Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Wednesday, April 15, 2026

Hikmah di Balik Ujian

Ramadhan tahun ini bisa dibilang salah satu yang terberat. Secara fisik Allah uji dengan kesehatan yang kurang baik, secara mental ujiannya nggak kalah berat. Namun di balik itu ada berkah luar biasa yang Allah berikan sebagai gantinya, yaitu hati yang tenang dan kesempatan untuk beribadah semaksimal mungkin terutama di 10 hari terakhir. Ini berkah yang sungguh, sungguh, luar biasa mahal harganya.

Tuesday, March 24, 2026

Mengenang Dia yang Mewarnai Hari-Hariku di SMA

Catatan untuk mengenang Putu Ayu Dhana Reswari (Pyut), yang wafat 3 Maret 2026 lalu.


Pyut adalah salah satu sahabat terdekat saya di tahun pertama menjadi siswa SMAN 10 Melati, sebuah boarding school di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami berbagi rasa humor yang sama, ketertarikan akan seni serta kegemaran menulis diary.


Kami sempat punya diary bersama; model yang memiliki gembok kecil dengan kunci. Pyut akan mampir ke kamar saya sebelum berangkat ke sekolah untuk memberikan diary itu, sembari senyum-senyum. Saya akan merasa sangat penasaran; buru-buru membacanya begitu sampai sekolah. Saya akan terkikik-kikik membaca tulisan Pyut tentang harinya, tentang crush-nya atau segala hal receh yang bisa dialami remaja perempuan yang tinggal di asrama. Lalu saya akan mengomentari tulisannya dan ganti menulis curhatan yang kurang lebih sama temanya. Nantinya buku itu akan saya berikan lagi kepada Pyut sebelum apel sore atau malam. Begitu terus selama berbulan-bulan. Hal yang cukup lucu kalau diingat-ingat sebenarnya. Kelas kami bersebelahan, kamar kami berada dalam lorong yang sama; praktis kami bertemu setiap hari. Namun memang tidak ada yang mengalahkan sensasi berbagi rahasia dengan sahabat lewat buku diary.


Saya selalu mengingat Pyut sebagai gadis berkulit hitam manis dengan ransel Billabong navy besar. Kesukaannya pada tas ala surfer ini menguap bertahun-tahun kemudian. Di kamar kosnya di Dharmawangsa, saat kami sama-sama berkuliah di Surabaya, ia pernah berkelakar tidak mengerti kenapa dulu bisa tergila-gila pada tas setengah juta lebih itu. Katanya, dengan nominal yang sama, bisa dapat banyak barang yang lebih murah dan lucu. Terkadang saat main ke kosnya, Pyut akan memamerkan hasil belanjanya yang memenuhi kaidah murah dan lucu itu; bisa berbentuk flat shoes berpita atau atasan ala shabby chic yang memang ngetren kala itu.


Hari itu, agak siang saya baru bisa leluasa membuka-buka socmed. Di grup whatsapp SMA sudah ramai, komting angkatan kami mengumumkan kalau Pyut sedang di ICU. Dada langsung terasa sesak. Mendadak terlintas momen Pyut yang masih SMA dengan rambut diikat di belakang kepala. Berjalan melewati depan kamar di asrama dulu, dengan baju PDH dan ransel besar di punggungnya, ngobrol sambil tertawa-tawa dengan riang. 


Teman-teman yang di Jakarta bergantian mengupdate kondisi Pyut. Beberapa menjenguk ke rumah sakit. Pyut masih di ICU dan belum sadar. Esok malamnya, 3 Maret, suasana di grup angkatan terasa tegang saat kondisi Pyut dikabarkan semakin menurun. Ketegangan itu seketika pecah menjadi tangis ketika kabar yang tak pernah diharapkan itu datang.


Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..


