Monday, February 1, 2016

The Life Without TV

Saya lupa pernah cerita di sini atau enggak, kalau keluarga kecil kami hidup tanpa TV. Saya refresh sedikit, ya, kalau sudah pernah? Tulisan ini semoga juga menjawab ke-kepo-an beberapa orang tentang no tv rules di rumah kami hihi...

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Singkatnya, waktu saya hamil empat bulan dan masih tinggal di kontrakan, booster TV kami rusak. Booster ini kalau ga salah fungsinya untuk menangkap channel TV gitu deh...sort of. Maafkan kalau salah :p. Karena rusak, TV kami hanya bisa menayangkan gambar semut hitam putih berlarian ke sana ke mari.

Kesibukan suami saat itu membuatnya tidak bisa segera memperbaiki si booster. Alhasil, kami hidup tanpa TV . Berhari-hari, kemudian bermingu-minggu. Sampai akhirnya, kami lupa rasanya nonton TV. Akhirnya kami memutuskan, okay, no TV at home. Sebelumnya kami memang tahu ada beberapa keluarga yang menerapkan no TV rules. Selama itu, kami selalu cuma bisa ngiri tapi nggak pernah berhasil nyoba hahaha.. Oke, mungkin ini jalannya :)

Saat pindah ke rumah sendiri pun, TV pun dipajang di tempat kehormatan---tapi nggak pernah nyala :))


------------------------------------------------------------------------------------------------


Kalau buat saya pribadi, menonton TV itu rasanya seperti I own the whole time in the world. Kayak waktu itu luaaaang banget sampai nggak kerasa bisa berjam-jam nonton TV. Belakangan baru sadar, waduh, belum ini itu. Hedehh..


Tanpa TV, buat saya, lebih banyak waktu berkualitas untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Begitu juga dengan Abinya Azka. Waktu makan malam yang biasanya disambi nonton TV, tidak terjadi di rumah kami. Kami biasa menyegerakan makan malam lantas ngobrol-ngobrol tentang apa aja. Waktu-waktu ini yang jadi favorit saya, karena Abinya Azka udah kenyang, sambil leyeh-leyeh bisa dengerin cerita saya dan Azka ngapain aja seharian ini..vice versa.

Family time kami juga tidak pernah berupa nonton TV bareng, tetapi dengan berkebun bersama, reading time, and so on.

Tidak pernah ada waktu yang bener-bener 'nganggur' sehingga harus 'dihabiskan' dengan nonton TV. Bahkan sekarang ini nih, saya dan suami sering merasa, tanpa TV aja kayaknya banyak banget hal-hal yang pengen dikerjain, tapi belum sempat-sempat. Gimana kalau ter-distract sama TV ya? :)



Sebenarnya, bukannya saya anti banget sama TV. Namun saya dan suami kayaknya bukan tipe yang bisa fight the temptation, deh. Karena nggak bisa melawan, we choose to avoid it.


 | Don't fight temptation. Avoid it.


Hindari sajalah buat amannya haha.. Buktinya, waktu kemarin sebulan liburan di rumah ortu, saya tak kuasa menahan godaan nonton maraton film and those cool tv series di TV kabel... hiks. Nah kan... untung nggak pakai TV di rumah, apalagi masang TV kabel.. apa nggak kacau ntar to do list harian..


Di sisi lain, banyak banget artikel kesehatan yang menegaskan bahaya (dan tidak perlunya) batita menonton TV, atau pun melihat screen gadget. Asosiasi dokter anak Amerika dan Kanada bahkan menekankan anak usia 0-2 tahun tidak diperbolehkan terpapar gadget. Untuk kasus TV contohnya, anak dibawah usia dua tahun memerlukan waktu 4-6 detik untuk memamah perubahan warna, gambar dan suara. Sedangkan di TV, perubahan itu terjadi dalam 2-3 detik. Efeknya? Salah satunya bisa mengakibatkan anak kehilangan minat untuk berkonsentrasi pada kegiatan ‘lambat’ seperti membaca. Duh, males banget kan punya anak yang nggak doyan membaca? :)


Efek negatif lainnya bisa dibaca di sini, di sini, di sini, dan di sini.



So you see, it’s not about me and hubby, but Azka also. Mungkin, kalau Azka sudah dua atau tiga tahun ke atas, kami bisa sedikit lebih longgar. Namun, opsinya jelas bukan membiarkan TV dengan beragam channel-nya hadir di rumah kami, ya. Saya lebih memilih pendekatannya Teh Kiki Barkiah; screen TV hanya digunakan untuk mendukung pembelajaran lewat multimedia. Kita bisa unduh materi yang cocok dikonsumsi anak di Youtube, atau manapun itu, untuk diputar di layar TV, bukan memberikan akses anak untuk menonton channel TV. Kalau kata Teh Kiki, dia bilang tidak ingin hidup keluarganya diatur oleh TV. Mau nonton acara ini, harus jam sekian; padahal bisa jadi jam sekian keluarga kita ada agenda lain. Seringnya, agenda keluarga malah tercecer akibat anak mbelani nonton acara TV favoritnya. Nah kan.. Jadi amannya ortunya saja yang memilih konten multimedia untuk anaknya, dan menentukan kapan waktu yang tepat anak boleh menonton, serta berapa lama durasinya :)  Can't be more agree, Teh!


(Ini belum ngomongin konten channel TV dalam negeri yang, ampun deh, nggak ramah banget buat anak-anak ya... Nggak cuma bangsanya sinetron, iklan-iklan aja coba lihat. Banyak banget yang nggak pantas ditonton anak-anak. Padahal, iklan tersebut juga masih banyak yang seliweran selama anak-anak nonton acara TV mereka :'( )


Sekedar sharing, kami sendiri merasakan keuntungan Azka tumbuh dalam lingkungan yang minim terpapar gadget; dia tumbuh dengan alami. Main tanah, main air, lihat belalang... Mayoritas aktivitasnya outdoor. Kalaupun di dalam rumah, dia akan sibuk lari sana sini, utak atik ini itu, bukan terpaku di depan TV. Kemampuan motorik, verbal, rasa ingin tahu, dan logikanya yang berkembang pesat, membuat kami sangat bersyukur :)


Kesimpulannya sih, saya merasa hidup kita sudah banyak sekali 'terjajah' oleh teknologi. Teknologi diciptakan tujuannya untuk mempermudah hidup manusia, kan? Selain mempermudah hidup, teknologi juga seharusnya bikin kita tambah pintar, kualitas hidup meningkat, jadi lebih happy dan lebih-lebih yang positif lainnya. Jadi, ya, balik ke kita yang harus pinter-pinter memilih teknologi apa yang suit our lifestyle, bukan malah lifestyle kita berubah ke arah negatif karena teknologi...



Begitu sih menurut sok taunya saya heheehe...




Mungkin ada yang mau sharing serupa? I'd love to hear ♥