Ceritanya hari ini pengen nyenengin Azka dengan jajan di luar (padahal emaknya yang ngidam ;p)
Ummi: Azka, mau donat?
Azka: Mauuu... *langsung turun dari kasur*
Singkat cerita, berangkatlan Ummi dan Azka ke salah satu kedai yang mayan hits di Tuban huehehe.. Niatnya Ummi nih mau ngedate sama si bocah, ngopi-ngopi cantik sambil makan donat *kebanyakan liat instagram*
Sampai di tempat yang dituju..
Umi: Nah tu udah sampai.. Azka mau minum apa?
Azka: Mau es degan aja!
(bayangan Ummi nih anak bakal minta es coklat atau apa. Lah kok es degan??)
Umi: Lah..ga ada es degan, Nak. Yang lain deh..
Azka: Ya udah, es cao aja..
Umi: *nangis di pojokan*
Oalah nak..ya sudah besok-besok kita jajannya back on track aja ya! Beli es degan marebu sebungkus buat berdua!
*btw karena udah kadung sampai ya tetep aja jajan donat dan beli avocado latte yang rasanya kayak..obat. Halah halah, ilat degan ae atek aneh-aneh barang sih :))
Showing posts with label Azka. Show all posts
Showing posts with label Azka. Show all posts
Friday, July 7, 2017
Monday, April 24, 2017
Ketika Azka Bertanya
Bismillah..
Sekedar pengingat bahwa ada begitu banyak milestone luar
biasa dalam perkembangan Azka.. :’)
Semenjak Azka berusia 2,5 tahun hingga kini genap tiga tahun, kemampuan verbalnya makin
meningkat; pun kalau boleh dibilang logikanya dalam menanggapi hal-hal yang
terjadi di sekitarnya.
Saya dan Abinya Azka sepakat untuk tidak memperlakukan Azka
sebagai anak kecil, tetapi sebagai orang dewasa mini dalam beberapa hal. Kami
percaya bahwa anak adalah makhluk tercerdas. Jadi insyaallah kami sebisa
mungkin berusaha menjawab berbagai pertanyaan ajaib Azka sebagaimana jawaban seharusnya; bukan dengan jawaban ngasal yang penting anak diem. Walaupun konsekuensinya, itu
bisa menimbulkan banyak pertanyaan baru dari Azka, yang biasanya bikin tambah
pusing hihihi.. Untungnya pusing yang nikmat.. :D
Kami sangat menikmati bagaimana Azka mencerna berbagai jawaban
lalu mengolahnya dalam logika berpikir versinya. Masya Allah, luar biasa apa
yang kadang keluar dari bibirnya sungguh seringkali membuat kami terperanjat, geli,
merasa takjub bahwa makhluk semuda ini bisa berpikir demikian. Masya Allah..
Saya yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Azka di
rumah, lebih sering menjadi saksi mata momen-momen ajaib ini. Biasanya di atas kasur
menjelang tidur siang, adalah waktunya Azka reading time shirah atau kisah para
nabi. Seringkali di tengah-tengah bercerita timbul berbagai pertanyaan maupun jawaban yang luar biasa menghibur. Sayangnya, saya tak banyak mendokumentasikan
secara riil peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga akhirnya ingatan manusialah
yang membodohi kita semua. Hanya ada beberapa potongan yang kadang teringat. Salah
satunya saat kami sedang membaca kisah Maryam, fragmen melahirkan Nabi Isa a.s.
Saturday, February 11, 2017
Penyesalan Hari Ini
Astaghfirullah..ya Rabb..
Tuesday, October 4, 2016
Tentang Bocah yang Memanggilku Ummi
Bocah manis istimewa itu, Al Faruq kesayanganku, kemarin
berusia tepat dua tahun enam bulan. Kealpaan kami sebagai orangtua untuk
mengingatnya. Mungkin karena kini usianya sudah tak lagi dalam bilangan bulan
kah, sehingga penambahan umur sebulan tak lagi istimewa? Mudah-mudahan tidak.
Saya sendiri lebih memilih percaya pikiran kami lebih tersedot pada balada si Abi
yang lembur dua malam berturut-turut (di akhir minggu) sebagai penyebab kealpaan ini.
Bagaimananpun, selamat milad, Anakku. Sayangku tak pernah
berkurang dari dulu, bahkan semakin menumbuh. Ibarat pokok pohon yang akarnya
semakin dalam menghunjam ke bumi, itulah kasihku padamu, Nak.
Memang ada kalanya Ummi marah; terlontar nada keras. Tetapi, Nak,
itu akan selalu jadi hal yang Ummi sesali. Mengapa tak bisa lebih sabar pada
dirimu, yang masih begitu muda mencecap dunia. Mengapa begitu egois Ummi
memintamu pengertian, saat Ummi sedang lelah atau sibuk? Padahal sudah
berkali-kali Ummi mengingatkan diri, tak ada kesibukan di atas kesibukan
mengurusmu. Astaghfirullah :’(. Nantinya, seperti yang lalu-lalu, saat kau
akhirnya terlelap, Ummi akan beringsut di sisimu, memegang jemari mungilmu dan
membisikkan kata maaf. Lagi-lagi keegoisan Ummi, memintamu untuk selalu
memaaafkan :(
Doa kami selalu, Nak.. Azka tumbuh menjadi anak yang sholeh
dan bermanfaat. Karena doa terbaik adalah yang selalu dipanjatkan, maka kami
abadikan dalam namamu. Umar Azka Al Faruq Wahid, jadilah pemimpin yang paling
bersih dan suci, pembeda antara yang haq dan yang batil. Aaminn..
I love you so so much, Anakku..
*Ditulis saat Azka terlelap,
setelah hari yang panjang, menguras emosi dan penuh air mata.
Thursday, September 22, 2016
Balance
Halo, assalamualaikum... Senang sekali bisa nulis kembali :) Belakangan ini saya lagi sibuk banget memenej ulang waktu untuk urusan anak, rumah, dan yang cukup banyak menyita waktu saat ini yaitu; bisnis rumahan saya. Hihi kece banget nyebut bisnis ya? Well, let's say usaha rumahan :p. Nah, usaha yang dulunya diawali untuk ngisi waktu senggang ini ternyata mulai tumbuh dan ngambil jatah waktu-waktu yang saya alokasikan untuk ngurus anak dan urusan domestik lainnya, bahkan me time juga! Wah, kacau banget... Bahkan untuk nulis to do list harian yang saya rutin lakukan aja seringkali nggak sempet. Gimana bisa sempet, kalau hari-hari saya penuh dengan rutinitas cek orderan, cek stok, packing bahkan melayanin customer yang datang ke rumah.. Eits, bukan ngeluh, ya. Alhamdulillah bersyukur banget... Cuma di sisi lain, saya tahu ini nggak boleh dibiarkan; bisa-bisa saya jadi robot yang hanya menjalankan rutinitas itu itu aja tiap harinya, sampai nggak sadar waktunya habis. Oleh karena itu saya lagi menej ulang waktu saya, supaya semua urusan bisa balance lagi :)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya banyak baca sharing dari sesama mahmud yang punya usaha gimana cara mereka membagi waktunya. Beberapa yang lebih dulu sukses sudah punya admin sendiri untuk handle customer, jadi nggak terlalu diributin sama urusan remeh temeh tapi takes time macam packing dan rekap order. Beberapa memanfaatkan waktu saat anak sekolah/tidur siang/tidur malam. Nah ini.. berhubung Azka bobok siangnya suka nggak ketebak jam dan lamanya, plus kalau malam habis Isya saya biasanya juga udah teler, jadi terpaksa realistis deh dengan dua opsi tersebut. Tinggallah opsi sekolah..