Kepergian Pyut menyisakan syok yang masih berusaha aku olah hingga kini. Kutemukan diriku mengais foto-foto lama kita, Yut.. Ya Allah, kita pernah sangat muda.. Sesak rasanya melihatnya. Seperti baru kemarin kita tertawa-tawa bersama. Remaja yang kekhawatirannya hanya seputar ulangan Matematika. Kita masih sangat belia.. Masa depan masih terasa samar dan panjang. Masih teringat jelas kalau ada sesuatu yang lucu, Pyut bisa ketawa lebar banget, bahkan kadang saking gelinya, sampai nggak keluar suaranya. Masih ingat tulisan Pyut yang rapi banget. Masih ingat pesiar bareng ke Lembuswana atau SCP... 


Photobox waktu pesiar di hari Ahad


Waktu ikut kompetisi mading se-Kaltim di Balikpapan.
Nginepnya di rumah Pyut.


Entah kenapa dari sekian banyak momen, yang paling tajam teringat justru saat kami di kelas 1 SMA. Mungkin karena begitu inginnya aku mengenang Pyut yang ceria dan masih sangat muda, saat kami begitu dekat. Hari-hari di asrama yang terasa panjang tetapi anehnya menyenangkan karena kita punya teman..


Semoga husnul khotimah ya, Yut. Insyaallah kelak kita reuni di surga. Kita akan ngobrol tentang masa hidup kita di dunia, dalam keadaan tanpa letih, tanpa sedih, hanya bahagia yang terasa. Aamin Ya Rabbal alamin..


Miss you always..

Sesungguhnya kami yang masih hidup ini hanya sedang menanti giliran..


Thursday, April 19, 2018

At 4 AM

Subhanallah berdebunya... *elap-elap blog

Banyak postingan masih ngendon as a draft menunggu kapan diselesaikan *entah kapan hiks..

Emaknya Azka masih berjuang untuk memenej waktu dengan dua bocah...


By the way sekarang bisa nulis karena Malik, si dedeknya Azka itu tetiba bangun jam 1 pagi dan menolak untuk tidur lagi... sampai jam 3. Bukan kebiasaannya (syukurlah), walaupun tidak bisa dibilang mengagetkan juga..

Si Emak agak kurang makan dan istirahat today, which turns out berkurangnya produksi ASI. Si anaka lanang pun jadi kelaperan tengah malam :(

But still...he was the cutest even if he refused to back to sleep easily. Love you my Malik Ibrahim ♥

Maliknya senyum-senyum aja kalau digodain, enggak nangis yang kejer gimana gitu. Tapi kalau emaknya udah mulai ngantuk, dan bisik-bisik, "dede bobok yah.." doi nangis dah.
Soleh ya nak..biar ga kesiangan tahajudnya nih Ummi disuruh bangun pagi buta.

Nggak kerasa sudah bulan April ya? Katanya kalau kita menikmati sesuatu, maka akan terasa cepat. How I hope my kiddos didn't grow up so fast.. Ngeliat Azka..jadi mellow. Udah besar ya anak gue, tahun ini masuk TK :( Rasanya masih pengen peluk-peluk doi terus..
Liat Malik..lah kayaknya baru kemarin lahiran, kok udah tiga bulan aja nih bocah..


Memang ya dunia ini cuma persinggahan sebentaaar aja.

Semoga nanti kita dikumpulkan di surganya Allah semua ya Nak..
Sekarang Ummi sabar-sabar dulu kalian tinggal dewasa :(



Tertanda,
Ummi yang lagi mellow

Friday, December 22, 2017

Lima

Hari ini, lima tahun silam, dengan tersuruk-suruk saya berjalan ke kamar mandi untuk berendam dengan air ratus (atau apapun itu) sebelum menunaikan solat subuh terakhir dalam kondisi sebagai seorang single. Dalam bak air hangat yang disiapkan Ibu untuk menyambut hari spesial itu, pikiran saya campur aduk antara, literally, pusing karena kurang tidur (semalam begadang mengerjakan hiasan untuk photobooth resepsi), sampai ke segala perasaan absurd yang mungkin dirasakan oleh semua calon pengantin. To be short, setelah subuh ibu-ibu perias datang, saya mulai dirias, dan segala sesuatunya mulai terasa cepat sejak saat itu.


I won't say cheesy things like I love you, I promise. After these years, cinta itu menjadi sesuatu yang kadang terasa unreal dan susah terdefinisi (apalagi kalau lagi-lagi lihat baju kotor geletakan tidak pada tempatnya). 


