Ramadhan tahun ini bisa dibilang salah satu yang terberat. Secara fisik Allah uji dengan kesehatan yang kurang baik, secara mental ujiannya nggak kalah berat. Namun di balik itu ada berkah luar biasa yang Allah berikan sebagai gantinya, yaitu hati yang tenang dan kesempatan untuk beribadah semaksimal mungkin terutama di 10 hari terakhir. Ini berkah yang sungguh, sungguh, luar biasa mahal harganya.
Wednesday, April 15, 2026
Hikmah di Balik Ujian
Tuesday, March 24, 2026
Mengenang Dia yang Mewarnai Hari-Hariku di SMA
Catatan untuk mengenang Putu Ayu Dhana Reswari (Pyut), yang wafat 3 Maret 2026 lalu.
Pyut adalah salah satu sahabat terdekat saya di tahun pertama menjadi siswa SMAN 10 Melati, sebuah boarding school di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami berbagi rasa humor yang sama, ketertarikan akan seni serta kegemaran menulis diary.
Kami sempat punya diary bersama; model yang memiliki gembok kecil dengan kunci. Pyut akan mampir ke kamar saya sebelum berangkat ke sekolah untuk memberikan diary itu, sembari senyum-senyum. Saya akan merasa sangat penasaran; buru-buru membacanya begitu sampai sekolah. Saya akan terkikik-kikik membaca tulisan Pyut tentang harinya, tentang crush-nya atau segala hal receh yang bisa dialami remaja perempuan yang tinggal di asrama. Lalu saya akan mengomentari tulisannya dan ganti menulis curhatan yang kurang lebih sama temanya. Nantinya buku itu akan saya berikan lagi kepada Pyut sebelum apel sore atau malam. Begitu terus selama berbulan-bulan. Hal yang cukup lucu kalau diingat-ingat sebenarnya. Kelas kami bersebelahan, kamar kami berada dalam lorong yang sama; praktis kami bertemu setiap hari. Namun memang tidak ada yang mengalahkan sensasi berbagi rahasia dengan sahabat lewat buku diary.
Saya selalu mengingat Pyut sebagai gadis berkulit hitam manis dengan ransel Billabong navy besar. Kesukaannya pada tas ala surfer ini menguap bertahun-tahun kemudian. Di kamar kosnya di Dharmawangsa, saat kami sama-sama berkuliah di Surabaya, ia pernah berkelakar tidak mengerti kenapa dulu bisa tergila-gila pada tas setengah juta lebih itu. Katanya, dengan nominal yang sama, bisa dapat banyak barang yang lebih murah dan lucu. Terkadang saat main ke kosnya, Pyut akan memamerkan hasil belanjanya yang memenuhi kaidah murah dan lucu itu; bisa berbentuk flat shoes berpita atau atasan ala shabby chic yang memang ngetren kala itu.
Hari itu, agak siang saya baru bisa leluasa membuka-buka socmed. Di grup whatsapp SMA sudah ramai, komting angkatan kami mengumumkan kalau Pyut sedang di ICU. Dada langsung terasa sesak. Mendadak terlintas momen Pyut yang masih SMA dengan rambut diikat di belakang kepala. Berjalan melewati depan kamar di asrama dulu, dengan baju PDH dan ransel besar di punggungnya, ngobrol sambil tertawa-tawa dengan riang.
Teman-teman yang di Jakarta bergantian mengupdate kondisi Pyut. Beberapa menjenguk ke rumah sakit. Pyut masih di ICU dan belum sadar. Esok malamnya, 3 Maret, suasana di grup angkatan terasa tegang saat kondisi Pyut dikabarkan semakin menurun. Ketegangan itu seketika pecah menjadi tangis ketika kabar yang tak pernah diharapkan itu datang.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..
Kepergian Pyut menyisakan syok yang masih berusaha aku olah hingga kini. Kutemukan diriku mengais foto-foto lama kita, Yut.. Ya Allah, kita pernah sangat muda.. Sesak rasanya melihatnya. Seperti baru kemarin kita tertawa-tawa bersama. Remaja yang kekhawatirannya hanya seputar ulangan Matematika. Kita masih sangat belia.. Masa depan masih terasa samar dan panjang. Masih teringat jelas kalau ada sesuatu yang lucu, Pyut bisa ketawa lebar banget, bahkan kadang saking gelinya, sampai nggak keluar suaranya. Masih ingat tulisan Pyut yang rapi banget. Masih ingat pesiar bareng ke Lembuswana atau SCP...