Sebenernya sejak sebelum genap dua tahun, Azka udah mulai nebeng sekolah di PAUD deket rumah. Kenapa dibilang nebeng? Karena ga serius sekolah hihi.. Seragam aja nggak beli :p Niatnya murni supaya Azka belajar bersosialisasi aja, karena di lingkungan rumah kami rata-rata anaknya udah usia SD ke atas. PAUD ini masuk tiga kali seminggu, sekolahnya mulai jam setengah sembilan sampai jam sepuluh. Lumayan laahh.. Azka jadi bisa ketemu teman sebayanya, karena ternyata cukup banyak anak seusia Azka yang nebeng sekolah di sana juga hihi..
As time goes by, itu ternyata nggak cukup buat Azka. My lovely son mulai minta lebih. Kalau nggak waktunya sekolah doi biasanya merengek 'mau ke lumah bu gulu' -ke PAUD maksudnya :)). Azka juga lebih gampang cranky kalau di rumah cuma berdua sama umminya. Dulunya kalau capai banget saya bisa pesen 'Azka main sendiri dulu ya, ummi mau bobok'. Sekarang boro-boro... adanya umminya ditarik-tarik..'ummi cini.. cini..'. Rebahan dikit udah ditegur, 'ummi duduk.. duduk..' sambil nepok-nepok lantai. Hiks..beneran butuh temen, nih, buat nyalurkan energinya yang ekstra.
Akhirnya muterlah emaknya, dan ketemu deh sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas baby school. Jadi baby school ini ibaratnya tengah-tengah antara baby daycare sama PAUD. Mungkin awalnya untuk menjembatani anak-anak yang dititipkan tapi udah terlalu besar untuk masuk baby daycare kali, ya, dan masih terlalu kecil untuk masuk PAUD. Setelah survei beberapa waktu, akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu baby school..
Senengnya sama baby school yang satu ini, anak-anaknya relatif banyak, jadi Azka bisa punya banyak teman dengan berbagai karakter. Kurikulumnya juga menarik dan sesuai usia mereka. Waktunya pun cocok, Senin sampai Jumat, durasinya mulai jam delapan sampai setengah 11 siang. Last but not least, visinya baby schoolnya ini cocok dengan nilai-nilai yang kami ajarkan di rumah. Di usia emasnya ini kami betul-betul kalau bisaa menjaga banget supaya Azka nggak terkontaminasi yang aneh-aneh dulu hehehe..
Alhamdulillah so far Azka betah di sana, walaupun sempet kangen dengan PAUD-nya yang lama. Masih dalam kategori wajar lah ya, namanya di sana udah setengah tahun, yang ini baru hitungan hari. Bersyukurnya Azka selalu excited ketemu cucajah (ustadzah) dan cemen-cemen barunya :)) Saya masih mengobservasi terus perkembangannya Azka di sana, apakah dia happy atau enggak. Semoga sih happy terus ya, Nak :)
Nah, terus apa hubungannya Azka sekolah dengan menejemen waktu saya? Harapannya sih dengan Azka sekolah tiap hari, kegiatannya dia jadi lebih teratur, dan ngurangin frekuensi cranky-nya dia di rumah. Thus, saya jadi lebih mudah untuk membagi waktu. Dua hari di awal sekolah sih udah mulai keliatan. Pulang sekolah Azka main sebentar, makan siang, trus langsung bablas bobok. Lumayan dua jam di siang hari bisa saya gunakan untuk benar-benar fokus bekerja. Sore hari Azka bangun dengan segar, saya bisa full lagi main sama dia sampai malam. Biasanya karena Azka kadang bobok pagi, kadang bobok sore, kadang juga nggak bobok sama sekali, kadang bobok sebentar tapi di dua waktu, saya jadi agak pontang panting ngurus ini itu, dan nggak bisa bikin janji yang pasti sama orang-orang. Cukup dua jam tapi kalau konsisten tiap hari Insya Allah efeknya bakal luar biasa..
Walaupun awalnya usaha ini dibuat untuk mengisi waktu senggang, tapi sekarang udah nggak bisa dibuat main-main lagi karena banyak orang yang ikut saya.. Harus dihandle dengan lebih serius.. Jadi bisa bagi-bagi rezeki ke yang lain, dan jadi ladang dakwah juga, Insya Allah :)
Goal saya adalah membuat sebuah sistem yang sudah stabil, jadi secepatnya saya udah bisa seperti temen-temen lain yang menyerahkan teknis usahanya pada asisten..
Supaya saya bisa punya waktu lebih banyak buat Azka...dan adik-adiknya nanti...
Dan bapaknya juga dehhh ;p
Temen-temen ada yang punya bisnis berawal dari rumah seperti saya juga? Sharing dong, I'd love to hear! :)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya banyak baca sharing dari sesama mahmud yang punya usaha gimana cara mereka membagi waktunya. Beberapa yang lebih dulu sukses sudah punya admin sendiri untuk handle customer, jadi nggak terlalu diributin sama urusan remeh temeh tapi takes time macam packing dan rekap order. Beberapa memanfaatkan waktu saat anak sekolah/tidur siang/tidur malam. Nah ini.. berhubung Azka bobok siangnya suka nggak ketebak jam dan lamanya, plus kalau malam habis Isya saya biasanya juga udah teler, jadi terpaksa realistis deh dengan dua opsi tersebut. Tinggallah opsi sekolah..
Sebenernya sejak sebelum genap dua tahun, Azka udah mulai nebeng sekolah di PAUD deket rumah. Kenapa dibilang nebeng? Karena ga serius sekolah hihi.. Seragam aja nggak beli :p Niatnya murni supaya Azka belajar bersosialisasi aja, karena di lingkungan rumah kami rata-rata anaknya udah usia SD ke atas. PAUD ini masuk tiga kali seminggu, sekolahnya mulai jam setengah sembilan sampai jam sepuluh. Lumayan laahh.. Azka jadi bisa ketemu teman sebayanya, karena ternyata cukup banyak anak seusia Azka yang nebeng sekolah di sana juga hihi..
