Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Tuesday, October 11, 2016

Kelas Menulis Puisi

Assalamualaikum.. gimana kabarnya semua? Semoga sehat-sehat semua yaa....
Alhamdulillah Azka sekeluarga sehat semua.. :)

Saya mau cerita dikit nih soal Kelas Menulis FLP Tuban-atau disingkat Semut- yang saya ikuti kurang lebih tiga bulan belakangan ini. Soal FLP sendiri nggak usah panjang lebar saya jelasin, ya, kayaknya udah pada familiar sama komunitas menulis yang satu ini.


Untuk FLP chapter Tuban sendiri sebenarnya saya udah tahu agak lama, karena saya kenal salah satu pengurusnya juga Mbak Hidayati Nur. Namun, saya belum bergabung karena waktu itu belum terpanggil (haha). Akan tetapi lambat laun saya menyadari, memang kadang kita butuh komunitas, suatu lingkungan di mana kita melakukan sesuatu secara bersama alias berjamaah, jadi in case lagi malas atau apa, ada teman yang mengingatkan. Satu lagi, semangat itu kan nular ya. Saya mau banget, dong, ketularan semangat temen-temen yang aktif menulis!

Akhirnya saya tanya-tanya deh ke Mbak Nur.. dan pas banget, FLP Tuban lagi bikin kelas menulis. Nggak pikir panjang, daftar deh saya!

Kelasnya asyik; nggak formal, serius tapi santai. Serius karena semua sama-sama pengen belajar, santai karena banyak canda tawa. Tiap pertemuan pembicaraya berbeda dengan tema yang berbeda pula. Saya banyak dapat insight dan yang jelas, banjir inspirasi dan motivasi setelah ikut kelas ini. Sayangnya saya belum punya dokumentasi fotonya. Insya Allah kalau bikin postingan tentang Semut lagi, saya posting deh sama fotonya :)

Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah sesi kelas menulis pusi yang diisi oleh (Mas/Bang?) Ikal. Walaupun yang ngisi masih muda (dan kayaknya masih single juga-dilihat dari cara penyampaiannya yang ada campuran curcol dan sepik-sepik dikitnya haha.. Peace, yo, mas! ), materinya menurut saya sangat bagus. Di samping, saya sendiri memang punya perasaan lebihlah.. sama yang namanya puisi.

Mengutip katanya Mas Ikal, kalau diibaratkan prosa adalah pintu, maka puisi adalah jendelanya. Tafsirannya kurang lebih (versi saya nih, ya, karena lupa redaksional pastinya Mas Ikal bilang apa); jendela itu bisa bertirai, lebih tertutup dibandingkan pintu tempat orang keluar masuk. Kalau jendela, ibaratnya kita hanya bisa melihat secuil, secuplik. Ada kaitannya juga dengan bahasa puisi yang konotatif, tidak selugas dan sepanjang prosa.


Daaann.. seperti sesi-sesi kelas yang lain, di kelas puisi ini pesertanya juga kudu praktek. Haha.. ini yang bikin saya asliii nggak pedee... Saya selalu merasa diksi saya kurang ciamik, hiks. Satu lagi yang belakangan saya sadari-dan tahu ternyata kurang tepat, bahasa puisi saya terlalu lugas. Saya seolah ingin pembaca mengerti dengan puisi saya; apa yang saya maksud, saya rasakan.. Padahal tidak begitu menurut Mas Ikal. Ketika puisi sudah ter-publish dan dibaca orang lain, penafsiran adalah hak preoregatif pembaca.. Jadi, nggak ada yang benar dan salah, ya, hanya beda penafsiran (jadi ingat Unas Bahasa Indonesia jaman sekolah dulu, suka ada soal pilihan ganda tentang arti dari sebuah pusi. Ini termasuk soal yang sering bikin saya bingung :D)

Nah, setelah selesai praktek, puisi-puisi ini lalu dievaluasi oleh Mas Ikal.. Kurangnya di mana, diksinya yang lebih tepat bagimana biar lebih cantik..

Temanya waktu kalau nggak salah tentang benda di dalam kelas yang indah. Saya memilih jendela :)




-Senja di Jendela-

angin berhembus membawa cerita
menyisakan ampas kopi dan kaca
aku bersiap menutup jendela
di luar pohon berubah jingga
                                                       18/9/2016



Well, positifnya, saya kembali menulis puisi lagi, sejak... kapan, ya, terakhir kali nulis puisi? :)
Saya juga jadi ingat guru-guru saya dulu, temen-teman dan para suhu menulis di Kalimantan :') Ingat jaman waktu rajin beli dan baca majalah sastra Horison dan ngayal kapan karyanya bisa dimuat di situ (sayangnya sampai majalahnya berhenti terbit, ternyata belum kesampaian juga)..



Anyway, terima kasih para Mbak dan Mas punggawa FLP Tuban untuk Semutnya. Nggak sabar untuk ikut kelas berikutnya yang pasti sama serunya :)

Tuesday, October 4, 2016

Tentang Bocah yang Memanggilku Ummi

Bocah manis istimewa itu, Al Faruq kesayanganku, kemarin berusia tepat dua tahun enam bulan. Kealpaan kami sebagai orangtua untuk mengingatnya. Mungkin karena kini usianya sudah tak lagi dalam bilangan bulan kah, sehingga penambahan umur sebulan tak lagi istimewa? Mudah-mudahan tidak. Saya sendiri lebih memilih percaya pikiran kami lebih tersedot pada balada si Abi yang lembur dua malam berturut-turut (di akhir minggu) sebagai penyebab kealpaan ini.

Bagaimananpun, selamat milad, Anakku. Sayangku tak pernah berkurang dari dulu, bahkan semakin menumbuh. Ibarat pokok pohon yang akarnya semakin dalam menghunjam ke bumi, itulah kasihku padamu, Nak.

Memang ada kalanya Ummi marah; terlontar nada keras. Tetapi, Nak, itu akan selalu jadi hal yang Ummi sesali. Mengapa tak bisa lebih sabar pada dirimu, yang masih begitu muda mencecap dunia. Mengapa begitu egois Ummi memintamu pengertian, saat Ummi sedang lelah atau sibuk? Padahal sudah berkali-kali Ummi mengingatkan diri, tak ada kesibukan di atas kesibukan mengurusmu. Astaghfirullah :’(. Nantinya, seperti yang lalu-lalu, saat kau akhirnya terlelap, Ummi akan beringsut di sisimu, memegang jemari mungilmu dan membisikkan kata maaf. Lagi-lagi keegoisan Ummi, memintamu untuk selalu memaaafkan :(

Doa kami selalu, Nak.. Azka tumbuh menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat. Karena doa terbaik adalah yang selalu dipanjatkan, maka kami abadikan dalam namamu. Umar Azka Al Faruq Wahid, jadilah pemimpin yang paling bersih dan suci, pembeda antara yang haq dan yang batil. Aaminn..



I love you so so much, Anakku..


-Ummi- 

*Ditulis saat Azka terlelap, setelah hari yang panjang, menguras emosi dan penuh air mata.



Thursday, September 22, 2016

Balance

Halo, assalamualaikum... Senang sekali bisa nulis kembali :) Belakangan ini saya lagi sibuk banget memenej ulang waktu untuk urusan anak, rumah, dan yang cukup banyak menyita waktu saat ini yaitu; bisnis rumahan saya. Hihi kece banget nyebut bisnis ya? Well, let's say usaha rumahan :p. Nah, usaha yang dulunya diawali untuk ngisi waktu senggang ini ternyata mulai tumbuh dan ngambil jatah waktu-waktu yang saya alokasikan untuk ngurus anak dan urusan domestik lainnya, bahkan me time juga! Wah, kacau banget... Bahkan untuk nulis to do list harian yang saya rutin lakukan aja seringkali nggak sempet. Gimana bisa sempet, kalau hari-hari saya penuh dengan rutinitas cek orderan, cek stok, packing bahkan melayanin customer yang datang ke rumah.. Eits, bukan ngeluh, ya. Alhamdulillah bersyukur banget... Cuma di sisi lain, saya tahu ini nggak boleh dibiarkan; bisa-bisa saya jadi robot yang hanya menjalankan rutinitas itu itu aja tiap harinya, sampai nggak sadar waktunya habis. Oleh karena itu saya lagi menej ulang waktu saya, supaya semua urusan bisa balance lagi :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Saya banyak baca sharing dari sesama mahmud yang punya usaha gimana cara mereka membagi waktunya. Beberapa yang lebih dulu sukses sudah punya admin sendiri untuk handle customer, jadi nggak terlalu diributin sama urusan remeh temeh tapi takes time macam packing dan rekap order. Beberapa memanfaatkan waktu saat anak sekolah/tidur siang/tidur malam. Nah ini.. berhubung Azka bobok siangnya suka nggak ketebak jam dan lamanya, plus kalau malam habis Isya saya biasanya juga udah teler, jadi terpaksa realistis deh dengan dua opsi tersebut. Tinggallah opsi sekolah..

