkan saya sampai meng-sms nomor pacarnya yang dia kasih.. yang blakangan saya tau ternyata nomornya sendiri. baru beberapa hari kemudian dia telpon saya dan sambil ngakak gila-gilaan ngaku bahwa itu cuma bo’ongan aja. Bahkan dengan sadisnya dia bilang kalau dia ngerjain saya itu bersama temen2 cowok SMA saya yang lain, yang kuliah satu kota sama dia. Yang berarti satu hal, masalah saya kena tipu habis-habisan dan bertingkah-happy-kelewatan itu sudah menyebar di kalangan temen2 cowok saya yang mulutnya kadang lebih ember ketimbang cewek. Sial sial. Saya sih waktu itu speechless dan ngamuk-ngamuk ga karuan karena memanfaatkan kepolosan saya. Dy sih bilang dy ngerasa ga enak juga karena ko saya percaya2 aja makanya dia mau minta maaf.. tapi dengan tidak berperasaan dia nambahin saya bukannya polos kali, tapi goblok.

See? Kurang ajar banget kan?

ya balik lagi ke masalah ceting. Temen saya ini umurnya lebi muda dari saya makanya lebih sering saya anggap seperti adik, rupanya komen soal status saya di fesbuk. Nggak tau gimana mulanya dia tau2 bilang saya ini jaim kalo lagi suka sama cowok. Terang saya kebakaran jenggot dan nanya balik emang saya jaim gitu? Jawabnya: kayaknya. Balas saya: sok tau lu

Eh trus pembicaraan malah jadi seperti dia memberi wejangan ke saya. Nggak tau knapa dia hari itu. Salah minum obat kali. Tumben2 bisa ceting dengan benar bukannya ngejek2 kaya biasa. Intinya dia bilang

jgn mlu2 dong
jgn juga malu2in
bkin km asik
d dpn dy
gitu
obrolannya hrus hidup
hrus nymbung mulu omongan


eh trus knapa juga saya jadi kepancing dan akhirnya tanya2. Saya malah jadi cerita kalau saya pernah dibilang tampang ga seneng masak. Temen saya itu nyuruh saya belajar masak, jangan cuma bisa masak mie sama air doang. Ya saya bilang, saya dibilang tampang ga seneng masak bukan tampang ga bisa masak. Kayak seolah-olah saya cuma senang hura-hura aja huhu.. jawabnya dia: km tuh bukan tampang g bs masak tp tampang ne2k

sialan.

Yah mulai dari situ obrolan berjalan ngaco kaya biasa lagi. pembicaraan agak serius kami rupanya cuma bisa bertahan sekian menit. Yeaa thank’s anyway bro :p


Mudah-mudahan di atas bisa jadi inspirasi masalah percintaan pembaca deh heheh..ingat, tak ada jaminan 100% dari penulis blog maupun narasumber :D

Friday, March 13, 2009

Ternyata Nilai A Bisa Menjadi Beban..

ask why.


hari ini hari pertama saya memulai tugas menjadi asisten dosen untuk matakuliah Gambar Teknik. aslinya mbak susan sang dosen sudah minta saya dari kapan hari tapi beliau nggak ngubung2in saya lagi jd yowes ta pikir gajadi.eh kmarin lusa taunya aku dismsin lagi, diminta dateng hari jumat buat bantuin ngasistensiin kerjaannya maba.


ohmaigat.



jujur aja brapa hari trakhir ini saya lagi kacau gr2 DKV2 yang ketinggalan progres awalnya, jadi blakangnya saya ngejar2 tu progress setengah mampus. alhasil baru tadi pagi saya nyiapin buat masalah asdos2 ini. seingetnya sih masih nyimpen gambar kerja taun lalu pas ngambil gartek tapi ko ga nemu ya..tau2 inget klo smua tugas gartek udah saya buang demi efisiensi kamar kos. arghhh!!!paniklah saya ngebuka2 binder lama dan alhamdulillah banget masi nemuin catatan gartek lama yang alhamdulillah banget banget lagi ternyata masi cukup lengkap sehingga masih bisa merefreshkan otaklah dengan materi2 gartek ini.


dodolnya pas saya dateng ke kampus jam 7 kurang ternyata saya gapunya nyali buat masuk kelas duluan akhirnya saya milih nunggu dosennya dateng duluan. sayapun duduk2 aja di selasar. mbatin lama banget ya dosennya dateng. lama gitu nunggu pe jam 7an lebi tau2 ada maba yang kluar kelas saya tanyain aja.