As time goes by, itu ternyata nggak cukup buat Azka. My lovely son mulai minta lebih. Kalau nggak waktunya sekolah doi biasanya merengek 'mau ke lumah bu gulu' -ke PAUD maksudnya :)). Azka juga lebih gampang cranky kalau di rumah cuma berdua sama umminya. Dulunya kalau capai banget saya bisa pesen 'Azka main sendiri dulu ya, ummi mau bobok'. Sekarang boro-boro... adanya umminya ditarik-tarik..'ummi cini.. cini..'. Rebahan dikit udah ditegur, 'ummi duduk.. duduk..' sambil nepok-nepok lantai. Hiks..beneran butuh temen, nih, buat nyalurkan energinya yang ekstra.
Akhirnya muterlah emaknya, dan ketemu deh sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas baby school. Jadi baby school ini ibaratnya tengah-tengah antara baby daycare sama PAUD. Mungkin awalnya untuk menjembatani anak-anak yang dititipkan tapi udah terlalu besar untuk masuk baby daycare kali, ya, dan masih terlalu kecil untuk masuk PAUD. Setelah survei beberapa waktu, akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu baby school..
Senengnya sama baby school yang satu ini, anak-anaknya relatif banyak, jadi Azka bisa punya banyak teman dengan berbagai karakter. Kurikulumnya juga menarik dan sesuai usia mereka. Waktunya pun cocok, Senin sampai Jumat, durasinya mulai jam delapan sampai setengah 11 siang. Last but not least, visinya baby schoolnya ini cocok dengan nilai-nilai yang kami ajarkan di rumah. Di usia emasnya ini kami betul-betul kalau bisaa menjaga banget supaya Azka nggak terkontaminasi yang aneh-aneh dulu hehehe..
Alhamdulillah so far Azka betah di sana, walaupun sempet kangen dengan PAUD-nya yang lama. Masih dalam kategori wajar lah ya, namanya di sana udah setengah tahun, yang ini baru hitungan hari. Bersyukurnya Azka selalu excited ketemu cucajah (ustadzah) dan cemen-cemen barunya :)) Saya masih mengobservasi terus perkembangannya Azka di sana, apakah dia happy atau enggak. Semoga sih happy terus ya, Nak :)
Nah, terus apa hubungannya Azka sekolah dengan menejemen waktu saya? Harapannya sih dengan Azka sekolah tiap hari, kegiatannya dia jadi lebih teratur, dan ngurangin frekuensi cranky-nya dia di rumah. Thus, saya jadi lebih mudah untuk membagi waktu. Dua hari di awal sekolah sih udah mulai keliatan. Pulang sekolah Azka main sebentar, makan siang, trus langsung bablas bobok. Lumayan dua jam di siang hari bisa saya gunakan untuk benar-benar fokus bekerja. Sore hari Azka bangun dengan segar, saya bisa full lagi main sama dia sampai malam. Biasanya karena Azka kadang bobok pagi, kadang bobok sore, kadang juga nggak bobok sama sekali, kadang bobok sebentar tapi di dua waktu, saya jadi agak pontang panting ngurus ini itu, dan nggak bisa bikin janji yang pasti sama orang-orang. Cukup dua jam tapi kalau konsisten tiap hari Insya Allah efeknya bakal luar biasa..
Walaupun awalnya usaha ini dibuat untuk mengisi waktu senggang, tapi sekarang udah nggak bisa dibuat main-main lagi karena banyak orang yang ikut saya.. Harus dihandle dengan lebih serius.. Jadi bisa bagi-bagi rezeki ke yang lain, dan jadi ladang dakwah juga, Insya Allah :)
Goal saya adalah membuat sebuah sistem yang sudah stabil, jadi secepatnya saya udah bisa seperti temen-temen lain yang menyerahkan teknis usahanya pada asisten..
Supaya saya bisa punya waktu lebih banyak buat Azka...dan adik-adiknya nanti...
Dan bapaknya juga dehhh ;p
Temen-temen ada yang punya bisnis berawal dari rumah seperti saya juga? Sharing dong, I'd love to hear! :)
Friday, May 20, 2016
#ngapainaja ?
Masihh teteup jadi full time housewife and part time everything else kok :D
Handphone yang biasa buat ngeblog masih belum berhasil dibenerin, dan komputer juga makin sering macet, jadi agak susah buat ngeblog.
By the way, belakangan ini saya lagi asyik belajar jualan, dan bantu-bantu temen yang butuh jasa desain. Lumayan bikin keinget masa-masa dikejar deadline tugas kuliah hehe..
Lagi mulai merasakan juga 'beratnya' menjadi seorang ibu. Si Azka yang umurnya genap dua tahun April lalu, mulai bertransformasi menjadi sosok batita yang punya banyaaakk keinginan, keingintahuan, yang kadang-kadang emaknya kurang sabar menghadapinya #istighfar.
Soal Azka ini, memang harus banyak-banyak istighfar. Sebagai orang tua baru, saya merasa harus terus mengingatkan diri saya bahwa anak-anak bukanlah perangkat elektronik yang kalau kita pencet bisa diem, bisa langsung nurut maunya kita. Anak-anak adalah orang dewasa versi kecil. Kadang saya sediih banget kalau habis kelepasan marah sama Azka. Apalagi kalau setelah itu liat Azka yang lagi tidur. Haduh...:( Kayaknya semua ortu (terutama ibu) pasti punya sejuta penyesalan. Merasa berdosa, merasa jadi ibu yang jahat, karena belum bisa sabar menghadapi para bocah itu :(
Namun entah mengapa kadang terasa berat memakluminya. Kala raga lelah, pikiran penat, lantas melihat si bocah bertingkah, rasanya jadi lupa bahwa ia adalah sosok mungil yang sangat kita harapkan kehadirannya. Dia, yang kita elus mesra saat masih di dalam perut, sambil bergumam, 'sehat-sehat, ya, Nak'. Tangisnya saat bayi dulu yang terdengar amat lucu, mengapa sekarang malah membuat kita ingin kabur dari rumah alih-alih menghiburnya?
Saat tidurlah, saat mata si bocah terpejam.-mata yang sama, yang beberapa jam lalu mengerlip jail- terasa damai ia nampaknya, seolah waktu berputar ke sekian waktu silam dan kita kembali sadar bahwa ia masih kanak-kanak.
Seorang teman berkata, "perlakukanlah anakmu dengan sabar, karena itulah cerminan bagaimana ia akan memperlakukan dirimu di masa tua".
#istighfar
Maaf untuk segala ketidaksabaran Ummi, ya, Nak. Segala kekurangan Ummi, salah Ummi sendiri. Semoga Ummi masih selalu diberi waktu untuk belajar menjadi the best ummi that Azka can have.
I love you, Nak, so much...*mewek*
Handphone yang biasa buat ngeblog masih belum berhasil dibenerin, dan komputer juga makin sering macet, jadi agak susah buat ngeblog.
By the way, belakangan ini saya lagi asyik belajar jualan, dan bantu-bantu temen yang butuh jasa desain. Lumayan bikin keinget masa-masa dikejar deadline tugas kuliah hehe..
Lagi mulai merasakan juga 'beratnya' menjadi seorang ibu. Si Azka yang umurnya genap dua tahun April lalu, mulai bertransformasi menjadi sosok batita yang punya banyaaakk keinginan, keingintahuan, yang kadang-kadang emaknya kurang sabar menghadapinya #istighfar.