Sebenernya sejak sebelum genap dua tahun, Azka udah mulai nebeng sekolah di PAUD deket rumah. Kenapa dibilang nebeng? Karena ga serius sekolah hihi.. Seragam aja nggak beli :p Niatnya murni supaya Azka belajar bersosialisasi aja, karena di lingkungan rumah kami rata-rata anaknya udah usia SD ke atas. PAUD ini masuk tiga kali seminggu, sekolahnya mulai jam setengah sembilan sampai jam sepuluh. Lumayan laahh.. Azka jadi bisa ketemu teman sebayanya, karena ternyata cukup banyak anak seusia Azka yang nebeng sekolah di sana juga hihi..

As time goes by, itu ternyata nggak cukup buat Azka. My lovely son mulai minta lebih. Kalau nggak waktunya sekolah doi biasanya merengek 'mau ke lumah bu gulu' -ke PAUD maksudnya :)). Azka juga lebih gampang cranky kalau di rumah cuma berdua sama umminya. Dulunya kalau capai banget saya bisa pesen 'Azka main sendiri dulu ya, ummi mau bobok'. Sekarang boro-boro... adanya umminya ditarik-tarik..'ummi cini.. cini..'. Rebahan dikit udah ditegur, 'ummi duduk.. duduk..' sambil nepok-nepok lantai. Hiks..beneran butuh temen, nih, buat nyalurkan energinya yang ekstra.


Akhirnya muterlah emaknya, dan ketemu deh sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas baby school. Jadi baby school ini ibaratnya tengah-tengah antara baby daycare sama PAUD. Mungkin awalnya untuk menjembatani anak-anak yang dititipkan tapi udah terlalu besar untuk masuk baby daycare kali, ya, dan masih terlalu kecil untuk masuk PAUD. Setelah survei beberapa waktu, akhirnya menjatuhkan pilihan pada salah satu baby school..

Senengnya sama baby school yang satu ini, anak-anaknya relatif banyak, jadi Azka bisa punya banyak teman dengan berbagai karakter. Kurikulumnya juga menarik dan sesuai usia mereka. Waktunya pun cocok, Senin sampai Jumat, durasinya mulai jam delapan sampai setengah 11 siang. Last but not least, visinya baby schoolnya ini cocok dengan nilai-nilai yang kami ajarkan di rumah. Di usia emasnya ini kami betul-betul kalau bisaa menjaga banget supaya Azka nggak terkontaminasi yang aneh-aneh dulu hehehe..

Alhamdulillah so far Azka betah di sana, walaupun sempet kangen dengan PAUD-nya yang lama. Masih dalam kategori wajar lah ya, namanya di sana udah setengah tahun, yang ini baru hitungan hari. Bersyukurnya Azka selalu excited ketemu cucajah (ustadzah) dan cemen-cemen barunya :)) Saya masih mengobservasi terus perkembangannya Azka di sana, apakah dia happy atau enggak. Semoga sih happy terus ya, Nak :)


Nah, terus apa hubungannya Azka sekolah dengan menejemen waktu saya? Harapannya sih dengan Azka sekolah tiap hari, kegiatannya dia jadi lebih teratur, dan ngurangin frekuensi cranky-nya dia di rumah. Thus, saya jadi lebih mudah untuk membagi waktu. Dua hari di awal sekolah sih udah mulai keliatan. Pulang sekolah Azka main sebentar, makan siang, trus langsung bablas bobok. Lumayan dua jam di siang hari bisa saya gunakan untuk benar-benar fokus bekerja. Sore hari Azka bangun dengan segar, saya bisa full lagi main sama dia sampai malam. Biasanya karena Azka kadang bobok pagi, kadang bobok sore, kadang juga nggak bobok sama sekali, kadang bobok sebentar tapi di dua waktu, saya jadi agak pontang panting ngurus ini itu, dan nggak bisa bikin janji yang pasti sama orang-orang. Cukup dua jam tapi kalau konsisten tiap hari Insya Allah efeknya bakal luar biasa..


Walaupun awalnya usaha ini dibuat untuk mengisi waktu senggang, tapi sekarang udah nggak bisa dibuat main-main lagi karena banyak orang yang ikut saya.. Harus dihandle dengan lebih serius.. Jadi bisa bagi-bagi rezeki ke yang lain, dan jadi ladang dakwah juga, Insya Allah :)


Goal saya adalah membuat sebuah sistem yang sudah stabil, jadi secepatnya saya udah bisa seperti temen-temen lain yang menyerahkan teknis usahanya pada asisten..
Supaya saya bisa punya waktu lebih banyak buat Azka...dan adik-adiknya nanti...

Dan bapaknya juga dehhh ;p


Temen-temen ada yang punya bisnis berawal dari rumah seperti saya juga? Sharing dong, I'd love to hear! :)

Thursday, June 2, 2016

Kenapa Harus S2 di Luar Negeri?

Beberapa waktu yang lalu, salah satu kawan saya di komunitas menulis mengabarkan bahwa beliau sedang dalam proses seleksi beasiswa sekolah ke luar negeri. Tidak perlu saya sebut namanya, karena si mbak satu ini mungkin akan baca tulisan ini juga hehe...

Di kota kecil seperti Tuban, menemukan orang dengan mimpi besar seperti si mbak ini adalah hal yang cukup langka buat saya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Melanjutkan sekolah ke luar negeri rasa-rasanya menjadi mimpi banyak mahasiswa, termasuk saya. Selepas kuliah, saya berencana melanjutkan kuliah jenjang strata dua di Australia (maunya..hehe..). Namun qadarullah saya bertemu jodoh cukup cepat sehingga selepas wisuda, hanya selang dua bulan, kami menikah. Saya lantas memilih untuk ikut suami merantau ke kota kecil yang namanya belum familiar buat saya, apalagi letaknya dalam peta (saya emang nggak pinter Geografi dari dulu).

Setelah menikah saya banyak disibukkan oleh aktivitas rumah tangga, terlebih pasca memiliki anak. Melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi semakin terasa jauh... walaupun jujur saya akui, dalam lubuk hati yang terdalam, mimpi itu masih ada. Come on... siapa sih yang nggak pengen sekolah di luar negeri, apalagi kalau dibayarin?

Beberapa kawan dan adik kelas saya ada yang mendapatkan kesempatan berharga ini. Foto-foto mereka cukup bikin saya mupeng hehe... Namun, saya tahu, ada harga yang harus dibayar untuk itu. Tak semua seindah foto di Instagram...

Saya baca sendiri perjuangan temen saya Tika untuk mendapatkan tiket beasiswanya. Usaha kerasnya terbayar ketika ia akhirnya bisa kuliah di negeri Ratu Elizabeth. Tulisan tentang perjuangannya mendapatkan beasiswa terasa keras (dan kadang getir), tetapi saya menemukan sisi melankolis yang terselip. Salah satunya ketika Tika bilang (correct me, ya Tik), alasannya memilih Southampton University salah satunya karena ada program yang memungkinkan ia lulus dalam setahun. Sehingga, ia tidak perlu terlalu lama berjauhan dari keluarganya. Ya, Tika memang sudah bersuami...

Beberapa teman yang lain cukup beruntung karena memiliki pasangan yang bisa diajak serta merantau ke luar negeri. Paling nggak, homesick-nya ada yang nemenin hehe...

Sebenernya bukan poin keluarga saja yang membuat saya agak berat untuk 'berjuang' supaya bisa sekolah lagi di negara seberang. Namun, justru alasan paling mendasarlah yang belum bisa saya jawab hingga saat ini; kenapa harus S2? Atau lebih tepatnya, kenapa harus S2 ke luar negeri? Lupakanlah soal jawaban general 'saya ingin menuntut ilmu lebih tinggi'; saya yakin tidak akan meyakinkan penguji beasiswa manapun...
Saya bukanlah pendidik yang mungkin selepas kuliah bisa mendarma baktikan ilmunya kepada para anak didiknya...
Saya juga bukan wanita karier yang bisa mengimplementasikan ilmunya di tempat kerjanya...
Saya hanyalah ibu rumah tangga biasa yang suka menggambar dan menulis, serta sedang belajar berbisnis. Saya belum menemukan 'it' point yang membuat saya berbeda dengan para pemburu beasiswa lainnya...


Saya cuma ingin..


sekolah lagi..


merasakan sekali lagi duduk di bangku, memegan pena dan mencatat..
tenggelam dalam lautan buku di perpustakaan, menghirup aromanya yang sangat saya suka..
saya ingin berjalan-jalan di taman kampus..
dengan ransel terpanggul penuh buku; duduk di rerumputan dan membaca..

Saya rindu begadang menulis paper..
Saya kangen dengan rutinitas akademik, menyedot ilmu dari para dosen..
mengalami 'aha!' momen sekali lagi dalam kelas..


Tapi saya tidak ingin (atau belum ingin),
mengalami semua itu dalam beban kekhawatiran apakah Azka sudah makan dengan cukup..
apakah Azka masih TV-free and gadget-free
apakah Azka masih hidup sesuai standar yang saya tetapkan, sama seperti ketika saya di sampingnya..
dan begitu juga Abinya Azka..

Saya sadar bahwa kedua hal tersebut akan sulit dicapai dalam kondisi sekarang..
Kondisi saya yang sekarang..