Saat memutuskan untuk menerima pinanganmu dulu, saya tahu bahwa menikah bukanlah melulu piknik bertaburan cahaya matahari di padang rumput berbunga, tetapi tetap saja badai yang datang mengagetkan. Namun darinya saya belajar bahwa pernikahan adalah lifetime journey, bahwa segala kebahagiaan atau apapun yang ingin kita rasakan dalam pernikahan, haruslah diusahakan. Kalau sekedar manis-manisnya pengantin baru, rasanya kita sudah selesai di tiga bulan pertama ketika pertama kali berantem hebat ya, Bi, wkwkw.. But, that's the commitment we make, dear, yang membuat kita bertahan selama ini. Belajar, belajar, dan belajar terus untuk saling memahami, saling menyesuaikan, to make this marriage works.



Semoga pernikahan ini berkah..
Kita bisa bertumbuh bersama anak-anak..
Menjadi orangtua yang solih-solihah, dan mencetak generasi yang demikian pula..
Semoga perubahan apapun yang terjadi pada diri kita, adalah perubahan ke arah kebaikan.


Selamat tanggal 22 yang kelima..
Sakinah mawaddah wa rahmah till Jannah, Insyaallah :)

Saturday, December 9, 2017

Personal Note

Only Allah knows,

how I miss taking notes whilst listening to the professor..
reading tons of literature in the library..
how I miss taking English class (and maybe start over my French too)..


how I dreams the chance of being a student once again.

Student who literally sitting in the class..


[it's raining outside, it gives me blue]

Monday, September 25, 2017

How to Balance

This afternoon I was stalking along some of my favorite Instagram accounts. I jumped to kekekania’s and strolling around her timeline until one post; in which she answers question from people who asked how to balance works and family (since she looks very good in both of it). And her response was like, “What balance? My Gawd..it’s a mess!!"

Haha..

A nice-growing one business, happy family with two kids and husband who able to cook, not to mention always looks good in her comfy-effortless working outfit, it’s easy to people judging that way. Including me, who always think that how amazing any woman can gain that much energy (and still stay sane). Well, it‘s bit relieving later to know that it may not be 100% true :)) (Then I guess, there’s hope for woman like me :p)

Keke said that she doesn’t want to give up on her dreams, yet she tries her best to be present for her kids. I think this is sum up everything. My dream, your dream, our dreams were as valuable as others. Not because of marriage, nor having kids, we should stop.

Maybe it will be harder to reach,
Maybe it looks so far, far away, you have no idea will you reach it someday,
Or maybe you need a little arrangement to fit in your condition nowadays..

But just don’t give up on it.


Of course there will be a mess, who doesn't? Every woman does. It's just (mostly) social media covered it well. Keep on rolling, running, walking even crawling; just simply keep on moving to try balance things. 

If it’s makes you happy, if you think it’s makes your life worth it, more if you think it will become the legacy you want your kids inherited, go for it, mama :)





Work hard for it, and give the best for your family *smooch x


Tuesday, July 4, 2017

Jilid Dua

Insyaallah kalau masih rezeki, sekarang saya sedang mengandung anak kedua hehe..

Agak berbeda dari waktu hamil Azka, kali ini saya mengalami yang namanya mual-mual cukup parah. Dari bau nasi ditanak, parfum yang dipakai Abinya ke masjid, sampai liat layar hape/laptop kelaamaan, semua sukses bikin mulut mendadak terasa asam dan lambung bergolak. Hiks...

Ada salah satu temen yang kebetulan juga mualnya parah, sempet bilang kalau kata dokternya, bisa jadi mual parah itu karena kondisi ibu yang kurang fit saat hamil. Hmm...bisa jadi..