Soal Azka ini, memang harus banyak-banyak istighfar. Sebagai orang tua baru, saya merasa harus terus mengingatkan diri saya bahwa anak-anak bukanlah perangkat elektronik yang kalau kita pencet bisa diem, bisa langsung nurut maunya kita. Anak-anak adalah orang dewasa versi kecil. Kadang saya sediih banget kalau habis kelepasan marah sama Azka. Apalagi kalau setelah itu liat Azka yang lagi tidur. Haduh...:( Kayaknya semua ortu (terutama ibu) pasti punya sejuta penyesalan. Merasa berdosa, merasa jadi ibu yang jahat, karena belum bisa sabar menghadapi para bocah itu :(
'He is just a kid...' I remind myself over and over...
Namun entah mengapa kadang terasa berat memakluminya. Kala raga lelah, pikiran penat, lantas melihat si bocah bertingkah, rasanya jadi lupa bahwa ia adalah sosok mungil yang sangat kita harapkan kehadirannya. Dia, yang kita elus mesra saat masih di dalam perut, sambil bergumam, 'sehat-sehat, ya, Nak'. Tangisnya saat bayi dulu yang terdengar amat lucu, mengapa sekarang malah membuat kita ingin kabur dari rumah alih-alih menghiburnya?
Saat tidurlah, saat mata si bocah terpejam.-mata yang sama, yang beberapa jam lalu mengerlip jail- terasa damai ia nampaknya, seolah waktu berputar ke sekian waktu silam dan kita kembali sadar bahwa ia masih kanak-kanak.
Seorang teman berkata, "perlakukanlah anakmu dengan sabar, karena itulah cerminan bagaimana ia akan memperlakukan dirimu di masa tua".
#istighfar
Maaf untuk segala ketidaksabaran Ummi, ya, Nak. Segala kekurangan Ummi, salah Ummi sendiri. Semoga Ummi masih selalu diberi waktu untuk belajar menjadi the best ummi that Azka can have.
I love you, Nak, so much...*mewek*
Label:
Azka,
parenthood,
Personal,
precious thing,
sharing
Monday, February 1, 2016
The Life Without TV
Saya lupa pernah cerita di sini atau enggak, kalau keluarga
kecil kami hidup tanpa TV. Saya refresh sedikit, ya, kalau sudah pernah? Tulisan ini semoga juga menjawab ke-kepo-an beberapa orang tentang no tv rules di rumah kami hihi...
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Singkatnya, waktu saya hamil empat bulan dan masih tinggal
di kontrakan, booster TV kami rusak. Booster ini kalau ga salah fungsinya untuk
menangkap channel TV gitu deh...sort of. Maafkan kalau salah :p. Karena rusak, TV
kami hanya bisa menayangkan gambar semut hitam putih berlarian ke sana ke mari.
Kesibukan suami saat itu membuatnya tidak bisa segera
memperbaiki si booster. Alhasil, kami hidup tanpa TV . Berhari-hari, kemudian
bermingu-minggu. Sampai akhirnya, kami
lupa rasanya nonton TV. Akhirnya kami memutuskan, okay, no TV at home. Sebelumnya
kami memang tahu ada beberapa keluarga yang menerapkan no TV rules. Selama itu,
kami selalu cuma bisa ngiri tapi nggak pernah berhasil nyoba hahaha.. Oke, mungkin ini jalannya :)
Saat pindah ke rumah sendiri pun, TV pun dipajang di tempat kehormatan---tapi
nggak pernah nyala :))
------------------------------------------------------------------------------------------------
Kalau buat saya pribadi, menonton TV itu rasanya seperti I
own the whole time in the world. Kayak waktu itu luaaaang banget sampai nggak
kerasa bisa berjam-jam nonton TV. Belakangan baru sadar, waduh, belum ini itu. Hedehh..
Tanpa TV, buat saya, lebih banyak waktu berkualitas untuk kegiatan yang
lebih bermanfaat. Begitu juga dengan Abinya Azka. Waktu makan malam yang biasanya disambi nonton TV, tidak terjadi di rumah kami. Kami biasa menyegerakan makan malam lantas ngobrol-ngobrol tentang apa aja. Waktu-waktu
ini yang jadi favorit saya, karena Abinya Azka udah kenyang, sambil leyeh-leyeh
bisa dengerin cerita saya dan Azka ngapain aja seharian ini..vice versa.
Family time kami juga tidak pernah berupa nonton TV bareng, tetapi dengan berkebun bersama, reading time, and so on.
Tidak pernah ada waktu yang bener-bener 'nganggur' sehingga harus 'dihabiskan' dengan nonton TV. Bahkan sekarang ini nih, saya dan suami sering merasa, tanpa TV aja kayaknya banyak banget hal-hal yang pengen dikerjain, tapi belum sempat-sempat. Gimana kalau ter-distract sama TV ya? :)
Family time kami juga tidak pernah berupa nonton TV bareng, tetapi dengan berkebun bersama, reading time, and so on.
Tidak pernah ada waktu yang bener-bener 'nganggur' sehingga harus 'dihabiskan' dengan nonton TV. Bahkan sekarang ini nih, saya dan suami sering merasa, tanpa TV aja kayaknya banyak banget hal-hal yang pengen dikerjain, tapi belum sempat-sempat. Gimana kalau ter-distract sama TV ya? :)
Sebenarnya, bukannya saya anti banget sama TV. Namun saya dan suami
kayaknya bukan tipe yang bisa fight the temptation, deh. Karena nggak bisa
melawan, we choose to avoid it.
Hindari sajalah buat amannya haha.. Buktinya, waktu kemarin sebulan liburan di rumah ortu, saya tak kuasa menahan godaan nonton maraton film and those cool tv series di TV kabel... hiks. Nah kan... untung nggak pakai TV di rumah, apalagi masang TV kabel.. apa nggak kacau ntar to do list harian..
| Don't fight temptation. Avoid it.
Hindari sajalah buat amannya haha.. Buktinya, waktu kemarin sebulan liburan di rumah ortu, saya tak kuasa menahan godaan nonton maraton film and those cool tv series di TV kabel... hiks. Nah kan... untung nggak pakai TV di rumah, apalagi masang TV kabel.. apa nggak kacau ntar to do list harian..
Di sisi lain, banyak banget artikel kesehatan yang menegaskan bahaya (dan tidak perlunya) batita menonton TV, atau pun melihat screen gadget. Asosiasi dokter anak Amerika dan Kanada bahkan menekankan anak usia 0-2 tahun tidak diperbolehkan terpapar gadget. Untuk kasus TV contohnya, anak dibawah usia dua tahun memerlukan waktu 4-6 detik untuk memamah perubahan warna, gambar dan suara. Sedangkan di TV, perubahan itu terjadi dalam 2-3 detik. Efeknya? Salah satunya bisa mengakibatkan anak kehilangan minat untuk berkonsentrasi pada kegiatan ‘lambat’ seperti membaca. Duh, males banget kan punya anak yang nggak doyan membaca? :)
Efek negatif lainnya bisa dibaca di sini, di sini, di sini, dan di sini.
