Sunday, September 6, 2026

Kesedihan Tidak Mengenal Tanggal Merah

Hidup harus berjalan walaupun kita sedang ingin bersedih-sedih saja 

Ada piring yang perlu dicuci, ada lantai yang harus disapu, ada tumpukan baju yang perlu disetrika

Hidup terus berjalan walaupun inginnya nangis-nangis seharian

Karena antar jemput sekolah tetap berjalan, anak harus tetap diberi makan, ada rutinitas yang tetap harus dilalui


Hidup terus berjalan walaupun inginnya ada tombol pause

Untuk diam, untuk berhenti, untuk merasakan dan mencerna apa yang sedang terjadi

Hidup akan terus berjalan walaupun yang diinginkan sebenaarnya hanya berbaring cukup lama sembari memproses perasaan, pelan-pelan


Tapi hidup bukanlah playlist yang bisa kita pause dan play sesuka hati

Tanggung jawab tidak lantas berhenti karena kita sedang sedih

Siap atau tidak hidup terus berjalan tanpa kita bisa mengatur kecepatannya

Senyuman karier harus tersungging, wajah everything is purrfect terpasang


Kesedihan tidak mengenal tanggal merah

Sukacita atau duka, bumi akan tetap berotasi tanpa menunggu kita


TI /September 2026

Tapi karena hidup terus berjalan, sedih bahagia kita, putaran jam terus berdetak

Wednesday, April 15, 2026

Hikmah di Balik Ujian

Ramadhan tahun ini bisa dibilang salah satu yang terberat. Secara fisik Allah uji dengan kesehatan yang kurang baik, secara mental ujiannya nggak kalah berat. Namun di balik itu ada berkah luar biasa yang Allah berikan sebagai gantinya, yaitu hati yang tenang dan kesempatan untuk beribadah semaksimal mungkin terutama di 10 hari terakhir. Ini berkah yang sungguh, sungguh, luar biasa mahal harganya.

Tuesday, March 24, 2026

Mengenang Dia yang Mewarnai Hari-Hariku di SMA

Catatan untuk mengenang Putu Ayu Dhana Reswari (Pyut), yang wafat 3 Maret 2026 lalu.


Pyut adalah salah satu sahabat terdekat saya di tahun pertama menjadi siswa SMAN 10 Melati, sebuah boarding school di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami berbagi rasa humor yang sama, ketertarikan akan seni serta kegemaran menulis diary.


Kami sempat punya diary bersama; model yang memiliki gembok kecil dengan kunci. Pyut akan mampir ke kamar saya sebelum berangkat ke sekolah untuk memberikan diary itu, sembari senyum-senyum. Saya akan merasa sangat penasaran; buru-buru membacanya begitu sampai sekolah. Saya akan terkikik-kikik membaca tulisan Pyut tentang harinya, tentang crush-nya atau segala hal receh yang bisa dialami remaja perempuan yang tinggal di asrama. Lalu saya akan mengomentari tulisannya dan ganti menulis curhatan yang kurang lebih sama temanya. Nantinya buku itu akan saya berikan lagi kepada Pyut sebelum apel sore atau malam. Begitu terus selama berbulan-bulan. Hal yang cukup lucu kalau diingat-ingat sebenarnya. Kelas kami bersebelahan, kamar kami berada dalam lorong yang sama; praktis kami bertemu setiap hari. Namun memang tidak ada yang mengalahkan sensasi berbagi rahasia dengan sahabat lewat buku diary.


Saya selalu mengingat Pyut sebagai gadis berkulit hitam manis dengan ransel Billabong navy besar. Kesukaannya pada tas ala surfer ini menguap bertahun-tahun kemudian. Di kamar kosnya di Dharmawangsa, saat kami sama-sama berkuliah di Surabaya, ia pernah berkelakar tidak mengerti kenapa dulu bisa tergila-gila pada tas setengah juta lebih itu. Katanya, dengan nominal yang sama, bisa dapat banyak barang yang lebih murah dan lucu. Terkadang saat main ke kosnya, Pyut akan memamerkan hasil belanjanya yang memenuhi kaidah murah dan lucu itu; bisa berbentuk flat shoes berpita atau atasan ala shabby chic yang memang ngetren kala itu.


Hari itu, agak siang saya baru bisa leluasa membuka-buka socmed. Di grup whatsapp SMA sudah ramai, komting angkatan kami mengumumkan kalau Pyut sedang di ICU. Dada langsung terasa sesak. Mendadak terlintas momen Pyut yang masih SMA dengan rambut diikat di belakang kepala. Berjalan melewati depan kamar di asrama dulu, dengan baju PDH dan ransel besar di punggungnya, ngobrol sambil tertawa-tawa dengan riang. 


Teman-teman yang di Jakarta bergantian mengupdate kondisi Pyut. Beberapa menjenguk ke rumah sakit. Pyut masih di ICU dan belum sadar. Esok malamnya, 3 Maret, suasana di grup angkatan terasa tegang saat kondisi Pyut dikabarkan semakin menurun. Ketegangan itu seketika pecah menjadi tangis ketika kabar yang tak pernah diharapkan itu datang.


Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..


Kepergian Pyut menyisakan syok yang masih berusaha aku olah hingga kini. Kutemukan diriku mengais foto-foto lama kita, Yut.. Ya Allah, kita pernah sangat muda.. Sesak rasanya melihatnya. Seperti baru kemarin kita tertawa-tawa bersama. Remaja yang kekhawatirannya hanya seputar ulangan Matematika. Kita masih sangat belia.. Masa depan masih terasa samar dan panjang. Masih teringat jelas kalau ada sesuatu yang lucu, Pyut bisa ketawa lebar banget, bahkan kadang saking gelinya, sampai nggak keluar suaranya. Masih ingat tulisan Pyut yang rapi banget. Masih ingat pesiar bareng ke Lembuswana atau SCP... 


Photobox waktu pesiar di hari Ahad


Waktu ikut kompetisi mading se-Kaltim di Balikpapan.
Nginepnya di rumah Pyut.


Entah kenapa dari sekian banyak momen, yang paling tajam teringat justru saat kami di kelas 1 SMA. Mungkin karena begitu inginnya aku mengenang Pyut yang ceria dan masih sangat muda, saat kami begitu dekat. Hari-hari di asrama yang terasa panjang tetapi anehnya menyenangkan karena kita punya teman..


Semoga husnul khotimah ya, Yut. Insyaallah kelak kita reuni di surga. Kita akan ngobrol tentang masa hidup kita di dunia, dalam keadaan tanpa letih, tanpa sedih, hanya bahagia yang terasa. Aamin Ya Rabbal alamin..


Miss you always..

Sesungguhnya kami yang masih hidup ini hanya sedang menanti giliran..