Tuesday, March 24, 2026

Mengenang Dia yang Mewarnai Hari-Hariku di SMA

Catatan untuk mengenang Putu Ayu Dhana Reswari (Pyut), yang wafat 3 Maret 2026 lalu.


Pyut adalah salah satu sahabat terdekat saya di tahun pertama menjadi siswa SMAN 10 Melati, sebuah boarding school di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami berbagi rasa humor yang sama, ketertarikan akan seni serta kegemaran menulis diary.


Kami sempat punya diary bersama; model yang memiliki gembok kecil dengan kunci. Pyut akan mampir ke kamar saya sebelum berangkat ke sekolah untuk memberikan diary itu, sembari senyum-senyum. Saya akan merasa sangat penasaran; buru-buru membacanya begitu sampai sekolah. Saya akan terkikik-kikik membaca tulisan Pyut tentang harinya, tentang crush-nya atau segala hal receh yang bisa dialami remaja perempuan yang tinggal di asrama. Lalu saya akan mengomentari tulisannya dan ganti menulis curhatan yang kurang lebih sama temanya. Nantinya buku itu akan saya berikan lagi kepada Pyut sebelum apel sore atau malam. Begitu terus selama berbulan-bulan. Hal yang cukup lucu kalau diingat-ingat sebenarnya. Kelas kami bersebelahan, kamar kami berada dalam lorong yang sama; praktis kami bertemu setiap hari. Namun memang tidak ada yang mengalahkan sensasi berbagi rahasia dengan sahabat lewat buku diary.


Saya selalu mengingat Pyut sebagai gadis berkulit hitam manis dengan ransel Billabong navy besar. Kesukaannya pada tas ala surfer ini menguap bertahun-tahun kemudian. Di kamar kosnya di Dharmawangsa, saat kami sama-sama berkuliah di Surabaya, ia pernah berkelakar tidak mengerti kenapa dulu bisa tergila-gila pada tas setengah juta lebih itu. Katanya, dengan nominal yang sama, bisa dapat banyak barang yang lebih murah dan lucu. Terkadang saat main ke kosnya, Pyut akan memamerkan hasil belanjanya yang memenuhi kaidah murah dan lucu itu; bisa berbentuk flat shoes berpita atau atasan ala shabby chic yang memang ngetren kala itu.


Hari itu, agak siang saya baru bisa leluasa membuka-buka socmed. Di grup whatsapp SMA sudah ramai, komting angkatan kami mengumumkan kalau Pyut sedang di ICU. Dada langsung terasa sesak. Mendadak terlintas momen Pyut yang masih SMA dengan rambut diikat di belakang kepala. Berjalan melewati depan kamar di asrama dulu, dengan baju PDH dan ransel besar di punggungnya, ngobrol sambil tertawa-tawa dengan riang. 


Teman-teman yang di Jakarta bergantian mengupdate kondisi Pyut. Beberapa menjenguk ke rumah sakit. Pyut masih di ICU dan belum sadar. Esok malamnya, 3 Maret, suasana di grup angkatan terasa tegang saat kondisi Pyut dikabarkan semakin menurun. Ketegangan itu seketika pecah menjadi tangis ketika kabar yang tak pernah diharapkan itu datang.


Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..


Kepergian Pyut menyisakan syok yang masih berusaha aku olah hingga kini. Kutemukan diriku mengais foto-foto lama kita, Yut.. Ya Allah, kita pernah sangat muda.. Sesak rasanya melihatnya. Seperti baru kemarin kita tertawa-tawa bersama. Remaja yang kekhawatirannya hanya seputar ulangan Matematika. Kita masih sangat belia.. Masa depan masih terasa samar dan panjang. Masih teringat jelas kalau ada sesuatu yang lucu, Pyut bisa ketawa lebar banget, bahkan kadang saking gelinya, sampai nggak keluar suaranya. Masih ingat tulisan Pyut yang rapi banget. Masih ingat pesiar bareng ke Lembuswana atau SCP... 


Photobox waktu pesiar di hari Ahad


Waktu ikut kompetisi mading se-Kaltim di Balikpapan.
Nginepnya di rumah Pyut.


Entah kenapa dari sekian banyak momen, yang paling tajam teringat justru saat kami di kelas 1 SMA. Mungkin karena begitu inginnya aku mengenang Pyut yang ceria dan masih sangat muda, saat kami begitu dekat. Hari-hari di asrama yang terasa panjang tetapi anehnya menyenangkan karena kita punya teman..