So you see, it’s not about me and hubby, but Azka also. Mungkin, kalau Azka sudah dua atau tiga tahun ke atas, kami bisa sedikit lebih longgar. Namun, opsinya jelas bukan membiarkan TV dengan beragam channel-nya hadir di rumah kami, ya. Saya lebih memilih pendekatannya Teh Kiki Barkiah; screen TV hanya digunakan untuk mendukung pembelajaran lewat multimedia. Kita bisa unduh materi yang cocok dikonsumsi anak di Youtube, atau manapun itu, untuk diputar di layar TV, bukan memberikan akses anak untuk menonton channel TV. Kalau kata Teh Kiki, dia bilang tidak ingin hidup keluarganya diatur oleh TV. Mau nonton acara ini, harus jam sekian; padahal bisa jadi jam sekian keluarga kita ada agenda lain. Seringnya, agenda keluarga malah tercecer akibat anak mbelani nonton acara TV favoritnya. Nah kan.. Jadi amannya ortunya saja yang memilih konten multimedia untuk anaknya, dan menentukan kapan waktu yang tepat anak boleh menonton, serta berapa lama durasinya :) Can't be more agree, Teh!
Efek negatif lainnya bisa dibaca di sini, di sini, di sini, dan di sini.
So you see, it’s not about me and hubby, but Azka also. Mungkin, kalau Azka sudah dua atau tiga tahun ke atas, kami bisa sedikit lebih longgar. Namun, opsinya jelas bukan membiarkan TV dengan beragam channel-nya hadir di rumah kami, ya. Saya lebih memilih pendekatannya Teh Kiki Barkiah; screen TV hanya digunakan untuk mendukung pembelajaran lewat multimedia. Kita bisa unduh materi yang cocok dikonsumsi anak di Youtube, atau manapun itu, untuk diputar di layar TV, bukan memberikan akses anak untuk menonton channel TV. Kalau kata Teh Kiki, dia bilang tidak ingin hidup keluarganya diatur oleh TV. Mau nonton acara ini, harus jam sekian; padahal bisa jadi jam sekian keluarga kita ada agenda lain. Seringnya, agenda keluarga malah tercecer akibat anak mbelani nonton acara TV favoritnya. Nah kan.. Jadi amannya ortunya saja yang memilih konten multimedia untuk anaknya, dan menentukan kapan waktu yang tepat anak boleh menonton, serta berapa lama durasinya :) Can't be more agree, Teh!
Sekedar sharing, kami sendiri merasakan keuntungan Azka tumbuh
dalam lingkungan yang minim terpapar gadget; dia tumbuh dengan alami. Main tanah, main air, lihat belalang... Mayoritas aktivitasnya outdoor. Kalaupun di dalam rumah, dia akan sibuk lari sana sini, utak atik ini itu, bukan terpaku di depan TV. Kemampuan motorik, verbal, rasa ingin tahu, dan logikanya yang berkembang pesat, membuat kami sangat bersyukur :)
Kesimpulannya sih, saya merasa hidup kita sudah banyak sekali 'terjajah' oleh teknologi. Teknologi diciptakan tujuannya untuk mempermudah hidup manusia, kan? Selain mempermudah hidup, teknologi juga seharusnya bikin kita tambah pintar, kualitas hidup meningkat, jadi lebih happy dan lebih-lebih yang positif lainnya. Jadi, ya, balik ke kita yang harus pinter-pinter memilih teknologi apa yang suit our lifestyle, bukan malah lifestyle kita berubah ke arah negatif karena teknologi...
Begitu sih menurut sok taunya saya heheehe...
Kesimpulannya sih, saya merasa hidup kita sudah banyak sekali 'terjajah' oleh teknologi. Teknologi diciptakan tujuannya untuk mempermudah hidup manusia, kan? Selain mempermudah hidup, teknologi juga seharusnya bikin kita tambah pintar, kualitas hidup meningkat, jadi lebih happy dan lebih-lebih yang positif lainnya. Jadi, ya, balik ke kita yang harus pinter-pinter memilih teknologi apa yang suit our lifestyle, bukan malah lifestyle kita berubah ke arah negatif karena teknologi...
Begitu sih menurut sok taunya saya heheehe...
Mungkin ada yang mau sharing serupa? I'd love to hear ♥
Wednesday, December 30, 2015
Azka the Spiderman
Assalamualaikum...
Waduh.. ternyata susah juga ya buat istiqomah ngeblog :D
Banyak banget draft separuh jadi yang akhirnya harus masuk trash bin karena kelamaan disimpen, sampe out of date bahasannya atau nggak mood lagi ngelanjutinnya haha...
Sibuk apa sih sebenenrnya saya ini...
Masih khas mahmudah, kesibukan nggak jauh-jauh dari ngurus anak hehe... Azka is turning 20 months old by the way.. Jalannya jelas udah main kenceng (baca: lari kayak tornado), daaan yang harus di-highlight adalaahhh..
semakin hobi manjat-manjat.
Oh, soal manjat ini ada cerita yang masih gress banget. Jadi waktu itu si mbak ART kan lagi nggak masuk. Nah, kalau si mbak nggak masuk, otomatis Ummi harus turun tangan nginem kan.. Pas Ummi lagi cuci piring si Azka jerit-jerit tuh dari ruang tamu. Berhubung doi udah biasa jerit-jerit kaya gitu, Ummi biarin aja. Ah, paling lagi liat hewan apa trus manggil-manggil minta disamperin...gitu pikirnya Ummi sambil teteup nyuci piring. Eh, si Azka masi jerit-jerit aja. Ummi udah bilang "iya, Nak, bentar ya Nak, kurang dikiit.." Tapi si Azka mah kekeuh jejeritan. Akhirnya Ummi ngalah cuci tangan dah terus ngeloyor ke ruang tamu.
And you know what... Darahnya Ummi langsung tersirap! Demi apaa...demi ngeliat si Azka dong yaaa lagi naik teralis jendela. Udah sampai atas cobaa.. udah nyaris dua meter dari lantai. Jadi doi naik kursi tamu, terus naik sandarannya trus loncat deh ke teralis. Hedeuh... Asli Ummi shock banget. Tanpa ba bi bu tapi macak tenang biar Azka nggak kaget, Ummi nyamperin Azka trus nurunin dia -___-
Emang si Azka udah sering sih naik teralis jendela. Cuma biasanya kan ada Ummi di sebelahnya yang siaga; kalau udah terlalu tinggi Azka disuruh turun. Nah, ini karena nggak ada yang ngawasin naik aja terus dia mah.. sampai akhirnya jerit-jerit karena nggak bisa turun -_-
Hidup setelah ada Azka....seru. Jantungan terus tiap hari :)))
Waduh.. ternyata susah juga ya buat istiqomah ngeblog :D
Banyak banget draft separuh jadi yang akhirnya harus masuk trash bin karena kelamaan disimpen, sampe out of date bahasannya atau nggak mood lagi ngelanjutinnya haha...