![]() |
| Photobox waktu pesiar di hari Ahad |
![]() |
| Waktu ikut kompetisi mading se-Kaltim di Balikpapan. Nginepnya di rumah Pyut. |
Entah kenapa dari sekian banyak momen, yang paling tajam teringat justru saat kami di kelas 1 SMA. Mungkin karena begitu inginnya aku mengenang Pyut yang ceria dan masih sangat muda, saat kami begitu dekat. Hari-hari di asrama yang terasa panjang tetapi anehnya menyenangkan karena kita punya teman..
Semoga husnul khotimah ya, Yut. Insyaallah kelak kita reuni di surga. Kita akan ngobrol tentang masa hidup kita di dunia, dalam keadaan tanpa letih, tanpa sedih, hanya bahagia yang terasa. Aamin Ya Rabbal alamin..
Miss you always..
Sesungguhnya kami yang masih hidup ini hanya sedang menanti giliran..
Thursday, April 19, 2018
At 4 AM
Banyak postingan masih ngendon as a draft menunggu kapan diselesaikan *entah kapan hiks..
Emaknya Azka masih berjuang untuk memenej waktu dengan dua bocah...
By the way sekarang bisa nulis karena Malik, si dedeknya Azka itu tetiba bangun jam 1 pagi dan menolak untuk tidur lagi... sampai jam 3. Bukan kebiasaannya (syukurlah), walaupun tidak bisa dibilang mengagetkan juga..
Si Emak agak kurang makan dan istirahat today, which turns out berkurangnya produksi ASI. Si anaka lanang pun jadi kelaperan tengah malam :(
But still...he was the cutest even if he refused to back to sleep easily. Love you my Malik Ibrahim ♥
Maliknya senyum-senyum aja kalau digodain, enggak nangis yang kejer gimana gitu. Tapi kalau emaknya udah mulai ngantuk, dan bisik-bisik, "dede bobok yah.." doi nangis dah.
Soleh ya nak..biar ga kesiangan tahajudnya nih Ummi disuruh bangun pagi buta.
Nggak kerasa sudah bulan April ya? Katanya kalau kita menikmati sesuatu, maka akan terasa cepat. How I hope my kiddos didn't grow up so fast.. Ngeliat Azka..jadi mellow. Udah besar ya anak gue, tahun ini masuk TK :( Rasanya masih pengen peluk-peluk doi terus..
Liat Malik..lah kayaknya baru kemarin lahiran, kok udah tiga bulan aja nih bocah..
Memang ya dunia ini cuma persinggahan sebentaaar aja.
Semoga nanti kita dikumpulkan di surganya Allah semua ya Nak..
Sekarang Ummi sabar-sabar dulu kalian tinggal dewasa :(
Tertanda,
Ummi yang lagi mellow
Friday, December 22, 2017
Lima
Semoga pernikahan ini berkah..
Kita bisa bertumbuh bersama anak-anak..
Menjadi orangtua yang solih-solihah, dan mencetak generasi yang demikian pula..
Semoga perubahan apapun yang terjadi pada diri kita, adalah perubahan ke arah kebaikan.
Selamat tanggal 22 yang kelima..
Sakinah mawaddah wa rahmah till Jannah, Insyaallah :)
Saturday, December 9, 2017
Personal Note
how I miss taking notes whilst listening to the professor..
reading tons of literature in the library..
how I miss taking English class (and maybe start over my French too)..
how I dreams the chance of being a student once again.
Student who literally sitting in the class..
[it's raining outside, it gives me blue]
Monday, September 25, 2017
How to Balance
Tuesday, July 4, 2017
Jilid Dua
Agak berbeda dari waktu hamil Azka, kali ini saya mengalami yang namanya mual-mual cukup parah. Dari bau nasi ditanak, parfum yang dipakai Abinya ke masjid, sampai liat layar hape/laptop kelaamaan, semua sukses bikin mulut mendadak terasa asam dan lambung bergolak. Hiks...
Ada salah satu temen yang kebetulan juga mualnya parah, sempet bilang kalau kata dokternya, bisa jadi mual parah itu karena kondisi ibu yang kurang fit saat hamil. Hmm...bisa jadi..