Saat hamil Azka saya masih rajin olahraga. Karena waktu itu kami sempat mengalami kondisi belum punya motor, jadi saya kemana-kemana naik sepeda atau jalan kaki. Bahkan saat akhirnya punya motor, saya masih sering jalan atau sepedaan. Pasalnya, kondisi kontrakan kami dulu garasinya curam dan sempit, jadi selalu bikin deg-degan kalau masuk atau mengeluarkan motor (saya beberapa kali terpeleset). Plus...saat itu juga belum pakai ART :D

Nah kalu si dedek ini 'jadi'-nya saat saya dalam kondisi yang lebih nyaman. Motor ada, rumah udah pindah..ada Azka pula! Jadi kemana-mana ya naik motor karena udah ada bontotan. Sempet sih dulu ngerutinin joging saban habis subuh, sampai dibelain beli runinng shoes segala biar semangat HAHA. Tapi ujung-ujungnya brenti karena...males :p Abinya Azka sih udah bolak-balik nawarin ngebeliin treadmill, cuma sayanya bingung, eta mau ditaruh di manaaa.. Secara rumah secuil gini dan udah banyak dijajah sama dagangan..

Trus lagi kalau saya boleh sok tau nih... Memang sih ya si dedek ini emg hasil program, karena kami ngerasa udah siaplah Insyaallah nambah anak lagi. Tapii..tetep aja kurang preparationnya, karena berkaca dari pengalaman anak pertama yang jadi after 7 bulan :D, saya pribadi nggak ngira kalau bakal langsung jadi :)) Let's say ini coba-coba berhadiah haha..(maap ya dee..)

Kondisi kerjaan waktu itu lagi hectic-hecticnya karena mau ramadhan; saya sempet cukup under pressure dan overwork, jadi yang namanya telat makan atau makan ala kadarnya itu sering banget :(
To be short, di tengah itu semua saya menemukan dua garis di testpack dua rebuan, yang akhirnya menjawab 'masuk angin' tak berkesudahan in the last two weeks, dan drop luar biasa yang saya alami ketka puasa tanpa sahur (kesiangan); it turns out something is growing inside of me. Alhamdulillah :D


Banyak drama, bahkan sampai sekarang. But I'm doing my best and thank's God, it's progressing!


Wish me a healthy and happy preganancy ya :D


Monday, April 24, 2017

Ketika Azka Bertanya


Bismillah..

Sekedar pengingat bahwa ada begitu banyak milestone luar biasa dalam perkembangan Azka.. :’)
Semenjak Azka berusia 2,5 tahun hingga kini genap  tiga tahun, kemampuan verbalnya makin meningkat; pun kalau boleh dibilang logikanya dalam menanggapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya.


Saya dan Abinya Azka sepakat untuk tidak memperlakukan Azka sebagai anak kecil, tetapi sebagai orang dewasa mini dalam beberapa hal. Kami percaya bahwa anak adalah makhluk tercerdas. Jadi insyaallah kami sebisa mungkin berusaha menjawab berbagai pertanyaan ajaib Azka sebagaimana jawaban seharusnya; bukan dengan jawaban ngasal yang penting anak diem. Walaupun konsekuensinya, itu bisa menimbulkan banyak pertanyaan baru dari Azka, yang biasanya bikin tambah pusing hihihi.. Untungnya pusing yang nikmat.. :D

Kami sangat menikmati bagaimana Azka mencerna berbagai jawaban lalu mengolahnya dalam logika berpikir versinya. Masya Allah, luar biasa apa yang kadang keluar dari bibirnya sungguh seringkali membuat kami terperanjat, geli, merasa takjub bahwa makhluk semuda ini bisa berpikir demikian. Masya Allah..

Saya yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Azka di rumah, lebih sering menjadi saksi mata momen-momen ajaib ini. Biasanya di atas kasur menjelang tidur siang, adalah waktunya Azka reading time shirah atau kisah para nabi. Seringkali di tengah-tengah bercerita timbul berbagai pertanyaan maupun jawaban yang luar biasa menghibur. Sayangnya, saya tak banyak mendokumentasikan secara riil peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga akhirnya ingatan manusialah yang membodohi kita semua. Hanya ada beberapa potongan yang kadang teringat. Salah satunya saat kami sedang membaca kisah Maryam, fragmen melahirkan Nabi Isa a.s.