'eh garteknya uda masuk blom?'
'uda'
(kaget, ga percaya)'masa?dosennya uda dateng?'
'udah'



dan ngacirlah saya langsung ke kelas gartek dan found that klo dosennya emg uda dateng bneran huehehe..(rupanya saya ga merhatikan pas dosennya masuk kelas gr2 keasikan melamun di selasar)



honestly saya kaget brat melihat kelas yg sedemikian banyaknya diisi mahasiswa (75an orang) dan sebelumnya cm dihandle 2 dosen (mb susan n pak joko). jd bener saja klo butuh tenaga tambahan dlm hal ini (saya n mas agus06). awalnya si nervous apalagi pak joko nyebut2 ke maba klo nilai gartek saya A (dan mereka ber-wah wah). wah saya jadi takut ni, takut salah takut lupa materi dsb (walopun sudah membaca catatan dan sedikit banyak masi ingat apa yg saya pelajari dulu). mendadak nilai A jadi terasa menyeramkan. seolah dengan nilai itu brarti saya dianggap sudah master huhu..padahal rasanya ilmu masi cetek2 aja.

alhamdulillah pas mbak susan ngasi materi tyt saya masih cukup paham jadi klopun maba minta penjelasan Insya Allah saya masih bisa menangani. tapi saya agak gugup duduk di depan maba2 ntu dan pas keliling2 liat progressnya maba saya juga agak sungkan2 gimana gt apalagi saya kan memang agak pemalu hihi tapi saya coba aja tanya2 ke mereka gimana kerjaannya dan ngasi penjelasan klo ada yang nanya. saya sih maksudnya berusaha bersikap ramah dan menolong, saya ga pengen jd asdos yg kesannya sok gt huhu (soalnya slama ni blm perna ada asdos yg sok, dan sy gmw jadi orang yg dianggap demikian). terlebih lagi gartek taun ini lebi berat materinya. ditambah kelas yg besar jadi kemungkinan mahasiswa ga ngerti saat dosen njelasin juga lebih besar. beda sama taun saya dulu yg dipecah2 per duapuluhan orang kelasnya jadi klo ga ngerti dosen juga bisa ngebimbing satu2.

di akhir masa tugas saya hari itu tyt para asdos dikasi tugas suru ngasistensiin.wah duduk dengerin maba berkonsultasi masalah desainnya lalu mencari solusi sama2 rasanya sangat..menegangkan. mungkin mereka takut desainnya ga diterima, saya takut klo solusi yg mungkin inisiatifnya dari saya masi kurang membangun. tapi saya berusaha mengabaikan ketakutan2 ga penting itu dan mengasistensi sebaik yg saya bisa. saya sih inget2 kata ibu saya aja waktu cerita saya disuru jadi asdos dan takut klo gabisa menjalankan dgn baik. ibu saya bilang anggap saja pengalaman. dan kalopun saya merasa takut gabisa atau gmana2 toh yang memilih saya kan dosen. jadi pastilah saya dianggap cukup mampu untuk menjalani tanggung jawab ini.. oh mom, you dunno how it mean..love you!



pada intinya..sekali lagi kita bisa belajar dari kehidupan sehari2. masalah sepele panik karena agak2 lupa materinya gartek membuat saya inget sebuah tanggung jawab dari sebuah nilai A. bukan hanya nilai bagus yang tercetak di transkrip, lebih dari itu, sebuah nilai sempurna mengandung pertanggung jawaban; apakah benar kita sudah layak mendapatkannya?


nilai A tidak selalu didapat dari nilai2 yang sempurna. ia bisa dari pembulatan, bisa juga dari standar akan kesempurnaan itu sendiri yang berbeda2. saya sendiri jadi lebih tersadar bahwa ya, saya tak boleh hanya paham materi tersebut saat saya masih menempuhnya. kedepannyapun karena saya mendapat A, dianggap mampu, ya saya harus bisa tetap memahami materi tersebut, sampai kapanpun. karena bukankah itu inti dari kita belajar? bukan hanya untuk pengakuan atas sebuah nilai, tetapi lebih ke mendapatkan ilmunya bukan? dan kalau hanya ingat sesaat akan ilmu tersebut lantas lupa dan tak mampu menerapkan apakah bisa dikatakan kita telah mendapatkan ilmu tersebut?


itu menurut saya lho..bagaimana menurut anda semua?

Saturday, March 7, 2009

blues



In the corner of the coffee shop

Awake by myself in the middle of the rain

Could you tell me how will this all end?

I have no idea about the future


Stay here, oh just stand by my side

Life is just too wide to spend alone

Where the flower blooms, i hope i’ll be there

I’ll give you one and catch for me too


It is just a dream by a young girl

Hope she will turn out the sky into yellow

Why should, we still have into the blue?

It just a dream by a young girl

Why should we still have into the blue?





*i made this poetry in a very strange mood.
actually i'm not sure what it's all about..it just fit my mood that time