Saat hamil Azka saya masih rajin olahraga. Karena waktu itu kami sempat mengalami kondisi belum punya motor, jadi saya kemana-kemana naik sepeda atau jalan kaki. Bahkan saat akhirnya punya motor, saya masih sering jalan atau sepedaan. Pasalnya, kondisi kontrakan kami dulu garasinya curam dan sempit, jadi selalu bikin deg-degan kalau masuk atau mengeluarkan motor (saya beberapa kali terpeleset). Plus...saat itu juga belum pakai ART :D
Nah kalu si dedek ini 'jadi'-nya saat saya dalam kondisi yang lebih nyaman. Motor ada, rumah udah pindah..ada Azka pula! Jadi kemana-mana ya naik motor karena udah ada bontotan. Sempet sih dulu ngerutinin joging saban habis subuh, sampai dibelain beli runinng shoes segala biar semangat HAHA. Tapi ujung-ujungnya brenti karena...males :p Abinya Azka sih udah bolak-balik nawarin ngebeliin treadmill, cuma sayanya bingung, eta mau ditaruh di manaaa.. Secara rumah secuil gini dan udah banyak dijajah sama dagangan..
Trus lagi kalau saya boleh sok tau nih... Memang sih ya si dedek ini emg hasil program, karena kami ngerasa udah siaplah Insyaallah nambah anak lagi. Tapii..tetep aja kurang preparationnya, karena berkaca dari pengalaman anak pertama yang jadi after 7 bulan :D, saya pribadi nggak ngira kalau bakal langsung jadi :)) Let's say ini coba-coba berhadiah haha..(maap ya dee..)
Kondisi kerjaan waktu itu lagi hectic-hecticnya karena mau ramadhan; saya sempet cukup under pressure dan overwork, jadi yang namanya telat makan atau makan ala kadarnya itu sering banget :(
To be short, di tengah itu semua saya menemukan dua garis di testpack dua rebuan, yang akhirnya menjawab 'masuk angin' tak berkesudahan in the last two weeks, dan drop luar biasa yang saya alami ketka puasa tanpa sahur (kesiangan); it turns out something is growing inside of me. Alhamdulillah :D
Banyak drama, bahkan sampai sekarang. But I'm doing my best and thank's God, it's progressing!
Wish me a healthy and happy preganancy ya :D
Monday, April 24, 2017
Ketika Azka Bertanya
Saturday, February 11, 2017
Penyesalan Hari Ini
Saturday, December 31, 2016
When I am Turning 28
Once you grow up, age is just a number
-Anonim-
Monday, July 11, 2016
Maafkan Kalau Saya Tidak Seasyik Dulu
Yah, afterall... kurang lebih kalimatnya seperti ini:
Aku sedang berhijrah, belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Maafkan aku apabila tidak seasyik dulu.
Saya menimbang-nimbang... Mungkinkah itu mewakili perasaan saya juga?
Teringat jaman kuliah dulu; kruntelan di bangku kampus... nonton konser lantas pulang larut malam.. Definisi seru tak jauh-jauh dari gegosipan kalau tidak ada kelas, nge-mall berjam-jam...
Maafkan, kawan, kalau aku tidak seasyik dulu..
Bukan mau sok sibuk atau tidak menghargai pertemuan kita sebagai sesama kawan yang jarang bersua.. Namun pabila kewajiban silaturahim tertuntaskan, dan kita telah saling bertukar kabar dan melepaskan rindu, apakah tak lebih baik kita sudahi saja pertemuan itu? Karena seringnya kita lalu mencari-cari bahan pembicaraa; mengorek-ngorek entah masa lalu atau masa kini yang nggak penting-penting banget buat dibahas... kebanyakan jadi ghibah deh ujungnya...
Dan bukannya tidak mau memenuhi undangan hangout... tetapi sekarang memang lebih selektif. Saya punya suami dan anak; perasaan dan urusan mereka sekarang harus lebih saya utamakan...
Maafkan kalau saya tidak seasyik dulu
Tapi kalian, arti kalian buat saya, masih akan tetap sama...
Masa-masa yang kita lewatkan dulu masih akan tetap indah dalam kenangan... walaupun tidak perlu saya ulangi lagi :)
Maaf ya teman-teman...