Saturday, December 31, 2016

When I am Turning 28

Once you grow up, age is just a number
-Anonim-

Hari ini saya berulang tahun, lho..
Keberapa?
28

Haha..tuwir ngggak sih? *cek kerutan*

Keliatan tua kalau diliat hobi saya belakangan ini untuk mantengin serum-serum yang menjual kata macam'youthful glowing skin, rejuvenate, etc. Hihi...
Muda, kalau dibandingan sama ibu saya *iyain aja deh yaa

But literally, I agree with the first phrase I wrote. Age is just a number.


Emang kalau tambah tua trus mau bete? Wong sudah sunatullah waktu kita makin berkurang di dunia ini
Mau ngerayain? Lha akhiratnya makin deket, jatah idup makin tipis, kok malah dirayain?

Bersyukur? Pasti. 
Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri..
Masih dikasih kesempatan untuk ngumpul sama keluarga dan teman-teman tersayang..sambil nyiapin bekal buat ‘pulang’ ke rumah yang sebenarnya!


Di usia 28 ini saya merasa lebih dewasa. (boleh ditanyain ke suami saya. Kalau dijawab enggak, info ya, biar saya getok palanya hihi #becanda)
When I look back, banyak hal-hal yang I wish I would’ve done. Bener ternyata kata para tetua, kita akan lebih menyesal terhadap hal-hal yang nggak kita lakuin ketimbang yang kita lakuin tapi salah. Ya tapi karena kita nggak bisa turning back the time, the best thing I can do now is do it right now. Better late than never.
Starting up home based business is one of the example..
Ngafalin Quran..(entah nutut enggak umurnya, tapi yang penting usaha dulu. Masa mau anaknya jadi hafizh/ah, ortunya kagak ikut belajar? Malu kan ya..)
Belajar bahasa..

And the list will goes on..


Selain itu, ada juga momen-momen di masa lalu yang bikin saya kangen setengah mati sampai sakit perut. Momen yang biasanya dipicu karena buka-buka album foto lama. Ngeliat jejeran foto itu bikin saya mikir 'Ya Allah, gue pernah muda ya banget ya..'.  Kayak nggak punya beban, like I will live forever. Muka masih polos banget belum kenal krim malam pencegah kerutan. Paling yang dipikirin kalo nggak ulangan ya tugas dari dosen yang dikumpulin besok hihi. Muka-muka belum sampai umur 20. Ah, berasa baru kemarin umur segitu, tapi di saat yang sama juga terasa lama. Udah 10 tahun lebih ternyata..#mendadak mellow


Skip skip. Back to present.


Yang jelas di usia 28 tahun ini masih banyak hal yang pengen saya capai. Walaupun proporsinya nggak melulu soal dunia, ya. Kalaupun urusan dunia, ya harus yang bisa mepercepat laju ke surga. Pokoknya milad harus selalu jadi refleksi dan cambuk kalau esok harus lebih baik dari kemarin, dengan rencana yang jelas dan aksi yang terstruktur untuk mencapai tujuan... 


Moga-moga Allah paringi kemudahan.. 



Happy birthday to myself :’)



Monday, July 11, 2016

Maafkan Kalau Saya Tidak Seasyik Dulu

Pagi ini saya membaca sebuah quote yang dijadikan profpic Whatsapp salah satu kawan. My fault,  nggak buru-buru nge-skrinsut gambarnya (udah keburu diganti), jadi hanya mengandalkan ingatan emak-emak aja untuk tahu gimana persisnya bunyinya...

Yah, afterall... kurang lebih kalimatnya seperti ini:

Aku sedang berhijrah, belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Maafkan aku apabila tidak seasyik dulu.



Saya menimbang-nimbang... Mungkinkah itu mewakili perasaan saya juga?

Teringat jaman kuliah dulu; kruntelan di bangku kampus... nonton konser lantas pulang larut malam.. Definisi seru tak jauh-jauh dari gegosipan kalau tidak ada kelas, nge-mall berjam-jam...


Maafkan, kawan, kalau aku tidak seasyik dulu..