Jadi, saya cukup puas dengan kata-kata Abinya Azka bahwa semua ada waktunya, dan mungkin bukan sekarang waktu saya..tapi saya tahu bahwa waktu itu pasti akan ada!
Sementara waktu itu datang, saya bisa memikirkan masak-masak pertanyaan "kenapa saya harus S2 di luar negeri?" :))




Anyway, Mbak Nur, semoga sukses berburu tiket ke Leidennya, ya! xoxo


Friday, May 20, 2016

#ngapainaja ?

Masihh teteup jadi full time housewife and part time everything else kok :D

Handphone yang biasa buat ngeblog masih belum berhasil dibenerin, dan komputer juga makin sering macet, jadi agak susah buat ngeblog.

By the way, belakangan ini saya lagi asyik belajar jualan, dan bantu-bantu temen yang butuh jasa desain. Lumayan bikin keinget masa-masa dikejar deadline tugas kuliah hehe..


Lagi mulai merasakan juga 'beratnya' menjadi seorang ibu. Si Azka yang umurnya genap dua tahun April lalu, mulai bertransformasi menjadi sosok batita yang punya banyaaakk keinginan, keingintahuan, yang kadang-kadang emaknya kurang sabar menghadapinya #istighfar.

Soal Azka ini, memang harus banyak-banyak istighfar. Sebagai orang tua baru, saya merasa harus terus mengingatkan diri saya bahwa anak-anak bukanlah perangkat elektronik yang kalau kita pencet bisa diem, bisa langsung nurut maunya kita. Anak-anak adalah orang dewasa versi kecil. Kadang saya sediih banget kalau habis kelepasan marah sama Azka. Apalagi kalau setelah itu liat Azka yang lagi tidur. Haduh...:( Kayaknya semua ortu (terutama ibu) pasti punya sejuta penyesalan. Merasa berdosa, merasa jadi ibu yang jahat, karena belum bisa sabar menghadapi para bocah itu :(


'He is just a kid...' I remind myself over and over...


Namun entah mengapa kadang terasa berat memakluminya. Kala raga lelah, pikiran penat, lantas melihat si bocah bertingkah, rasanya jadi lupa bahwa ia adalah sosok mungil yang sangat kita harapkan kehadirannya. Dia, yang kita elus mesra saat masih di dalam perut, sambil bergumam, 'sehat-sehat, ya, Nak'. Tangisnya saat bayi dulu yang terdengar amat lucu, mengapa sekarang malah membuat kita ingin kabur dari rumah alih-alih menghiburnya?


Saat tidurlah, saat mata si bocah terpejam.-mata yang sama, yang beberapa jam lalu mengerlip jail- terasa damai ia nampaknya, seolah waktu berputar ke sekian waktu silam dan kita kembali sadar bahwa ia masih kanak-kanak.


Seorang teman berkata, "perlakukanlah anakmu dengan sabar, karena itulah cerminan bagaimana ia akan memperlakukan dirimu di masa tua".

#istighfar



Maaf untuk segala ketidaksabaran Ummi, ya, Nak. Segala kekurangan Ummi, salah Ummi sendiri. Semoga Ummi masih selalu diberi waktu untuk belajar menjadi the best ummi that Azka can have.
I love you, Nak, so much...*mewek*


Saturday, February 20, 2016

Suami sejati itu..

Suami sejati itu..

Yang punya power untuk bilang ke istrinya; 

“hidupalah dengan qona’ah, bukan uangku yang mencukupi kita, tetapi Allah”*

Yang bisa membuat istrinya tinggal di rumah untuk mendidik anaknya..
Tidak mensubkontrakan pendidikan agama anak pada sekolahan..

“ketika sperma dan sel telur bertemu, bukankah kita pada saat itu menjadi babysitter-nya Allah?”*

Istri sejati itu seharusnya..

Tahu bahwa kemuliaannya bukan dengan segambreng gelar, aktivitas di luar, pandangan kagum khalayak, dan gaji berdigit-digit..
Yang  sadar bahwa pendidikan tingginya adalah bekal terbaik untuk mendidik anak-anaknya..
Yang  segala kelebihannya membuatnya semakin taat kepada suaminya, bukan sebaliknya..
Yang tahu, sadar, bahwa dunia ini terlalu hina untuk dijadikan tujuan, sehingga pada akhiratlah ia menuntun anak-anaknya.



*tulisan ini terinspirasi oleh presentasi  Elly Risman. Beberapa quotes dari beliau juga saya cantumkan di sini Terima kasih Ibu. Semoga Allah selalu memberkahi ibu dan keluarga ibu. Aamin.



Monday, December 21, 2015

A Letter to a Friend

Two of my favorite people was born in third day of month. The first was my son, the next one was Aldila :)


Please take it as an apology for being so dumb forgetting your birthday, ya, Dil :* Aslinya guweh ingeettt...tapi mau chat malah kelupaan sampai besok, besok dan besoknya :(



---------------------------------------------------------------------------------------------------
2007
---------------------------------------------------------------------------------------------------


Sore itu cerah. Dedaunan berdesir tertiup angin. Angin membelai manja wajah-wajah polos kami, para mahasiswa baru Jurusan Desain. Dengan kostum bertema sporty 80’s, kami tampak mencolok di pelataran Masjid Manarul Ilmi. Memang ospek Jurusan Desain terbilang seru karena minus baju wajib ospek yang membosankan itu; setelan putih hitam. Namun ospek tetaplah ospek. Tidak banyak dari kami yang bertukar senyum. Tidak banyak yang memanfaatkan waktu untuk saling berkenalan. Tapi sore itu, saat kami duduk-duduk rehat di sela aktivitas ospek, Allah memalingkan wajah saya dan wajahnya untuk saling bertatapan. Ia nyeletuk ringan dan saya menanggapi. Kami lantas berkenalan. Langsung terpatri di benak sosoknya yang manis dan hangat. Sekejap, ia menjadi sahabat saya. Salah satu sahabat pertama saya di masa kuliah :)


Saya langsung lengket dengan Dila. Perbedaan prodi, dia di Interior saya DKV, tidak membuat intensitas pertemuan kami berkurang. Masa kuliah awal yang belum begitu sibuk membuat kami banyak punya waktu luang untuk window shopping atau nonton konser bersama. Saya yang dari kota kecil di Pulau Kalimantan dengan cepat belajar dari Dila yang tergolong anak gaul haha... Keliling dari satu distro ke distro lain (waktu itu distro masih hip banget di Surabaya hihi)...nonton gig band-band indie (yang awalnya terdengar aneh di kuping—biasanya dengerin boyband :)) ).. mengunjungi pameran.. pasar barang bekas...semua Dila yang kenalkan. 


Salah satu momen paling sedih itu mungkin pas Mamanya Dila nggak ada. Subuh-subuh saya dapat telpon dari Dila, kirain ada apa. Ternyata dia ngabarkan kalau mamanya kecelakaan dan meninggal sepulang dari silaturahim lebaran. Sayapun shock. Tone suaranya Dila terdengar biasa saja waktu itu, dan dia masih bisa ketawa kecil untuk meyakinkan saya bahwa kabar itu benar adanya. Saat telpon ditutup saya masih shock tapi segera menelpon kawan yang lain untuk mengabarkan. Paginya saya bertakziah ke rumahnya tapi hanya menemui adiknya yang berucap ‘Kak La lagi istirahat’. Bada’ Dzuhur baru saya sempat melihat wajahnya saat mengantar mamanya ke peraduan terakhir. I guess that was the first and the last time I saw she cried.


Ada yang pernah bilang bahwa persahabatan itu tidak seharusnya mengikat. And I can’t be more agree than it. When we grow, we may change. People do change right? Saat orang berubah mungkin ia akan mencari lingkungan baru, orang-orang baru yang lebih cocok dengannya. Ada kalanya kita harus merelakan orang-orang terdekat kita untuk mencari ‘kolam’nya yang lain. And that is okay..

(If you want, you can stay. So whenever they comeback or even just checking, they know you always there :) )



I guess that was what happen to us.



Seiring dengan makin sibuknya perkuliahan, semakin jarangnya waktu luang (saya mulai aktif di pers kampus yang lumayan menyita waktu karena jam kerjanya yang tak menentu), lama kelamaan jadi semakin susah mencocokkan jadwal kosong. Intensitas bertemu dan jalan-jalan bareng pun berkurang. Quality time jadi berkurang.

Di saat yang sama kami  jadi lebih sering nongkrong dengan temen-temen seprodi yang notabene lebih sering ketemu. Saya punya temen-teman baru yang saya ajak curhat atau saya ajak nge-mall, so did her. Ada orang lain yang pertama-tama saya ceritain about the guy next door. So did her. Maybe.


Suka atau tidak suka, diakui atau tidak, kadang keluar bareng jadi sekedar formalitas, sekedar karena sudah lama tidak keluar bareng. Obrolan jadi agak nggak nyambung karena masing-masing mengembangkan ketertarikan yang berbeda. Bingung mau ngobrolin apa, padahal dulunya sampai nggak tidur gara-gara ngobrol. Guyonan kadang juga nggak bisa lepas seperti dulu. Selesai hang out yang biasanya berwujud nonton atau makan bareng, kami langsung pulang. Selesai.


 ---------------------------------------------------------------------------------------------------
2015
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------


How time flies, ya, Dil?