Sibuk apa sih sebenenrnya saya ini...
Masih khas mahmudah, kesibukan nggak jauh-jauh dari ngurus anak hehe... Azka is turning 20 months old by the way.. Jalannya jelas udah main kenceng (baca: lari kayak tornado), daaan yang harus di-highlight adalaahhh..
semakin hobi manjat-manjat.
Oh, soal manjat ini ada cerita yang masih gress banget. Jadi waktu itu si mbak ART kan lagi nggak masuk. Nah, kalau si mbak nggak masuk, otomatis Ummi harus turun tangan nginem kan.. Pas Ummi lagi cuci piring si Azka jerit-jerit tuh dari ruang tamu. Berhubung doi udah biasa jerit-jerit kaya gitu, Ummi biarin aja. Ah, paling lagi liat hewan apa trus manggil-manggil minta disamperin...gitu pikirnya Ummi sambil teteup nyuci piring. Eh, si Azka masi jerit-jerit aja. Ummi udah bilang "iya, Nak, bentar ya Nak, kurang dikiit.." Tapi si Azka mah kekeuh jejeritan. Akhirnya Ummi ngalah cuci tangan dah terus ngeloyor ke ruang tamu.
And you know what... Darahnya Ummi langsung tersirap! Demi apaa...demi ngeliat si Azka dong yaaa lagi naik teralis jendela. Udah sampai atas cobaa.. udah nyaris dua meter dari lantai. Jadi doi naik kursi tamu, terus naik sandarannya trus loncat deh ke teralis. Hedeuh... Asli Ummi shock banget. Tanpa ba bi bu tapi macak tenang biar Azka nggak kaget, Ummi nyamperin Azka trus nurunin dia -___-
Emang si Azka udah sering sih naik teralis jendela. Cuma biasanya kan ada Ummi di sebelahnya yang siaga; kalau udah terlalu tinggi Azka disuruh turun. Nah, ini karena nggak ada yang ngawasin naik aja terus dia mah.. sampai akhirnya jerit-jerit karena nggak bisa turun -_-
Hidup setelah ada Azka....seru. Jantungan terus tiap hari :)))
![]() |
| rileks di antara jilab jualannya ummi yang doi berantakin *facepalm* |
Oya, menginjak usianya yang kurang empat bulan lagi genap dua tahun ini, banyak banget milestone Azka yang bikin kami takjub; kemampuan verbalnya yang makin meningkat (ceriwisnya ampun dah ))), banyak kosakata baru yang Azka hafal dan dia juga mulai merangkai kata. Misalnya, Hiii..apacuu...(Hiii...apa itu.., Red) kalau ada hewan-hewan kecil yang masuk ke rumah kami. Azka juga sudah paham perintah sederhana, misalnya kalau disuruh buang sampah dia akan otomatis lari ke tempat sampah. Logikanya juga makin berkembang pesat. Contohnya kalau ada air tumpah Azka otomatis nggak akan nginjak airnya dan langsung ngambil kain pel (pertama kali liat ini rasanya senenggg banget, asli tajkub sampai ketawa ketiwi. Oh, ya Allah, anakku pinter banget. gitu deh perasaannya hihi..). Azka juga kalau minum sampai habis, gelasnya langsung Azka taruh di bak cuci -sambil jinjit-jinjit :))) Apalagi ya? Pokoknya banyak banget small things yang bikin kami senyuumm terus tiap hari.
Satu hal lagi, memang bener pake banget kalau anak kecil itu belajar dari meniru. Jadi kadang ada tingkah laku yang kami lakukan udah dari jaman kapan kayaknya, ehhh rupanya terekam di otak Azka, dan dilakuinnya baru-baru ini. Terutama soal kemampuan verbal, mungkin karena beberapa bulan lalu bicaranya masih nggak jelas banget, jadi kitanya nggak terlalu ngeh. Giliran sekarang mulai jelas pronounciation-nya, keluar dah segala macam yang dia denger dulu :)))
Ah, cerita soal anak memang nggak ada abisnya :)
Thursday, July 9, 2015
A Little Notes About My Son
Being a mother could be one of the greatest yet adventurous journeys in my life so far. Mulai dari pertama kali denger tangisan Azka, touching his tiny fingers, holding his fragile shape..everything seems so magical. Too beautiful that I almost burst in tears everytime I look into his eyes.
Memang nggak semua hari was a great-day or even an ok-day. Ada hari di mana saya bisa melototin Azka sambil ngatupin mulut nahan emosi biar ga ngomel-ngomel, because he drives me crazy. Contohnya... waktu dia nyemburin homemade mpasi yang udah susah-susah saya bikin... waktu dia umek aja berjam-jam sementara saya capek banget pengen tidur... sort of. Tapi tetep aja, in the end of the day, wajahnya Azka kalau lagi tidur selalu sukses bikin saya ngerasa bersalah karena belum bisa jadi ibu yang sabar buat dia :'(
In general, Azka adalah anak yang sangat friendly. He can smile easily to strangers. Dan kalau digoda dikit aja, doi bisa gampang melting sama orang lain. Thanks God, soal ini doi nurun gen baik abinya.
Sama ortunya juga gitu. Dia bisa manja banget minta gendong abinya.. nempeeell mulu. Atau kalau umminya lagi duduk atau jongkok, dia sering banget tuh dari belakang tau-tau meluk sambil ketawa-ketawa. Ah, kalau ngalamin yang kayak gini, selalu deh berdoa; semoga Azka manis kayak gini sama abi dan ummi sampai besar nanti, ya, Nak :')
Emang kalau ngomongin anak mah ga bakal ada abis-abisnya. Semoga abi dan umminya Azka bisa menjaga titipannya Allah dengan sebaik-baiknya yaa.. We love you so much, Azka :*
Matanya Azka mungkin adalah salah satu bagian tubuh yang paling ekspresif. Karena Azka belum bisa ngomong lancar secara harfiah, tatapannya banyak sekali ‘bicara’. Mulai dari tatapan happy, curious, sampai tatapan ‘ummi aku jangan ditinggal’ yang selalu bikin saya susaahh banget kalau nggak terpaksa-terpaksa banget ninggalin Azka sama orang lain, selain abinya.
Memang nggak semua hari was a great-day or even an ok-day. Ada hari di mana saya bisa melototin Azka sambil ngatupin mulut nahan emosi biar ga ngomel-ngomel, because he drives me crazy. Contohnya... waktu dia nyemburin homemade mpasi yang udah susah-susah saya bikin... waktu dia umek aja berjam-jam sementara saya capek banget pengen tidur... sort of. Tapi tetep aja, in the end of the day, wajahnya Azka kalau lagi tidur selalu sukses bikin saya ngerasa bersalah karena belum bisa jadi ibu yang sabar buat dia :'(
In general, Azka adalah anak yang sangat friendly. He can smile easily to strangers. Dan kalau digoda dikit aja, doi bisa gampang melting sama orang lain. Thanks God, soal ini doi nurun gen baik abinya.