Thursday, June 2, 2016
Kenapa Harus S2 di Luar Negeri?
Di kota kecil seperti Tuban, menemukan orang dengan mimpi besar seperti si mbak ini adalah hal yang cukup langka buat saya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Melanjutkan sekolah ke luar negeri rasa-rasanya menjadi mimpi banyak mahasiswa, termasuk saya. Selepas kuliah, saya berencana melanjutkan kuliah jenjang strata dua di Australia (maunya..hehe..). Namun qadarullah saya bertemu jodoh cukup cepat sehingga selepas wisuda, hanya selang dua bulan, kami menikah. Saya lantas memilih untuk ikut suami merantau ke kota kecil yang namanya belum familiar buat saya, apalagi letaknya dalam peta (saya emang nggak pinter Geografi dari dulu).
Setelah menikah saya banyak disibukkan oleh aktivitas rumah tangga, terlebih pasca memiliki anak. Melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi semakin terasa jauh... walaupun jujur saya akui, dalam lubuk hati yang terdalam, mimpi itu masih ada. Come on... siapa sih yang nggak pengen sekolah di luar negeri, apalagi kalau dibayarin?
Beberapa kawan dan adik kelas saya ada yang mendapatkan kesempatan berharga ini. Foto-foto mereka cukup bikin saya mupeng hehe... Namun, saya tahu, ada harga yang harus dibayar untuk itu. Tak semua seindah foto di Instagram...
Saya baca sendiri perjuangan temen saya Tika untuk mendapatkan tiket beasiswanya. Usaha kerasnya terbayar ketika ia akhirnya bisa kuliah di negeri Ratu Elizabeth. Tulisan tentang perjuangannya mendapatkan beasiswa terasa keras (dan kadang getir), tetapi saya menemukan sisi melankolis yang terselip. Salah satunya ketika Tika bilang (correct me, ya Tik), alasannya memilih Southampton University salah satunya karena ada program yang memungkinkan ia lulus dalam setahun. Sehingga, ia tidak perlu terlalu lama berjauhan dari keluarganya. Ya, Tika memang sudah bersuami...
Beberapa teman yang lain cukup beruntung karena memiliki pasangan yang bisa diajak serta merantau ke luar negeri. Paling nggak, homesick-nya ada yang nemenin hehe...
Sebenernya bukan poin keluarga saja yang membuat saya agak berat untuk 'berjuang' supaya bisa sekolah lagi di negara seberang. Namun, justru alasan paling mendasarlah yang belum bisa saya jawab hingga saat ini; kenapa harus S2? Atau lebih tepatnya, kenapa harus S2 ke luar negeri? Lupakanlah soal jawaban general 'saya ingin menuntut ilmu lebih tinggi'; saya yakin tidak akan meyakinkan penguji beasiswa manapun...
Saya bukanlah pendidik yang mungkin selepas kuliah bisa mendarma baktikan ilmunya kepada para anak didiknya...
Saya juga bukan wanita karier yang bisa mengimplementasikan ilmunya di tempat kerjanya...
Saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang suka menggambar dan menulis, serta sedang belajar berbisnis. Saya belum menemukan 'it' point yang membuat saya berbeda dengan para pemburu beasiswa lainnya...
Saya cuma ingin..
sekolah lagi..
merasakan sekali lagi duduk di bangku, memegan pena dan mencatat..
tenggelam dalam lautan buku di perpustakaan, menghirup aromanya yang sangat saya suka..
saya ingin berjalan-jalan di taman kampus..
dengan ransel terpanggul penuh buku; duduk di rerumputan dan membaca..
Saya rindu begadang menulis paper..
Saya kangen dengan rutinitas akademik, menyedot ilmu dari para dosen..
mengalami 'aha!' momen sekali lagi dalam kelas..
Tapi saya tidak ingin (atau belum ingin),
mengalami semua itu dalam beban kekhawatiran apakah Azka sudah makan dengan cukup..
apakah Azka masih TV-free and gadget-free
apakah Azka masih hidup sesuai standar yang saya tetapkan, sama seperti ketika saya di sampingnya..
dan begitu juga Abinya Azka..
Saya sadar bahwa kedua hal tersebut akan sulit dicapai dalam kondisi sekarang..
Kondisi saya yang sekarang..