Mungkin sudah lewat waktunya buat aku untuk ngebelain pulang tengah malam demi gig band indie..
(To be honest, I stop listening to them. I forgot where did the last time I used my Ipod. )

Mungkin sudah lewat waktunya muterin distro, nyobain segala macem baju tapi ujung-ujungnya nggak beli..atau kamu doang yang beli hihi..
( I should admit that, until now, distro products are bit too pricey for me)

Mungkin nomor kita yang simpati dulu sudah hangus juga haha.. So 2007 banget yaa..when others use si kuning, kita waktu itu masih setia sama si merah hihi



Mungkin.. ada kebersamaan yang nggak akan kembali..


Mungkin aku yang berubah?
Sedikit lebih serius? Hmm..sedikit lebih serius menatap hidup? I don’t know..
When in other side, you become more social (I know you love to be photographed long before the selfie bomb haha..)

Mungkin memang hanya waktunya kita berubah :)
Mungkin kita hanya mengambil jalan yang berbeda..
Jalan yang bersisian, semoga
Supaya paling nggak kita bisa saling melihat bahwa each other okay :)



By the way.. kalau ada yang perlu dimaafkan, I am the one who should beg it at first.
Maaf untuk sikap nyebelinku. Yes,  I know I can be so nyebelin! Hahaha...
I married someone who call me nyebelin at least once a week, so you know.. maybe I was born that way. Not that I am not trying to fix it.. I try my best to minimize it *grinning*



Sorry for not being in most of your worst day..

Sorry for not being able to stay..

To complement you, and become supportive friends all the time..



I just want to say that I am happy for you, for the path you choose, and hope everything will work out fine for you, and may Allah bless you always..



I always be that kind of over protective guys to someone or something I love most... and you are one of it. Itu mungkin yang bikin aku ngga begitu excited in most of time kamu cerita soal cowok yang kayaknya serius sama kamu. Aku kadang merasa they were not good enough for you... why don’t you find someone who actually has qualification to be your imam, for God's sake??


But I realized now, yes, it is maybe I am who are too protective (and over worrying about the bad-result-end. Don’t blame me, I mostly saw you being childish even though you are older than me! :p ). Everything is in your hands by the way.. 

So whoever you choose to be with now, I hope the best for you, Dil. I hope there will be a time to know that person better once you and him finally tie the knot (and found the reason why he deserved you :p ).



By the way... I tried to find some of our old photos but my harddisk was cracked :(((((. It tore my heart knowing the fact that maybe the files won’t back :'(
I miss our happy smiles back then, even though I don’t need to be reminded how good those times were :)


Dil, mungkin our golden times sudah usai. But we still have the future. Let’s see if we can make it again :)




Sincerely yours,
( because the I-love-you seems like something you say to someone who you wanna kiss. And of course I am not gonna kiss you! I just kiss a man. Okay, stop it)


-Someone who tried her best to stay-



Tuesday, October 13, 2015

Emak-emak Belajar Dagang

Tak terasa genap setengah tahun saya jualan jilbab. Itungannya memang masih seumur jagung, tapi saya merasa cukup banyak pengalaman dan pelajaran yang saya ambil selama jualan produk milik orang lain ini.




Sebelumnya saya memang udah jualan handmade accessories dan outerwear dengan brand sendiri. Nah, karena masih merintis, banyak yang belum kenal dengan The Darling atau DearDarla Craft. Setelah saya menikah dan punya Azka, pemasukan nyaris nol karena via online sepi dan saya belum bisa rajin ikut-ikut bazaar seperti dulu. Lantas entah gimana awalnya, nemulah saya sama brand JilbabAfra. Awalnya tertarik sama visualnya, yang menurut saya, "woh, sing nggarap iki ngerti ndesyen". Kemudian nyoba jilbabnya dan suka... Sempat jadi reseller selama beberapa bulan, sampai akhirnya memantapkan diri menjadi agen sampai sekarang hehehe..
Awalnya saya hanya fokus jualan offline, ditawarin ke tetangga dan teman-teman di Tuban. Lalu kepikiran, kenapa nggak manfaatin online juga? Toh, agen punya privilege untuk dropship alias kirim barang ke konsumen dari produsen langsung. Buat saya yang tinggal di kota kecil mendekati terpencil, sistem ini membantu banget. Saya nggak harus stok banyak barang di rumah baru dikirim ke mana-mana. Karena letaknya yang bukan di kota besar ini, ongkir dari dan ke Tuban cukup mahal. Musuh nyata buat bisnis online.


Begitu mulai go online dengan bikin akun instagram di @jilbabafratuban, pesenan mulai mengalir satu demi satu. Puncaknya pas salah satu foto saya di-regram sama akun instagram JilbabAfra Pusat,. Hari itu juga saya langsung dapat enam fix customer (buat saya itu termasuk banyak lho! :D) Belum termasuk yang tanya-tanya dan nggak jadi beli hahaha... 
Oya, pengalaman sama customer ini termasuk yang paling seru lho! Ada customer yang enak diajak ngobrol.. ada yang transfernya selalu cepeett.. ada customer yang bela-belain minta dikirim stok dari Tuban walaupun ongkirnya mahal.. ada cust remaja yang emang abege banget, kegirangan kalau dapat diskon ("yaampun kakaknya baik bangeettt.. rejeki anak soleh ini.."*ngakak*) Macam-macam pokoknya :D Saya bersyukur nggak pernah ketemu customer yang terlalu ajaib (apalagi hobi hit and run, naudzubillah..) Saya malah banyak banget diketemuin sama customer yang Masyaa Allah baiknyaa... saya sampai nggak enak hati. Ada satu customer asal Depok yang entah gimana bisa nyangkut ke saya. Si customer yang manggil saya Teteh ini orangnya baiik banget dan santun. Seneng deh ngelayaninnya. Giliran kirim barang, kenapa sampai berhari-hari paketnya nggak sampai? Padahal satu kota sama produsennnya. Pusing banget deh saya. Si cust ini nggak bawel, malah saya yang riweh nanyain doi paketnya dah sampai atau belum. Habislah saya, begitu saya pikir, alamat cukup sekian dan terimakasih nih. Eh, begitu akhirnya paketnya sampai (ekspedisinya bermasalah ternyata), doi bilang "nuhun ya tehh". Bolak-balik. Nggak marah sama sekali! Saya masih nggak berharap banyak.. Namun beberapa waktu lalu si cust ini order lagi dan begitu ordernya nyampai dalam sehari, aduhh makin nuhun nuhun aja nih customer :D Alhamdulillahh..

Memang kalau menurut saya, tolak ukur suksesnya kita berjualan itu kalau ada repeat order, entah dari customer sendiri atau doi promo ke temannya. Itu artinya pelayanan kita memuaskan. Ibarat kita makan di resto, kalau makanannya enak dan service lainnya memuaskan, kita pasti balik lagi kan? Makanya saya hati-hati betul sama customer. Walaupun kadang nyebelin, tapi asal masih sopan tetep aja pasang (emot) senyum hihi... Lalu kalau ada customer yang repeat order, nah itu harus di-maintain supaya jadi loyal customer. Caranya bisa macem-macem. Bisa dengan ngasih gimmick alias sovenir, ngasih diskon, atau ngasih layanan delivery misalnya.


Oya...Buat saya, nggak ada ceritanya sikut-sikutan dalam urusan perut. Bukannya Allah sendiri sudah berjanji kalau tidak akan dimatikan seorang hamba sampai rezekinya dituntaskan? Jadi rezeki mah udah ada porsinya sendiri.. dan nggak bakal ketuker! Tinggal cara kita saja menjemput tuh rizki yang menjadikan rezeki tersebut bernilai berkah atau sebaliknya..

Berpegang dari situ, adab dalam berjualan tetap saya junjung sekalipun dalam bisnis online yang rawan banget terjadinya penyelewengan. Misalnya nih, ada customer komen foto di akun ignya JilbabAfra Pusat "Sis ini caranya beli gimana?". Biasanya agen dan reseller suka ada yang komen, "Bisa dibeli di kami juga kak... harga sama dengan produsen..dst.". Kalau sudah ada agen/reseller yang membalas komen satu calon pembeli, maka saya nggak akan menawari pembeli tersebut untuk beli di tempat saya. Ibaratnya ada orang di pasar cari jeruk terus ditawari penjual A, masa iya ada penjual B nyelonong bilang "beli di saya aja..sama kok jeruknya.. lebih murah lagi.." Kalau kejadian di dunia nyata jelas kena bogem tuh pedagang B hehehe... 


Omong-omong... Enaknya jualan barang punya orang, kita bisa fokus jualan aja ya. Nggak ribet-ribet bikin konsep, branding, belum strategi marketing dan sebagainya. Nggak enaknya kalau pas mikir "aduuhh energi kayak gini bisa kali yaa buat ngegedein brand sendiri" hihi.. 


By the way.. udah malam dan saya mulai ngantuk. Kapan-kapan saya sharing kecil-kecilan lagi ya! Hihi..