Sama ortunya juga gitu. Dia bisa manja banget minta gendong abinya.. nempeeell mulu. Atau kalau umminya lagi duduk atau jongkok, dia sering banget tuh dari belakang tau-tau meluk sambil ketawa-ketawa. Ah, kalau ngalamin yang kayak gini, selalu deh berdoa; semoga Azka manis kayak gini sama abi dan ummi sampai besar nanti, ya, Nak :')
Emang kalau ngomongin anak mah ga bakal ada abis-abisnya. Semoga abi dan umminya Azka bisa menjaga titipannya Allah dengan sebaik-baiknya yaa.. We love you so much, Azka :*
Tuesday, May 12, 2015
A Housewife Dilema
This post had been started written in May 1st but finished in May 12th
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aduh, sebenernya saya ini mau ngomong apa sih.. Oh ya,
pertikaian dalam diri..
C'est la vie**
Balik lagi soal stempel mati IRT...
Well, since I know from the first time kalau saya bukan tipe yang bisa diam aja di rumah, for me it just a matter of time saya mulai asyik lagi denga beragam project seru yang biasa saya kerjain. But for now, Azka is my top priority. Saya tahu bakal nyesel banget kalau sampai ngelewatin fase pertumbuhannya Azka. Soal jualan, ngedesain, bahkan sekolah lagi, akan ada banyak waktu untuk itu. Nanti. Tapi kalau ngeliat Azka tumbuh? Tinggal tunggu waktu aja dia mulai asyik main sama temannya dan ga ngintilin umminya ke manapun kayak sekarang :)
Jadi begitulah..
Curhatan saya kali ini...
Maapkeun kalau banyak muter-muternya dan agak gak nyambung prolog sama epilognya... hiksss
Begitulah kalau kelamaan ga nulis. Jangan ditiru yasifat suka ketidurannya yang bikin jadi ga sempet-sempet nulis terus.
I really miss writing. I hope I will have plenty of time in the future to do this routines..
Will try my best to catch up soon!
Much love from Ummi Umar ♥♥♥
*bahasa jawa yang artinya hambar
**bahasa prancis, artinya kira-kira "yahh..begitulah hidup"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kalau flashback ke belakang, katakanlah lima tahun ke
belakang saja, mungkin tidak akan terbayang beginilah kehidupan saya sekarang. Dalam
imajinasi paling liar, bahkan dalam plan paling buruk (saat itu) tak mungkin
terbayang bahwa saya saat ini, tahun 2015, di pagi hari yang cerah di Hari
Buruh, sedang menikmati momen yang sangat langka bernama me-time, di sebuah
kota kecil di utara Pulau Jawa. Ada batita yang tidur lelap di kamar sebelah
dan di halaman tumbuh lebat pohon labu
yang baru saja dipanen, buahnya dibuat kolak yang mengepul hangat menemani saya
menulis.
Betapa Allah bekerja
dengan cara yang misterius.. salah satu frase favorit saya.
Namun memang begitulah adanya..
Sementara saya menulis, angin berdesir lembut, menggoyangkan
vitrage dari jendela pondok mungil kami; saya bersyukur. Sepenuh hati bersyukur.
Syukur yang dibalut takjub pada kuasa Allah; pada rencanaNya yang mengejutkan.
But as every surprise gift… mengejutkan tapi menyenangkan. Walau dalam beberapa
bagian kadang terasa lucu. Bayangkan saja.. dari yang awalnya bercita-cita
lulus kuliah langsung merantau ke Jakarta, bekerja di media, tinggal di
apartemen dan nongkrong di Kemang ba’da kerja, lha kok sekarang jadi ibu rumah
tangga, ngurusin bayi dan bercocok tanam di waktu senggang. Eaaa…kata anak
sekarang. Most amazing part-nya adalah kok ya saya enjoy aja gitu lho..dan ini
pilihan sendiri. Jadi memang perannya Yang Kuasa luar biasa sekali membolak-balik hati saya dalam hal ini; yang awalnya terlihat menarik jadi
tidak, begitupun sebaliknya..
Saya ingat perjalanan saya tiga hari ke Jakarta (dulu, taun
2013. Sendiri saja tanpa suami, hanya mau nostalgia dengan kawan lama) yang
dipenuhi agenda ngantri busway, berdesakan di busway, nungguin macet di dalam busway. Alamaaak..
hidup kok rasanya habis di jalan (all hail for Jakartans yang sanggup menghadapi semua ini every single day!). Bubar jalan keinginan merasakan hectic-nya
ibukota. Biar pak sopir sajalah yang pusing liat mobil berjejal-jejal, saya
duduk anteng di kursi belakang; sambil update Instagram atau tidur ayam,
bangun-bangun sudah sampai Plaza Indonesia. Tentu itu ngayal. Mana ada gaji jurnalis
pemula bisa bayarin sopir pribadi apalagi naik taksi setiap hari. Permisalan
saja lhoo… kalau dulu saya jadi jurnalis beneran di ibukota..
Sebentar, saya jadi lupa awalnya niat nulis apa -.-"
Ya begitulah intinya.. saya sangat bersyukur dengan kondisi
saat ini. Terlihat jauh dari riak, tapi bukan berarti tanpa tantangan. Tantangannya
mungkin lebih ke pertikaian dalam diri.. Terkadang melihat kawan lain sudah
begini begitu, saya kok merasa begini-begini aja. Seolah jadi IRT adalah
stempel mati bahwa selamanya akan berkutat urusan anak dan rumah. But, hey,
adakah yang salah dengan itu? Saya rasa tidak, kalau memang itu adalah pilihan
murni seseorang. Malah jadi ladang pahala. Hail to every IRT yang bisa
stay di rumah 24/7 ngurus suami, anak dan rumah, apalagi kalau tanpa bantuan
rewang. Kalau saya mah tidak bisa, atau belum bias deh.. Bebersih rumah sendirian
sangat takes time dan melelahkan buat saya. Kalau masak masih okelah.. karena
hobi juga. Prinsip saya, mah, waktu dan tenaga kita terbatas. Jadi kalau ada
kerjaan yang kira-kira 80% bisa dikerjakan dengan baik oleh orang lain, maka
delegasikanlah saja hehehe...
Saya mah suka galau kadang-kadang kalo liat si A atau si B.
Namanya manusia yaa..durian tetangga selalu terlihat lebih menggiurkan. Padahal
si A si B mah bisa jadi galau juga kalau liat saya haha.. Situ punya karier oke,
tapi galau jodoh. Sini Insya Allah udah ketemu jodohnya tapi definisi kariernya
masih ngambang... daan sebagainya. Ya ya ya.. wajar ya sekali-kali galau, namanya manusia. The
most important thing is cepet-cepet ingat dan bersyukur aja. Inget kalau duren
tetangga yang keliatannya lebih besar belum tentu dagingnya setebel dan semanis
punya kita. Bahkan bersyukur at least kita punya duren daripada ada tuh yang ga punya
duren walaupun kecil dan rasanya sepo* (ini apa yak kok malah ngomongin
duren?? Penting banget yaaa perumpamaannyaaa..).
C'est la vie**
Balik lagi soal stempel mati IRT...