Jadi, saya cukup puas dengan kata-kata Abinya Azka bahwa semua ada waktunya, dan mungkin bukan sekarang waktu saya..tapi saya tahu bahwa waktu itu pasti akan ada!
Sementara waktu itu datang, saya bisa memikirkan masak-masak pertanyaan "kenapa saya harus S2 di luar negeri?" :))
Anyway, Mbak Nur, semoga sukses berburu tiket ke Leidennya, ya! xoxo
Friday, May 20, 2016
#ngapainaja ?
Handphone yang biasa buat ngeblog masih belum berhasil dibenerin, dan komputer juga makin sering macet, jadi agak susah buat ngeblog.
By the way, belakangan ini saya lagi asyik belajar jualan, dan bantu-bantu temen yang butuh jasa desain. Lumayan bikin keinget masa-masa dikejar deadline tugas kuliah hehe..
Lagi mulai merasakan juga 'beratnya' menjadi seorang ibu. Si Azka yang umurnya genap dua tahun April lalu, mulai bertransformasi menjadi sosok batita yang punya banyaaakk keinginan, keingintahuan, yang kadang-kadang emaknya kurang sabar menghadapinya #istighfar.
Soal Azka ini, memang harus banyak-banyak istighfar. Sebagai orang tua baru, saya merasa harus terus mengingatkan diri saya bahwa anak-anak bukanlah perangkat elektronik yang kalau kita pencet bisa diem, bisa langsung nurut maunya kita. Anak-anak adalah orang dewasa versi kecil. Kadang saya sediih banget kalau habis kelepasan marah sama Azka. Apalagi kalau setelah itu liat Azka yang lagi tidur. Haduh...:( Kayaknya semua ortu (terutama ibu) pasti punya sejuta penyesalan. Merasa berdosa, merasa jadi ibu yang jahat, karena belum bisa sabar menghadapi para bocah itu :(
'He is just a kid...' I remind myself over and over...
Namun entah mengapa kadang terasa berat memakluminya. Kala raga lelah, pikiran penat, lantas melihat si bocah bertingkah, rasanya jadi lupa bahwa ia adalah sosok mungil yang sangat kita harapkan kehadirannya. Dia, yang kita elus mesra saat masih di dalam perut, sambil bergumam, 'sehat-sehat, ya, Nak'. Tangisnya saat bayi dulu yang terdengar amat lucu, mengapa sekarang malah membuat kita ingin kabur dari rumah alih-alih menghiburnya?
Saat tidurlah, saat mata si bocah terpejam.-mata yang sama, yang beberapa jam lalu mengerlip jail- terasa damai ia nampaknya, seolah waktu berputar ke sekian waktu silam dan kita kembali sadar bahwa ia masih kanak-kanak.
Seorang teman berkata, "perlakukanlah anakmu dengan sabar, karena itulah cerminan bagaimana ia akan memperlakukan dirimu di masa tua".
#istighfar
Maaf untuk segala ketidaksabaran Ummi, ya, Nak. Segala kekurangan Ummi, salah Ummi sendiri. Semoga Ummi masih selalu diberi waktu untuk belajar menjadi the best ummi that Azka can have.
I love you, Nak, so much...*mewek*
Friday, February 19, 2016
:'(
Thursday, December 31, 2015
Happy Birthday.. Me!
----------------------------------------------------------------------------
People said it tons times; raising kids is not a joke. It takes your energy, your time, your emotion, simply it takes you. There were days when I was feeling like that I am drained. But this is what we should do, right? Or at least this is what I choose to do..
Due kids' golden years (until they are 5 years old approximately), I commit to myself to take Azka as my first priority, above all. So it's not about how balancing between kids and work life (or whatever); it is Azka first, and everything else can wait.
Of course its easy to say but sometimes hard to do. But I keep reminding myself; it is only couple of years until he can play or doing everything by himself, then I can have my me-time as much as I want..
It is a 'sacrifice' at first that will determine what Azka will be in the future..
That this is maybe a hard times for now...but surely I will miss it someday. And I don't want to feel sorry for that..
And because, after a long-tiring day, seeing he sleep peacefully still the most heartwarming things that keep me going :)
So you see... how can I thinking about petty things like my birthday when I have something big to take care of everyday? :)))
But anyway... do you think it is a bit unfair to let birthday slip by without something uncommon?? Gonna ask hubby if I can have a bowl of Yoshinoya then :p