Love,
Tyzha

Friday, July 10, 2015

Teruntuk Calon Sahabat Surgaku: G477

Dulu... sama sekali nggak pernah kepikiran kalau sehari bisa bener-bener ngaji habis sejuz
Dulu ya, syukur banget kalau seminggu sekali aja bisa rutin yasinan..
Boro-boro ngaji sejuz, ngaji sehalaman sehari aja kagak nyampe, bro! Udah ngantuk duluan..



Tapi itu duluuu... (ini berasa iklan banget..)



Di awali dengan adanya sebuah blast di grup ikhwah kalau ada komunitas baru namanya One Day One Juz (ODOJ), eh lumayan tertarik nih pengen ikutan..
Waktu itu kondisi lagi hamil empat bulan, jadi mungkin udah rada insyaf yah haha... Pengen punya anak sholeh, jadi kepedulian ke agama juga mulai meningkat hihi...

Akhirnya daftar ke CP-nya... Dibalas agak lama, disuruh nunggu.. Akhirnya pertengahan Desember 2013 itu tau-tau nongol grup baru di hape... ODOJ 477. Semoga istiqomah, begitu jargonnya dulu :)

Very, very excited. Waktu itu anggota belum genap 30 orang kayaknya. Masih agak carut marut secara teknis (maklum, waktu itu komunitasnya masih baru banget), tapi kami semua berbagi semangat yang sama :) Begadang bersama menuntaskan juz... nungguin temen-temen yang belum kholas dan laporan sampai ketiduran... ah :)


Saya waktu itu mikir; wah keren, bisa bikin tamat sejuz sehari! Tips ajaibnya apa yaa…Eh, ternyata ga ada tips yang ajaib-ajaib banget...

Kuncinya ada di keinginan yang kuat, dibantu dengan lingkungan yang kondusif

Namanya iman, kadang naik, kadang turun. Di situlah perlunya teman-teman yang akan membantu kita, mengingatkan kita, mengulurkan tangan, berbagi semangat, supaya kita segera naik lagi dan nggak jatuh kebablasan, apalagi pakai acara nggak bangun lagi..


Masih ingat dulu rasanya pertama kali bisa ngaji sejuz sehari. Masya Allah.. saya nggak akan lupa..that feeling.. Wah aku ternyata bisa...ternyata ini nggak mustahil... ternyata ini nggak sesusah yang aku bayangkan... ternyata asal ada kemauan bisa lho...


Dengan bacaan yang tertatih, tapi semangat yang menyala membuat bibir terus mengeja.. Lembar demi lembar.. kadang diselingi tidur dulu. Sejuz pun akhirnya habis dalam sejam lebih. Merasakan sekali kasih sayangnya Allah waktu itu.. Alhamdulillah.. dimampukan untuk bisa istiqomah ngaji :)


Karena merasakan sendiri efeknya ODOJ, jadi deh pengen berbagi kebahagiaan itu. Woro-woro -lah ke temen-temen yang lain. Beberapa pengen ikutan, bahkan dua orang jadi bergabung di grup yang sama :D


Sekarang, tahun 2015, hampir dua tahun bergabung di 'rumah' ini. Merasa berhutang banyaaaaaaaak banget pada komunitas ini. Ternyata nggak hanya istiqomah ngaji yang didapet, banyak pula ilmu yang didaptkan dari share-share-an yang rutin beredar di grup ini. Belum lagi anggotanya yang inspiratif-inspiratif banget.




Ngomong-ngomong soal anggota...

Di ODOJ 477 sudah sempat ganti admin dua kali, belum lagi personil yang bongkar pasang. Namun alhamdulillah banyak yang masih setia dari awal berjamaah di grup ini. Anggota yang baru-baru masuk pun banyak yang terasa sudah seperti saudara sendiri.. Kalau kata suami ini mah manisnya iman, bisa saling mencintai karena Allah..


Ukhuwah Islamiyah...


Hanya Allah yang tahu betapa aku sayang pada kalian saudara-saudarikuuu... Pengeennn banget bisa ketemu sama semuanya. Yang biasanya cuma tau ceriwisnya di layar hape.. yang biasanya terbaca wise-nya hanya dari ketikan chat, gimana ya kalau ketemu langsung? Pastinya seru banget!
Semoga kita punya kesempatan bersua di dunia nyata yaaa ukhtifillah kesayanganku semuaa.. Kalaupun tidak, semoga Allah berkenan mengumpulkan kita semua di Jannah-Nya kelak 



Semoga kita semua selalu istiqomah berusaha menggapai ridhoNya, bersemangat bersama-sama membumikan AlQuran di negeri kita pada mulanya, dan dunia pada akhirnya... aaminn, Insya Allah :)




Ana uhibukkum fillah


Thursday, July 9, 2015

A Little Notes About My Son

Being a mother could be one of the greatest yet adventurous journeys in my life so far.  Mulai dari pertama kali denger tangisan Azka, touching his tiny fingers, holding his fragile shape..everything seems so magical. Too beautiful that I almost burst in tears everytime I look into his eyes.



Matanya Azka mungkin adalah salah satu bagian tubuh yang paling ekspresif. Karena Azka belum bisa ngomong lancar secara harfiah, tatapannya banyak sekali ‘bicara’. Mulai dari tatapan happy, curious, sampai tatapan ‘ummi aku jangan ditinggal’ yang selalu bikin saya susaahh banget kalau nggak terpaksa-terpaksa banget ninggalin Azka sama orang lain, selain abinya.


Memang nggak semua hari was a great-day or even an ok-day. Ada hari di mana saya bisa melototin Azka sambil ngatupin mulut nahan emosi biar ga ngomel-ngomel, because he drives me crazy. Contohnya... waktu dia nyemburin homemade mpasi yang udah susah-susah saya bikin... waktu dia umek aja berjam-jam sementara saya capek banget pengen tidur... sort of. Tapi tetep aja, in the end of the day, wajahnya Azka kalau lagi tidur selalu sukses bikin saya ngerasa bersalah karena belum bisa jadi ibu yang sabar buat dia :'(

In general, Azka adalah anak yang sangat friendly. He can smile easily to strangers. Dan kalau digoda dikit aja, doi bisa gampang melting sama orang lain. Thanks God, soal ini doi nurun gen baik abinya.
Sama ortunya juga gitu. Dia bisa manja banget minta gendong abinya.. nempeeell mulu. Atau kalau umminya lagi duduk atau jongkok, dia sering banget tuh dari belakang tau-tau meluk sambil ketawa-ketawa. Ah, kalau ngalamin yang kayak gini, selalu deh berdoa; semoga Azka manis kayak gini sama abi dan ummi sampai besar nanti, ya, Nak :')



Emang kalau ngomongin anak mah ga bakal ada abis-abisnya. Semoga abi dan umminya Azka bisa menjaga titipannya Allah dengan sebaik-baiknya yaa..  We love you so much, Azka :*



Tuesday, May 12, 2015

A Housewife Dilema

This post had been started written in May 1st but finished in May 12th
--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kalau flashback ke belakang, katakanlah lima tahun ke belakang saja, mungkin tidak akan terbayang beginilah kehidupan saya sekarang. Dalam imajinasi paling liar, bahkan dalam plan paling buruk (saat itu) tak mungkin terbayang bahwa saya saat ini, tahun 2015, di pagi hari yang cerah di Hari Buruh, sedang menikmati momen yang sangat langka bernama me-time, di sebuah kota kecil di utara Pulau Jawa. Ada batita yang tidur lelap di kamar sebelah dan di halaman tumbuh lebat pohon labu yang baru saja dipanen, buahnya dibuat kolak yang mengepul hangat menemani saya menulis.

 

Betapa Allah bekerja dengan cara yang misterius.. salah satu frase favorit saya.

 

Namun memang begitulah adanya..

 

Sementara saya menulis, angin berdesir lembut, menggoyangkan vitrage dari jendela pondok mungil kami; saya bersyukur. Sepenuh hati bersyukur. Syukur yang dibalut takjub pada kuasa Allah; pada rencanaNya yang mengejutkan. But as every surprise gift… mengejutkan tapi menyenangkan. Walau dalam beberapa bagian kadang terasa lucu. Bayangkan saja.. dari yang awalnya bercita-cita lulus kuliah langsung merantau ke Jakarta, bekerja di media, tinggal di apartemen dan nongkrong di Kemang ba’da kerja, lha kok sekarang jadi ibu rumah tangga, ngurusin bayi dan bercocok tanam di waktu senggang. Eaaa…kata anak sekarang. Most amazing part-nya adalah kok ya saya enjoy aja gitu lho..dan ini pilihan sendiri. Jadi memang perannya Yang Kuasa luar biasa sekali membolak-balik hati saya dalam hal ini; yang awalnya terlihat menarik jadi tidak, begitupun sebaliknya..

Saya ingat perjalanan saya tiga hari ke Jakarta (dulu, taun 2013. Sendiri saja tanpa suami, hanya mau nostalgia dengan kawan lama) yang dipenuhi agenda ngantri busway, berdesakan di busway, nungguin macet di dalam busway. Alamaaak.. hidup kok rasanya habis di jalan (all hail for Jakartans yang sanggup menghadapi semua ini every single day!). Bubar jalan keinginan merasakan hectic-nya ibukota. Biar pak sopir sajalah yang pusing liat mobil berjejal-jejal, saya duduk anteng di kursi belakang; sambil update Instagram atau tidur ayam, bangun-bangun sudah sampai Plaza Indonesia. Tentu itu ngayal. Mana ada gaji jurnalis pemula bisa bayarin sopir pribadi apalagi naik taksi setiap hari. Permisalan saja lhoo… kalau dulu saya jadi jurnalis beneran di ibukota..