Bukan mau sok sibuk atau tidak menghargai pertemuan kita sebagai sesama kawan yang jarang bersua.. Namun pabila kewajiban silaturahim tertuntaskan, dan kita telah saling bertukar kabar dan melepaskan rindu, apakah tak lebih baik kita sudahi saja pertemuan itu? Karena seringnya kita lalu mencari-cari bahan pembicaraa; mengorek-ngorek entah masa lalu atau masa kini yang nggak penting-penting banget buat dibahas... kebanyakan jadi ghibah deh ujungnya...

Dan bukannya tidak mau memenuhi undangan hangout... tetapi sekarang memang lebih selektif. Saya punya suami dan anak; perasaan dan urusan mereka sekarang harus lebih saya utamakan...


Maafkan kalau saya tidak seasyik dulu


Tapi kalian, arti kalian buat saya, masih akan tetap sama...

Masa-masa yang kita lewatkan dulu masih akan tetap indah dalam kenangan... walaupun tidak perlu saya ulangi lagi :)



Maaf ya teman-teman...



Thursday, June 2, 2016

Kenapa Harus S2 di Luar Negeri?

Beberapa waktu yang lalu, salah satu kawan saya di komunitas menulis mengabarkan bahwa beliau sedang dalam proses seleksi beasiswa sekolah ke luar negeri. Tidak perlu saya sebut namanya, karena si mbak satu ini mungkin akan baca tulisan ini juga hehe...

Di kota kecil seperti Tuban, menemukan orang dengan mimpi besar seperti si mbak ini adalah hal yang cukup langka buat saya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Melanjutkan sekolah ke luar negeri rasa-rasanya menjadi mimpi banyak mahasiswa, termasuk saya. Selepas kuliah, saya berencana melanjutkan kuliah jenjang strata dua di Australia (maunya..hehe..). Namun qadarullah saya bertemu jodoh cukup cepat sehingga selepas wisuda, hanya selang dua bulan, kami menikah. Saya lantas memilih untuk ikut suami merantau ke kota kecil yang namanya belum familiar buat saya, apalagi letaknya dalam peta (saya emang nggak pinter Geografi dari dulu).

Setelah menikah saya banyak disibukkan oleh aktivitas rumah tangga, terlebih pasca memiliki anak. Melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi semakin terasa jauh... walaupun jujur saya akui, dalam lubuk hati yang terdalam, mimpi itu masih ada. Come on... siapa sih yang nggak pengen sekolah di luar negeri, apalagi kalau dibayarin?

Beberapa kawan dan adik kelas saya ada yang mendapatkan kesempatan berharga ini. Foto-foto mereka cukup bikin saya mupeng hehe... Namun, saya tahu, ada harga yang harus dibayar untuk itu. Tak semua seindah foto di Instagram...

Saya baca sendiri perjuangan temen saya Tika untuk mendapatkan tiket beasiswanya. Usaha kerasnya terbayar ketika ia akhirnya bisa kuliah di negeri Ratu Elizabeth. Tulisan tentang perjuangannya mendapatkan beasiswa terasa keras (dan kadang getir), tetapi saya menemukan sisi melankolis yang terselip. Salah satunya ketika Tika bilang (correct me, ya Tik), alasannya memilih Southampton University salah satunya karena ada program yang memungkinkan ia lulus dalam setahun. Sehingga, ia tidak perlu terlalu lama berjauhan dari keluarganya. Ya, Tika memang sudah bersuami...

Beberapa teman yang lain cukup beruntung karena memiliki pasangan yang bisa diajak serta merantau ke luar negeri. Paling nggak, homesick-nya ada yang nemenin hehe...

Sebenernya bukan poin keluarga saja yang membuat saya agak berat untuk 'berjuang' supaya bisa sekolah lagi di negara seberang. Namun, justru alasan paling mendasarlah yang belum bisa saya jawab hingga saat ini; kenapa harus S2? Atau lebih tepatnya, kenapa harus S2 ke luar negeri? Lupakanlah soal jawaban general 'saya ingin menuntut ilmu lebih tinggi'; saya yakin tidak akan meyakinkan penguji beasiswa manapun...
Saya bukanlah pendidik yang mungkin selepas kuliah bisa mendarma baktikan ilmunya kepada para anak didiknya...
Saya juga bukan wanita karier yang bisa mengimplementasikan ilmunya di tempat kerjanya...
Saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang suka menggambar dan menulis, serta sedang belajar berbisnis. Saya belum menemukan 'it' point yang membuat saya berbeda dengan para pemburu beasiswa lainnya...