Well, since I know from the first time kalau saya bukan tipe yang bisa diam aja di rumah, for me it just a matter of time saya mulai asyik lagi denga beragam project seru yang biasa saya kerjain. But for now, Azka is my top priority. Saya tahu bakal nyesel banget kalau sampai ngelewatin fase pertumbuhannya Azka. Soal jualan, ngedesain, bahkan sekolah lagi, akan ada banyak waktu untuk itu. Nanti. Tapi kalau ngeliat Azka tumbuh? Tinggal tunggu waktu aja dia mulai asyik main sama temannya dan ga ngintilin umminya ke manapun kayak sekarang :)
Jadi begitulah..
Curhatan saya kali ini...
Maapkeun kalau banyak muter-muternya dan agak gak nyambung prolog sama epilognya... hiksss
Begitulah kalau kelamaan ga nulis. Jangan ditiru ya
I really miss writing. I hope I will have plenty of time in the future to do this routines..
Will try my best to catch up soon!
Much love from Ummi Umar ♥♥♥
Friday, April 3, 2015
Selamat Milad, Anakku...
![]() |
| 5 April 2014. Umar Azka, 2 days old :) |
Ini adalah draft kedua yang Ummi tulis, Nak, setelah draft yang pertama dengan sangat terpaksa dihapus karena terlalu...cheesy?
Tapi memang Ummi jadi gampang cheesy kalau berhubungan sama Azka..
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
It feels like yesterday...
Mi menemukan blood spot yang keluar bersama lendir dari jalan rahim. Unexpected.. karena Azka perkiraan masih baru akan lahir 10 hari lagi.
Dini hari itu, Nak, menjelang pukul dua, Mi berasa dalam mimpi, naik taksi bersama Utimu ke RS. Terlebih ketika perawat memastikan air ketuban Ummi rembes dan Mi harus bedrest di RS sambil menunggu kontraksi. Seriusan gue mau lahiran sekarang?? Bahkan tas perlengkapan yang sudah siap sedia pun tidak Ummi bawa ke RS. Eh seriusan ini??
Long story to be short, setelah hampir 12 jam Azka belum mau keluar sendiri, Mi akhirnya harus diinduksi. Ya Allah..betul-betul Mi nggak tau sebegitu sakitnya diinduksi..rasanya mau mati. Waktu terasa begitu lama. Rasa sakit yang berputar-putar membuat Mi nyaris kehabisan tenaga. Untung ada Abi di samping Ummi, yang menangkap gerakan lemah Mi saat minta disuapi pisang atau pocari untuk booster energi. Utimu? Hanya bisa memantau dari kejauhan karena ga tega melihat Ummi kesakitan.
Akhirnya sayang.. pukul 21.50 kamu lahir. Tangis pertama Azka membuncah bersamaan dengan hilangnya sakit pada tubuh Ummi. Bayi Ummi..kesayangan Ummi.. Mi teringat berucap "lucunya..lucunya.." bersamaan dengan airmata yang menderas di pipi. All the pains were paid off.
Umar Azka Al Faruq Wahid. Pemimpin yang paling bersih pembeda antara yang haq dan yang batil.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anakku...
Hari Azka genap berumur setahun. Usai sudah masa menghitung usiamu dengan hitungan bulan..
Anakku...
Akan tiba masanya Ummi Abi tidak ada di sampingmu untuk melindungi Azka... betapapun inginnya kami. Akan tiba masanya Azka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Betapa dunia tidak sekedar hari ini bermain tanah bersama Abi... disuapin makan sama Ummi.. Akan tiba masanya dunia terasa begitu kejam dan tidak adil..Tapi di sanalah, Nak, tantangannya... Di sanalah Azka harus ikut berperan, jangan menjadi mereka yang hanya berani diam dan ikut arus. Sampaikanlah kebenaran walau itu pahit, Al Faruq! Berpeganglah pada buhul tali yang kokoh, Islam. Gantungkanlah hidupmu hanya pada Allah SWT.
Anakku...
Baru kemarin rasanya Ummi memandikanmu dengan hati-hati.. menggendongmu dengan mudah.. berbaring di sampingmu dan berpikir, apakah Azka sudah bisa mengenali Ummi. Sekarang Azka sudah bisa jalan..Ummi kalau nggendong Azka rasanya beraaat banget. Azka juga udah bisa diajak main petak umpet dan selalu mau ikut kalau Mi pergi..
Doa Ummi, Nak, semoga Azka menjadi pribadi yang jauuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh lebih baik dari Ummi dan Abi dalam segala hal. Semoga Allah menjaga Azka selalu berada dalam keimanan... Sehingga pada saatnya nanti kita bisa berkumpul bersama di Jannah-Nya.
![]() |
| 24 Agustus 2014. Azka dan Ummi di suatu pagi yang cerah |
Label:
afterlife marriage,
Azka,
lil serious,
photowork,
sharing
Thursday, November 13, 2014
The Name
![]() |
| My baby, seven days old when having his aqiqah |
Umar Azka Al Faruq Wahid
Umar derived from Umar ibn Al Khattab and Umar ibn Al Aziz, Both were great caliphs.
Azka (arabic) means purest, holy
Al Faruq (arabic) means "the one who distinguishes between right and wrong". It was the title earned by Umar ibn Al Khattab
Wahid (arabic) means the first, and also his father's name
"The purest and holy caliph who distinguishes between right and wrong"
-pemimpin yang paling bersih dan suci, pembeda antara yang haq dan yang batil-
"Giving name works as pray. So pray as long as you can"
Widya Reswari, 2014
Label:
afterlife marriage,
Azka,
precious thing,
sharing
Wednesday, October 8, 2014
A Humble Hello
![]() |
| Our baby, right after seeing the world for the first time :) |
Assalamualaikum dear readers..
Seneng banget akhirnya bisa bener-bener aplot tulisan di blog :) Maafkaeun untuk postingan hamil saya yang mendadak berenti, not to mention penulisnya yang juga tiba-tiba ngilang selama..well, 6 months to be exact? Literally the longest hiatus I have ever made ya..
Well, ga ada excuse lain selain saya bener-bener sibuk di minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran si dedek..belum lagi kelahiran si Cibon yang maju 10 hari dari perkiraan, bener-bener bikin kaget dan bikin Plan A langsung loncat ke Plan Z hehehe.. That's why, jangankan buat duduk anteng di depan kompie, bisa tidur nyenyak aja bener-bener jadi sebuah kemewahan buat saya.. (ini si dedek lagi tidur anteng banget jadi saya finally bisa nulis sedikit.. hooray!)
But afterall, sekarang si kecil yang dulu dipanggil Cibon udah genap berumur 6 bulan. Insya Allah kedepan akan lebih banyak waktu luang dan energi untuk nulis, since that restless nights already over (aamiinn!). So, see you very soon, eh? :)
Much love from me and not-longer-called-Cibon
xxx
Label:
afterlife marriage,
Azka,
my daily stats,
photowork,
sharing
Subscribe to:
Posts (Atom)