 

Sebentar, saya jadi lupa awalnya niat nulis apa -.-"

Ya begitulah intinya.. saya sangat bersyukur dengan kondisi saat ini. Terlihat jauh dari riak, tapi bukan berarti tanpa tantangan. Tantangannya mungkin lebih ke pertikaian dalam diri.. Terkadang melihat kawan lain sudah begini begitu, saya kok merasa begini-begini aja. Seolah jadi IRT adalah stempel mati bahwa selamanya akan berkutat urusan anak dan rumah. But, hey, adakah yang salah dengan itu? Saya rasa tidak, kalau memang itu adalah pilihan murni seseorang. Malah jadi ladang pahala. Hail to every IRT yang bisa stay di rumah 24/7 ngurus suami, anak dan rumah, apalagi kalau tanpa bantuan rewang. Kalau saya mah tidak bisa, atau belum bias deh.. Bebersih rumah sendirian sangat takes time dan melelahkan buat saya. Kalau masak masih okelah.. karena hobi juga. Prinsip saya, mah, waktu dan tenaga kita terbatas. Jadi kalau ada kerjaan yang kira-kira 80% bisa dikerjakan dengan baik oleh orang lain, maka delegasikanlah saja hehehe...

 Aduh, sebenernya saya ini mau ngomong apa sih.. Oh ya, pertikaian dalam diri..

Saya mah suka galau kadang-kadang kalo liat si A atau si B. Namanya manusia yaa..durian tetangga selalu terlihat lebih menggiurkan. Padahal si A si B mah bisa jadi galau juga kalau liat saya haha.. Situ punya karier oke, tapi galau jodoh. Sini Insya Allah udah ketemu jodohnya tapi definisi kariernya masih ngambang... daan sebagainya. Ya ya ya.. wajar ya sekali-kali galau, namanya manusia. The most important thing is cepet-cepet ingat dan bersyukur aja. Inget kalau duren tetangga yang keliatannya lebih besar belum tentu dagingnya setebel dan semanis punya kita. Bahkan bersyukur at least kita punya duren daripada ada tuh yang ga punya duren walaupun kecil dan rasanya sepo* (ini apa yak kok malah ngomongin duren?? Penting banget yaaa perumpamaannyaaa..). 


C'est la vie**



Balik lagi soal stempel mati IRT...
Well, since I know from the first time kalau saya bukan tipe yang bisa diam aja di rumah, for me it just a matter of time saya mulai asyik lagi denga beragam project seru yang biasa saya kerjain. But for now, Azka is my top priority. Saya tahu bakal nyesel banget kalau sampai ngelewatin fase pertumbuhannya Azka. Soal jualan, ngedesain, bahkan sekolah lagi, akan ada banyak waktu untuk itu. Nanti. Tapi kalau ngeliat Azka tumbuh? Tinggal tunggu waktu aja dia mulai asyik main sama temannya dan ga ngintilin umminya ke manapun kayak sekarang :)



Jadi begitulah..
Curhatan saya kali ini...
Maapkeun kalau banyak muter-muternya dan agak gak nyambung prolog sama epilognya... hiksss
Begitulah kalau kelamaan ga nulis. Jangan ditiru ya sifat suka ketidurannya yang bikin jadi ga sempet-sempet nulis terus.


I really miss writing. I hope I will have plenty of time in the future to do this routines..
Will try my best to catch up soon!


Much love from Ummi Umar




 *bahasa jawa yang artinya hambar
**bahasa prancis, artinya kira-kira "yahh..begitulah hidup"

Friday, April 3, 2015

Selamat Milad, Anakku...

 

5 April 2014. Umar Azka, 2 days old :)
 

Ini adalah draft kedua yang Ummi tulis, Nak, setelah draft yang pertama dengan sangat terpaksa dihapus karena terlalu...cheesy?


Tapi memang Ummi jadi gampang cheesy kalau berhubungan sama Azka..



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


It feels like yesterday...

Mi menemukan blood spot yang keluar bersama lendir dari jalan rahim. Unexpected.. karena Azka perkiraan masih baru akan lahir 10 hari lagi.

Dini hari itu, Nak, menjelang pukul dua, Mi berasa dalam mimpi, naik taksi bersama Utimu ke RS. Terlebih ketika perawat memastikan air ketuban Ummi rembes dan Mi harus bedrest di RS sambil menunggu kontraksi. Seriusan gue mau lahiran sekarang?? Bahkan tas perlengkapan yang sudah siap sedia pun tidak Ummi bawa ke RS. Eh seriusan ini??

Long story to be short, setelah hampir 12 jam Azka belum mau keluar sendiri, Mi akhirnya harus diinduksi. Ya Allah..betul-betul Mi nggak tau sebegitu sakitnya diinduksi..rasanya mau mati. Waktu terasa begitu lama. Rasa sakit yang berputar-putar membuat Mi nyaris kehabisan tenaga. Untung ada Abi di samping Ummi, yang menangkap gerakan lemah Mi saat minta disuapi pisang atau pocari untuk booster energi. Utimu? Hanya bisa memantau dari kejauhan karena ga tega melihat Ummi kesakitan.

Akhirnya sayang.. pukul 21.50 kamu lahir. Tangis pertama Azka membuncah bersamaan dengan hilangnya sakit pada tubuh Ummi. Bayi Ummi..kesayangan Ummi.. Mi teringat berucap "lucunya..lucunya.." bersamaan dengan airmata yang menderas di pipi. All the pains were paid off.



Umar Azka Al Faruq Wahid. Pemimpin yang paling bersih pembeda antara yang haq dan yang batil.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Anakku...
Hari Azka genap berumur setahun. Usai sudah masa menghitung usiamu dengan hitungan bulan..

Anakku...
Akan tiba masanya Ummi Abi tidak ada di sampingmu untuk melindungi Azka... betapapun inginnya kami. Akan tiba masanya Azka melihat dunia dengan cara yang berbeda. Betapa dunia tidak sekedar hari ini bermain tanah bersama Abi... disuapin makan sama Ummi.. Akan tiba masanya dunia terasa begitu kejam dan tidak adil..Tapi di sanalah, Nak, tantangannya... Di sanalah Azka harus ikut berperan, jangan menjadi mereka yang hanya berani diam dan ikut arus. Sampaikanlah kebenaran walau itu pahit, Al Faruq! Berpeganglah pada buhul tali yang kokoh, Islam. Gantungkanlah hidupmu hanya pada Allah SWT.

Anakku...
Baru kemarin rasanya Ummi memandikanmu dengan hati-hati.. menggendongmu dengan mudah.. berbaring di sampingmu dan berpikir, apakah Azka sudah bisa mengenali Ummi. Sekarang Azka sudah bisa jalan..Ummi kalau nggendong Azka rasanya beraaat banget. Azka juga udah bisa diajak main petak umpet dan selalu mau ikut kalau Mi pergi..

Doa Ummi, Nak, semoga Azka menjadi pribadi yang jauuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh lebih baik dari Ummi dan Abi dalam segala hal. Semoga Allah menjaga Azka selalu berada dalam keimanan... Sehingga pada saatnya nanti kita bisa berkumpul bersama di Jannah-Nya.

24 Agustus 2014. Azka dan Ummi di suatu pagi yang cerah

Selamat berumur setahun, Kesayangan. I love you too much :)



Thursday, November 13, 2014

The Name

My baby, seven days old when having his aqiqah

Umar Azka Al Faruq Wahid


Umar derived from Umar ibn Al Khattab and Umar ibn Al Aziz, Both were great caliphs. 
Azka (arabic) means purest, holy 
Al Faruq (arabic) means "the one who distinguishes between right and wrong". It was the title earned by Umar ibn Al Khattab
Wahid (arabic) means the first, and also his father's name

  
"The purest and holy caliph who distinguishes between right and wrong"

 -pemimpin yang paling bersih dan suci, pembeda antara yang haq dan yang batil-


"Giving name works as pray. So pray as long as you can"
Widya Reswari, 2014

Wednesday, October 8, 2014

A Humble Hello

Our baby, right after seeing the world for the first time :)



Assalamualaikum dear readers..

Seneng banget akhirnya bisa bener-bener aplot tulisan di blog :) Maafkaeun untuk postingan hamil saya yang mendadak berenti, not to mention penulisnya yang juga tiba-tiba ngilang selama..well, 6 months to be exact? Literally the longest hiatus I have ever made ya..

Well, ga ada excuse lain selain saya bener-bener sibuk di minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran si dedek..belum lagi kelahiran si Cibon yang maju 10 hari dari perkiraan, bener-bener bikin kaget dan bikin Plan A langsung loncat ke Plan Z hehehe.. That's why, jangankan buat duduk anteng di depan kompie, bisa tidur nyenyak aja bener-bener jadi sebuah kemewahan buat saya.. (ini si dedek lagi tidur anteng banget jadi saya finally bisa nulis sedikit.. hooray!)