Saya cuma ingin..


sekolah lagi..


merasakan sekali lagi duduk di bangku, memegan pena dan mencatat..
tenggelam dalam lautan buku di perpustakaan, menghirup aromanya yang sangat saya suka..
saya ingin berjalan-jalan di taman kampus..
dengan ransel terpanggul penuh buku; duduk di rerumputan dan membaca..

Saya rindu begadang menulis paper..
Saya kangen dengan rutinitas akademik, menyedot ilmu dari para dosen..
mengalami 'aha!' momen sekali lagi dalam kelas..


Tapi saya tidak ingin (atau belum ingin),
mengalami semua itu dalam beban kekhawatiran apakah Azka sudah makan dengan cukup..
apakah Azka masih TV-free and gadget-free
apakah Azka masih hidup sesuai standar yang saya tetapkan, sama seperti ketika saya di sampingnya..
dan begitu juga Abinya Azka..

Saya sadar bahwa kedua hal tersebut akan sulit dicapai dalam kondisi sekarang..
Kondisi saya yang sekarang..

Jadi, saya cukup puas dengan kata-kata Abinya Azka bahwa semua ada waktunya, dan mungkin bukan sekarang waktu saya..tapi saya tahu bahwa waktu itu pasti akan ada!
Sementara waktu itu datang, saya bisa memikirkan masak-masak pertanyaan "kenapa saya harus S2 di luar negeri?" :))




Anyway, Mbak Nur, semoga sukses berburu tiket ke Leidennya, ya! xoxo


Friday, May 20, 2016

#ngapainaja ?

Masihh teteup jadi full time housewife and part time everything else kok :D

Handphone yang biasa buat ngeblog masih belum berhasil dibenerin, dan komputer juga makin sering macet, jadi agak susah buat ngeblog.

By the way, belakangan ini saya lagi asyik belajar jualan, dan bantu-bantu temen yang butuh jasa desain. Lumayan bikin keinget masa-masa dikejar deadline tugas kuliah hehe..


Lagi mulai merasakan juga 'beratnya' menjadi seorang ibu. Si Azka yang umurnya genap dua tahun April lalu, mulai bertransformasi menjadi sosok batita yang punya banyaaakk keinginan, keingintahuan, yang kadang-kadang emaknya kurang sabar menghadapinya #istighfar.

Soal Azka ini, memang harus banyak-banyak istighfar. Sebagai orang tua baru, saya merasa harus terus mengingatkan diri saya bahwa anak-anak bukanlah perangkat elektronik yang kalau kita pencet bisa diem, bisa langsung nurut maunya kita. Anak-anak adalah orang dewasa versi kecil. Kadang saya sediih banget kalau habis kelepasan marah sama Azka. Apalagi kalau setelah itu liat Azka yang lagi tidur. Haduh...:( Kayaknya semua ortu (terutama ibu) pasti punya sejuta penyesalan. Merasa berdosa, merasa jadi ibu yang jahat, karena belum bisa sabar menghadapi para bocah itu :(


'He is just a kid...' I remind myself over and over...


Namun entah mengapa kadang terasa berat memakluminya. Kala raga lelah, pikiran penat, lantas melihat si bocah bertingkah, rasanya jadi lupa bahwa ia adalah sosok mungil yang sangat kita harapkan kehadirannya. Dia, yang kita elus mesra saat masih di dalam perut, sambil bergumam, 'sehat-sehat, ya, Nak'. Tangisnya saat bayi dulu yang terdengar amat lucu, mengapa sekarang malah membuat kita ingin kabur dari rumah alih-alih menghiburnya?