Semoga husnul khotimah ya, Yut. Insyaallah kelak kita reuni di surga. Kita akan ngobrol tentang masa hidup kita di dunia, dalam keadaan tanpa letih, tanpa sedih, hanya bahagia yang terasa. Aamin Ya Rabbal alamin..


Miss you always..

Sesungguhnya kami yang masih hidup ini hanya sedang menanti giliran..


Thursday, April 19, 2018

At 4 AM

Subhanallah berdebunya... *elap-elap blog

Banyak postingan masih ngendon as a draft menunggu kapan diselesaikan *entah kapan hiks..

Emaknya Azka masih berjuang untuk memenej waktu dengan dua bocah...


By the way sekarang bisa nulis karena Malik, si dedeknya Azka itu tetiba bangun jam 1 pagi dan menolak untuk tidur lagi... sampai jam 3. Bukan kebiasaannya (syukurlah), walaupun tidak bisa dibilang mengagetkan juga..

Si Emak agak kurang makan dan istirahat today, which turns out berkurangnya produksi ASI. Si anaka lanang pun jadi kelaperan tengah malam :(

But still...he was the cutest even if he refused to back to sleep easily. Love you my Malik Ibrahim 

Maliknya senyum-senyum aja kalau digodain, enggak nangis yang kejer gimana gitu. Tapi kalau emaknya udah mulai ngantuk, dan bisik-bisik, "dede bobok yah.." doi nangis dah.
Soleh ya nak..biar ga kesiangan tahajudnya nih Ummi disuruh bangun pagi buta.

Nggak kerasa sudah bulan April ya? Katanya kalau kita menikmati sesuatu, maka akan terasa cepat. How I hope my kiddos didn't grow up so fast.. Ngeliat Azka..jadi mellow. Udah besar ya anak gue, tahun ini masuk TK :( Rasanya masih pengen peluk-peluk doi terus..
Liat Malik..lah kayaknya baru kemarin lahiran, kok udah tiga bulan aja nih bocah..


Memang ya dunia ini cuma persinggahan sebentaaar aja.

Semoga nanti kita dikumpulkan di surganya Allah semua ya Nak..
Sekarang Ummi sabar-sabar dulu kalian tinggal dewasa :(



Tertanda,
Ummi yang lagi mellow

Friday, December 22, 2017

Lima

Hari ini, lima tahun silam, dengan tersuruk-suruk saya berjalan ke kamar mandi untuk berendam dengan air ratus (atau apapun itu) sebelum menunaikan solat subuh terakhir dalam kondisi sebagai seorang single. Dalam bak air hangat yang disiapkan Ibu untuk menyambut hari spesial itu, pikiran saya campur aduk antara, literally, pusing karena kurang tidur (semalam begadang mengerjakan hiasan untuk photobooth resepsi), sampai ke segala perasaan absurd yang mungkin dirasakan oleh semua calon pengantin. To be short, setelah subuh ibu-ibu perias datang, saya mulai dirias, dan segala sesuatunya mulai terasa cepat sejak saat itu.


I won't say cheesy things like I love you, I promise. After these years, cinta itu menjadi sesuatu yang kadang terasa unreal dan susah terdefinisi (apalagi kalau lagi-lagi lihat baju kotor geletakan tidak pada tempatnya). 


Saat memutuskan untuk menerima pinanganmu dulu, saya tahu bahwa menikah bukanlah melulu piknik bertaburan cahaya matahari di padang rumput berbunga, tetapi tetap saja badai yang datang mengagetkan. Namun darinya saya belajar bahwa pernikahan adalah lifetime journey, bahwa segala kebahagiaan atau apapun yang ingin kita rasakan dalam pernikahan, haruslah diusahakan. Kalau sekedar manis-manisnya pengantin baru, rasanya kita sudah selesai di tiga bulan pertama ketika pertama kali berantem hebat ya, Bi, wkwkw.. But, that's the commitment we make, dear, yang membuat kita bertahan selama ini. Belajar, belajar, dan belajar terus untuk saling memahami, saling menyesuaikan, to make this marriage works.



Semoga pernikahan ini berkah..
Kita bisa bertumbuh bersama anak-anak..
Menjadi orangtua yang solih-solihah, dan mencetak generasi yang demikian pula..
Semoga perubahan apapun yang terjadi pada diri kita, adalah perubahan ke arah kebaikan.


Selamat tanggal 22 yang kelima..
Sakinah mawaddah wa rahmah till Jannah, Insyaallah :)