But afterall, sekarang si kecil yang dulu dipanggil Cibon udah genap berumur 6 bulan. Insya Allah kedepan akan lebih banyak waktu luang dan energi untuk nulis, since that restless nights already over (aamiinn!). So, see you very soon, eh? :)


Much love from me and not-longer-called-Cibon

xxx


Wednesday, February 12, 2014

Obgyn Visit 4#: Cibon in 6th & 7th Month Recap

Haloo teman-teman semuaa... Jumpa lagi dengan umminya Cibon dan Cibon yang udah makin gede di perut, yeyeyee..umumumu... :3

Sudah lama banget ya gak cerita-cerita soal perkembangannya Cibon.. Terakhir saya cerita soal Obgyn Visit yang ke3# which was last October..Weww lama banget..sekarang aja udah Februari ya.. Ke mana saja kah sampai ga bisa nulis? Jujur ga inget..time really flies so so fasttt.. Kayaknya baru kemarin ngerasain yang namanya almost-all-day sickness, sekarang kalau makan udah kayak sapi aja..kayaknya baru kemarin bingung tiap liat USG Cibon, sekarang udah bisa ngenalin mana bokong mana kepala..ya ampun..kayaknya bener2 tanda kiamat nih waktu udah makin kerasa cepat.. #sedih

Jadi biar gap ceritanya gak terlalu jauh dan para pemirsa juga masih bisa nyambung, let me sum what you've been missed for the past..emm..3 months?

Jadi kalau di cerita terakhir itu Cibon kira-kira usianya udah 4 bulan kan ya.. Itu cerita pertama kali saya kontrol ke dokter U. Nah di bulan selanjutnya yaitu Cibon masuk umur 5 bulan, saya masih kontrol di dokter U. cuma kali ini kontrolnya pagi.. Jadi Sabtu pagi saya sama suami ke sana.. Saya gak begitu inget detail sih kontrol saat itu gmn..yah yang pasti tetap hepi lah namanya ketemu anak walaupun cuma lewat layar hehe..tapi yang jelas pas kontrol di bulan itulah saya mulai banyak nanya. 

Belajar dari pengalaman bahwa don't trust bumil memory, saya nulis tuh catetan di hape dari beberapa hari sebelumnya.. Mulai dari kekhawatiran BB yang waktu itu masih naik 3 kiloan apa ya..terus gimana soal perjalanan darat Tuban-Sby masih aman sampai usia berapa ya, sampe hal yang mungkin remeh kayak kapan sih harus mulai beli bra menyusui dan gimana dengan ukurannya..well, such things.

I don't know.. tapi pas nanya hal-hal yang mungkin remeh buat sebagian orang tapi mungkin tidak buat saya, di situ malah saya jadi kurang nyaman sama ibu dokter ini. Duh maaf ya bu.. Bukannya tugas dokter itu ya salah satunya menenangkan pasien ya? Tapi saya kok malah jadi inferior..dibilang ini itulah..padahal bukannya sok mau ribet usia lima bulan udah nanya bra menyusui..tp tolong deh ya, kepengen gitu bulan-bulan mendekati kelahiran udah beres semua sampai printilannya. Jangan harap deh udah dua minggu sebelum lahiran gue masih pusing beli apaa gitu yang kurang. Iya kalau suaminya gak kerja 6 to 6. Iya kalau ada sopir atau at least orang di rumah yang bisa nganter-nganter (nasib ga bisa nyetir mobil, huft..). In fact kan kemungkinan besar minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran itu saya sendirian di Surabayahh.. Belum tentu juga ntar masih se-fit sekarang..wong sekarang jalan dikit aja udah sanggup bikin pegel-pegel berkepanjangan kok... After all, kalaupun saya dianggep terlalu ribet bisa dong ya nasehatinnya enak dikit... Helloo.. ini baby pertama ya..kayaknya normal deh calon ortu baru banyak nanya.. So I suppose it is you, not me, who should put extra effort to understand. Kan tiap hari juga kerjaannya ngadepin ginian.. heran deh.. --"

In that point, saya jadi kangen obgyn saya sebelumnya. Despite antrian gak manusiawinya, as a doctor, she's def good. Walopun udah malam, saya banyak tanya, beliau tetap njawab enak walaupun memang seringkes mungkin. Tapi paling ga dijawab gamblang dan enak (plus masih senyum bok).. Ga kayak yang ini nih.. pasiennya ga ada, masih pagi, mau konsul nyante ga enak.. huhh..jadi yang namanya kesan pertama itu bisa salah juga ya..hmm..

Waduh kok jadi ngomel... yaudah intinya begitulah. Jadi saya agak-agak sedih waktu pulang. Untungnya habis gitu nemu tempat sarapan baru yang murah dan enak jadi mood membaiklah hehe..

That's waktu Cibon 5 bulan...

Terus kan masih galau tuh ya ntar mo lahiran di mana.. Di Tuban, masih agak enggg sama dokter n RSnya.. klo di Sby takut ntar suami ga nutut nungguin..macem2 dah pertimbangannya.. Tapi akhirnya Sby wins.. Ini sebenernya papi Cibon yang lebih prefer. Kalau saya pertimbangannya lahiran di Tuban karena kemungkinannya lebih besar bisa ditungguin suami, nah bapaknya, as most of guy, liat dari sisi rasionalnya dong. Di Sby RSnya fasilitasnya lebih oke, banyak pilihan juga, dekat rumah, banyak saudara, kalau ibu datang juga enak nungguinnya karena ada rumah..belom ntar kalau ngurus-ngurus akte juga lebih mudah karena papi-mami cibon KTP Sby, dll.. Toh tuban Sby juga ga jauh, kata si papi Cibon gitu, menghibur saya. Ntar kalo saya dah mules-mules, langsung dah dia mo cuss ke Sby.. katanya.. Saya sih diem aja, tapi setengah mati berharap kalau Cibon pas mau lahir dan bapaknya masih di Tuban, moga-moga doi ga langsung lahir dulu tp nunggu bapaknya datang haha..*aminin sekuat hati*

Terus apa ya? Hmm..oyaa..jadi setelah fix insya Allah ntar lahiran di Sby, mulai dong ya hunting dokter dan RS di Surabaya. Alhamdulilah selama ini ada RS yang jadi langganan kalau berobat. Dekeet banget ama rumah, paling 15 menit, fasilitas oke dan pelayanan memuaskan. Jadi dari awal juga saya pengennya tar lahiran di situ. Jadi ceritanya ini milih RS dulu baru nyari obsgyn cewek yang praktek di situ hehe... Nah karena pas cuma ada satu obsgyn cewek yang praktek di RS tersebut, yaudin hehe.. Oya dokternya kita sebut saja dokter M :D

Awalnya sih masih bingung kapan harus mulai kontrol di Surabaya...orang-orang bilang sih mulai 8 bulanan gitu juga gak papa.. Tapi pas Desember kemarin ada jadwal jualan  di Surabaya yang deketan sama jadwal kontrol Cibon, akhirnya mutusin buat langsung nyoba kontrol ke dokter M saat itu juga. Pertimbangannya, kalo misal gak sreg banget sama dokternya kan masih ada waktu buat kontrol ke dokter lain hehe..

Singkat cerita dua minggu sebelumnya udah daftar buat kontrol, dapet giliran nomer 1.Katanya dokternya praktek jam 10, tp hampir jam 11 baru dateng... Oya pas kontrol pertama ke dokter M ini calon mbahnya Cibon alias ibu saya ikut. Padahal baru menempuh perjalanan darat 6 jam + flight paling pagi ke Sby, terus kena macet karena adik saya yang ngejemput salah pilih jalan.. Singkat cerita, belom mandi dan sarapan, tapi begitu sampe rumah Surabaya dan liat saya belum berangkat langsung pengen ikut. Pakai acara bawa sangu tablet juga katanya buat ngerekam hasil USGnya haha.. tapi begitu sampai ruang praktek dokternya malah jadi gocik karena katanya malu kok rame-rame masuknya. Jadinya akhirnya saya dan papi Cibon aja yang masuk deh :))

First impression..dokternya ga seperti yang saya bayangin haha.. Dokternya cantiik sekali, jilbabnya panjang, pake make up tapi gak menor..yah pokoknya cantik deh. Ruang prakteknya enak, apalagi lantainya parket jadi kesan warm-nya dapet haha.. Ditanyain pertanyaan standar soal haid terakhir bla bla itu sebelum akhirnya di-USG. Dan buat nyenengin mbahnya Cibon, sama suami direkam dong pas dokternya lagi nge-USG.. 

After ngecek sana-sini dan memastikan bahwa Cibon sehat-sehat aja di dalam, akhirnya keluarlah pertanyaan pamungkas yang udah ditahan mami Cibon sejak lama; JENIS KELAMINNYA APA, DOK?? 