Saat tidurlah, saat mata si bocah terpejam.-mata yang sama, yang beberapa jam lalu mengerlip jail- terasa damai ia nampaknya, seolah waktu berputar ke sekian waktu silam dan kita kembali sadar bahwa ia masih kanak-kanak.


Seorang teman berkata, "perlakukanlah anakmu dengan sabar, karena itulah cerminan bagaimana ia akan memperlakukan dirimu di masa tua".

#istighfar



Maaf untuk segala ketidaksabaran Ummi, ya, Nak. Segala kekurangan Ummi, salah Ummi sendiri. Semoga Ummi masih selalu diberi waktu untuk belajar menjadi the best ummi that Azka can have.
I love you, Nak, so much...*mewek*


Friday, February 19, 2016

:'(

Belakangan ini perasaan saya sering nggak karuan..
Lebih tepatanya, saya sering sedih belakangan ini..
Lebih banyak mikir soal kiamat, soal masa depan, soal kontrak di bumi.
Soal diri saya, keluarga, dan terutama Azka
Melihat tangan saya..rasanya lemah sekali.
Merasa nggak sanggup unuk menyelamatkan mereka semau.. orang-orang yang saya cintai..

Ingat kata beberapa ustadz;
“Kita ini sebenarnya penduduk langit..di bumi hanya sementara..cuma numpang”
Ya Allah.. nggak sabar rasanya untuk ‘pulang’
Kadang rasanya dada sampai sesak..mikirin betapa dunia semakin nggak nyaman untuk ditinggali..

Barusan ngomong sama Abinya Azka;
“Bii, kl kita meninggal dengan wajar..mungkin karena usia tua, kira-kira kita meninggal umur 70an kali ya..
Berarti kira-kira masih 50 taunan lagi kita hidup di dunia, dong?”
Kurun waktu itu rasanya lama sekali
Sudah seperti apakah dunia ini?
Sementara sekarang aja rasanya nggak karu-karuan

Ngelihat Azka tidur..jadi sedih banget..
Ini anak..masih kecil..akan hidup di masa yang semakin penuh perselisihan..
Ya Allah..kuatkan hamba untuk mendidiknya..menyiapkannya..
Sesungguhnya ya Allah..
Aku amat sangat mencintainya..
Tidak ingin kehilangannya.. ingin selalu bersamanya.. di dunia dan akhirat..
Ya Allah..betapa kami harus bersabar hidup di dunia
Maka kuatkanlah kami Ya Allah..
Agar selalu lurus di jalanMu
Tetap dalam fitrah kami  
Supaya kami semua bisa meninggal khusnul khotimah..
Supaya kami semua bisa berkumpul lagi di jannahMu..

Ya Allah..
Betapa sesak hati hamba
Maka ringankanlah beban ini ya Allah
Berilah kami kekuatan dan kesabaran

Aamiin...


Thursday, December 31, 2015

Happy Birthday.. Me!

Yesterday, I read Diana Rikasari blog post about her birthday. She said that in her birthday this year, she didn't feeling like sort of celebrating it because she was too busy focusing on her son in the entire year. And you know, I guess I do feel that..

----------------------------------------------------------------------------

People said it tons times; raising kids is not a joke. It takes your energy, your time, your emotion, simply it takes you. There were days when I was feeling like that I am drained. But this is what we should do, right? Or at least this is what I choose to do..

Due kids' golden years (until they are 5 years old approximately), I commit to myself to take Azka as my first priority, above all. So it's not about how balancing between kids and work life (or whatever); it is Azka first, and everything else can wait.


Of course its easy to say but sometimes hard to do. But I keep reminding myself; it is only couple of years until he can play or doing everything by himself, then I can have my me-time as much as I want..

It is a 'sacrifice' at first that will determine what Azka will be in the future..

That this is maybe a hard times for now...but surely I will miss it someday. And I don't want to feel sorry for that..

And because, after a long-tiring day, seeing he sleep peacefully still the most heartwarming things that keep me going :)



So you see... how can I thinking about petty things like my birthday when I have something big to take care of everyday? :)))




But anyway... do you think it is a bit unfair to let birthday slip by without something uncommon?? Gonna ask hubby if I can have a bowl of Yoshinoya then :p