Awalnya agak pesimistis, ngira bakal dapat jawaban klise macam..ohh belum keliatan..ntar ya kalau udah bulan ke sekian..eh tapi ternyata dokternya bilang "sebentar..*muter-muterin alat USG, mungkin nyari posisi yang tepat*..kayaknya COWOK" Haha alhamdulillahhhh... akhirnya kamu punya kelamin juga nakk!! Terus ditunjukin tonjolan yang emang keliatan kayak p*nis.. Oalah yaa..yaa.. emang keliatan banget sih kalau itu cowok...hehe... Mami Cibon langsung cengar-cengir karena udah gak penasaran lagi.. Papi Cibon juga gak kalah senengnya... Walaupun cewek sama cowok sama aja, apalagi buat anak pertama, ga tau kenapa papi Cibon pengennya anak pertamanya cowok. Kalau mami Cibon sih lebih ke alasan sentimental; kalau anak pertamanya lahir di luar bulan Februari atau Maret, kalau bisa cowok (ga usah tanya alasannya, males ngejelasin, terlalu sering diceritain di sini kayaknya hehe..) Ya gitu deh.. akhirnya kami berdua cengengesan kayak orang dapet doorprize sebelum balik lagi duduk di ruang prakteknya..

Oya..pas Cibon enam bulan ini ga ada print hasil USGnya. Kalau kebiasaan di Tuban, tiap USG ya sekalian di-print hasilnya, jadi jasa dokter udah include print USGnya itu.. Nah, saya pikir mah di sini juga gitu.. ternyata enggak. Jadi pas udah kelar trus saya nanya print USGnya ternyata dokternya ga nge-save screenshotnya yang unyu-unyu.. cuman bagian kepala doang...jadilah eman kalau diprint.. Belakangan baru tau kalau mau di-print hasilnya bilang dulu di awal karena ada charge tambahan di luar jasa dokter.. *note buat kunjungan selanjutnya*

Waktu kontrol bulan keenam ini highlight-nya kan tau jenis kelamin Cibon (jadi kamu tetep dipanggil Cibon ya nak, bukan Cibonita..).. Nah lain lagi pas kontrol bulan kemarin alias pas tujuh bulan. Awalnya agak bete karena gara-gara daftar dokternya baru H-7, dapetnya urutan kelima...Aduhhh udah ngebayangin aja bakalan sampai siang tuh di dokter. Tapi ternyata ga bete-bete amat nunggunya, dan alhamdulillah sebelum dzuhur udah masuk ruang prakteknya. Nah..pas nunggu itu saya inget temen saya bilang coba kalau USG debay-nya diajak ngomong dulu..biar nurut pas USG. Mungkin maksudnya biar posisinya unyu-unyu kali ya atau gimana...yang jelas saya inget itu.. jadi saya elus-elus deh perut sambil ajak omong Cibon habis gini ketemu mi sama abi yaa..yang nurut ya sayang.. Sugesti atau tidak, ternyata ada kejadian di luar dugaan nantinya :))

Dokter M waktu pertama kali ketemu kan agak jutek, nah pas kontrol kedua ini kok friendly banget.. jadi saya seneng. Pas USG sempet kaget kok dari panjang tulang punggung dan diameter kepala (kalau ga salah) usia Cibon udah 30 minggu aja.. Saya nanya ke dokter dan dibilang bayinya agak besar, jadi kayak janin usia 30w padahal aslinya masih 28 minggu-an. Saya kaget banget hihi...karena BB sempet naik sembilan kilo padahal badan ga tambah endut blas..nah ketauan tuh sembilan kilo di mana ternyata :))  Ngeliat saya kaget bu dokter bilang ukurannya masih normal dan ngewanti-wanti saya buat ga diet. Haha ga mungkinlah dok, naikin BB aja setengah mati hehe...

Terus kejadian yang gak diduga adalah..Cibon ternyata banyak gaya di perut sodara-sodara! Jadi keliatan tuh mulutnya lagi ngecap-ngecap, mboh lagi makan apa kamu nak..:)) Dokter M sampai ikut excited juga liat Cibon. Dan pas lagi asyik merhatiin Cibon, ehhh tau-tau CIBON ANGOP. Haha..ampunn..nguap lebaaarrr banget. Action dia kata dokter M sambil ketawa-ketawa. Papi Cibon yang lagi ngerekam juga jadi cengengesan. Aduh seneng banget rasanya kalau pas di USG gini Cibon keliatan tingkahnya macem-macem. Jadi ga sabar pengen cepet-cepet lahiran :))


habis ngecap-ngecap trus angop... haha ibu bapaknya banget nih. habis makan trus ngantuk :D
Oya saya sempet tanya lagi jenis kelaminnya... dan tetap cowok alhamdulillah.. Bukan apa-apa..walaupun memang belum ada yang pasti tapi jujur sampai sekarang belum nyiapin nama buat anak cewek blas...jadi mudah-mudahan beneran cowok ya kamu nak, biar mi sama abi ga pusing-pusing lagi hihi...Mudah-mudahan kesenengannya mi baca surat Yusuf instead of surat Maryam jadi pertanda kalau kamu memang laki-laki ya nak :)

Btw kalau dilihat dari USG, dagunya Cibon bagus ya? #OOT

Yah sekian dulu cerita tentang Cibon sampai kontrol ke-7 bulan kemarin. Sebenarnya banyak yang pengen diceritain, tapi ntar deh di postingan lain biar gak terlalu panjang hihi... Ohy a trims lho buat yang suka mampir ngintip-ngintip postingan curcol saya terutama tentang expecting a baby ini! Seneng deh kapan hari ada yang bilang "eh aku ngikutin blogmu lohh.." Haha.. ada juga yang baca tulisan curcol beginian.. (Halo Mbak Niendy! baca ini juga gak? :D)


I'll be around very soon fellas! Much love from Umminya Cibon and Cibon ♥♥

Sunday, January 26, 2014

Nesting



Finally we go into tropical house. Not that tropical since the real one will use tons of woods and it is too costly for us. So we made a few adjustment instead.

And it may also doesn't look that alike the 3D model above..well, to be honest we changed our mind (sometimes) during the building process..so yes, there were few adjustment again.

It may not having the spacious kitchen or backyard that I've been hoping for, and some part didn't turn out like we were hoping for, but still, it is our first nest so we feel a bit sentimental about this house.

I'll share the pic later when our nest is finished. Hope everything will be settle before I give a birth!


PS: I guess we will have so much fun decorating the house. Finally, our own house! Alhamdulillah Ya Allah.. :)

Saturday, January 25, 2014

The Early-Year List

Here we go..the ritual of the new year heheh.. making resolution! Before we off to that, let's evaluate 2013's resolution!

1. Pregnant
     Alhamdulillah...Allah give us one of the best gift for our marriage so far :) maybe it's a bit late than the time we have anticipated before, but we know it is the best decision coming from Allah :) Insha Allah if everything run smoothly, I will giving birth in the almost midst of April :)

Read my pregnancy journey here!

      2. Writing at least one book
       Failed :( I guess all the blast of newlywed life made me forget of this one..

      3. Giving rebirth to Dear Darla
        Another alhamdulillah.. Started around March/ April 2013 I finally make up my mind and heart (and money of course) to broaden my line into woman outfit called The Darling. For now we are selling scarves and woman outfit which is hijab friendly. We started with blouse, blazers, pants..simply the basic items. But who know where the wind will blows?  Beside that, I still keep my half-idealistic brand that now become a supporting brand, Dear Darla Cafthings. If you have something to do with accessories/ scrapbook/ personal gift/ etc, don't hesitate to tell us!

Check our instagram account here!

       4. Doing more artsy thingy
       One artwork a week..that's what I said last year. I guess that's a wide definition of artwork. I did a lot of photowork/editing/designing last year! But I am looking forward to do more sketches this year for sure!
I love making quote cards! Here are a few of my design that I use as gimmick for every The Darling's product purchasing :)

      5. Moving to a new house and decorate it to keep my artsy spirit alive
       I didn't do too much decorating work in our rented house. It's because it turned out that the renovation didn't really suit my taste so just called me lost my mood. But alhamdulillah again.. it's beyond our expectation, we got a precious opportunity to have our very own house! The house building is under process but I'll share some of the sneak peek soon :) You also can read my old post about finding that dream house here 

      6. Make a finance plan and take care our lil family finance
       I have made a separate bank account for family money, savings, and business of course. We did a regular evaluation about what we need/ will buy/ sort of things. There were still minus in here and there so we keep on learning! :)

      7. Submit hajj application
       Alhamdulillah... done. It is every moslem dream to see Baitullah. Labbaik allahuma labbaik :)

     8. Learning more about business and invest
    We did a bit of investment and plan to gain more knowledge about that this year :)


And now..it's time for



I can't wait to launch Dear Darla x The Darling new website..
Can't wait to take this brand into the next level..
Also can't wait to launch my new personal project!

Can'wait to start the new chapter of my life, parenthood!
Can't wait to live in our new house..and decorate it heheh..

I will learn about reksadana syariah..
Learn about other form of investment beside gold..
Learn to save more!

I vow to keep persistent with my one day one juz program.. and my other spiritual program..
Dress more modest and syar'i. Hijab must cover over the chest and use socks everytime I leave the house!


Bismillah, I can do it!


Hey, have you share your resolution yet? It's good to write it down to remind yourself, you know, whether you lost your direction or whatsoever... Share you're dream! Who knows anyone out there will help you reach them faster than you think? :)


I'll keep updating soon! Much love from me and my little peanut, Cibon!