Tuesday, February 10, 2009

olala tahuwa


Sejak ngekos di perumdos ITS sini banyak banget hal-hal yang saya rindukan dari Ampel. Lantunan ayat Quran yang nyaris tak pernah henti berkumandang dari speaker masjid, nasi pecel Yu Sri di dekat pintu masjid, paras rupawan pemuda pemudi keturunan Arab yang berseliweran sampai masakan serba kambing buatan Datuk yang lezatnya tiada kepalang. Bukannya sok sibuk atau apa tapi memang demi efektivitas waktu dan menjaga kondisi badan yang ringkih ini saya ndak bisa ke sana sesering yang saya inginkan. Untungnya hal-hal yang saya rindukan di atas dengan mudah saya dapatkan ketika saya di Ampel barang semalam saja. Selepas subuhan di Masjid Ampel misalnya, saya dan Datuk Puan (begitulah saya memanggil nenek dari pihak ibu) biasa mampir untuk membeli pecel Yu Sri yang walaupun dijual tanpa lauk, hanya nasi, sayur mayur dan tentu bumbu pecelnya, tak pernah sepi dari pembeli. Sejak generasi ibu Yu Sri pecel yang dilengkapi peyek yang keras ini memang telah digandrungi karena bumbunya yang pedas tapi aduhai rasanya itu. Soal yang lain misalnya lantunan ayat suci yang nyaris tak pernah henti, tentu lebih gampang ditemui sejak menginjakkan kaki di kawasan Ampel.

Namun ada beberapa hal yang sangat jarang bisa dipuaskan bahkan kalau saya sudah di Ampel sekalipun barang beberapa hari. Salah satunya adalah tahuwa.

Tahuwa ini adalah sejenis kudapan yang terbuat dari sari tahu, karena itu dinamakan tahuwa. Teksturnya halus, lebih halus dari tahu, berwarna putih gading mulus. Disendok sedikit ia sudah terbelah. Kalau di mulut rasanya meluncur sehingga rasanya tak perlu digigit. Lembaran sari tahu ini disajikan bersama wedang jahe sehingga rasanya menghangatkan hingga rongga dada. Rasa sari tahunya sendiri tawar, tetapi ditemani wedang jahe yang hangat pantaslah kiranya dijadikan teman di kala musim penghujan seperti ini.

Musim penghujanlah yang mengingatkan lagi saya pada tahuwa. Batin saya, enak betul hujan-hujan di sore hari sambil menyeruput tahuwa. Saya ingat2 lagi kapan terakhir makan tahuwa. Astaga mungkin waktu SMA, saat liburan panjang di Ampel. Saya ingat-ingat lagi memang saya tak pernah menunggu-nunggu kedatangannya. Sama seperti penjual semanggi atau dawet yang tak pernah dinanti tetapi selalu dipanggil mampir saban kali lewat. Saat itu baru saya sadar saya memang sudah lama tak bersua dengan sari tahu ini. kerinduan pun memuncak.

Nampaknya ekonomi tidak berputar pada keadaan yang bagus pada penjual tahuwa. Di Ampel yang surga makanan, tempat satu-satunya saya menemukan tahuwa, ternyata mencari penjualnya pun perlu usaha ekstra. Yang dulunya datang tak dinanti, kini ditunggu sehari dua hari nggak lewat-lewat juga. Dan sayangnya kali ini waktu nginap saya di Ampel tak pernah bisa lebih dari sekian hari di atas. Maka menyantap tahuwa di teras sambil memandangi gerimis masih jadi harapan. Tahuwa yang semangkoknya seribu lima ratus rupiah, bahkan saya kadang tak bisa habis saking banyaknya, nampaknya tergerus oleh roda zaman di mana masyarakatnya jadi lebih suka jajanan serba Barat di kedai-kedai mall.

Sampai suatu ketika saya di daerah keputih, di tengah sore yang mendung eh ya kok nemu penjual tahuwa. Kuaget ndilalah ada penjual tahuwa nyasar di sini. Ngomong-ngomong sama penjualnya sebentar saya jadi tahu memang hidup jadi susah buat mereka. Bahkan pak penjual tahuwa bilang kalau di daerah keputih sekarang tinggal dia yang jual tahuwa, teman satunya pindah ke Ampel, tentu dengan pengharapan nasib yang lebih baik. Batin saya, bahkan di Ampel pun jajanan seperti ini makin berkurang tempatnya. Tak berlama-lama saya pun lantas minta dibungkuskan seporsi tahuwa yang kini harganya dua ribu lima ratus rupiah. Harga yang masih tergolong murah untuk zaman sekarang.


Rasa tahuwa itu benar-benar memuaskan dahaga saya! Rasanya wedangnya, sari tahu yang lembut di lidah benar-benar bikin saya bersyukur lahir di Indonesia yang memiliki sejuta ragam sajian. Harapannya semoga jajanan-jajanan seperti ini masih bisa terus eksis.. dan tentu saja siapa lagi kalau bukan kita yang bisa membuatnya terus begitu :)

5 comments:

asasino said...

tauwa enak! dulu waktu kecil klo ada org yang jualan lewat dan teriak2 "tauwaaa".. sama temen2 godain dengan tertauwa terbahak2 setiap kali penjualnya teriak.. sambil kita sembunyi dibalik pager.. >:

Syamsul Bhari Purnomo said...

wah kayanya enak nih...
tahuwa itu sama ama kembang tahu ga?

dari bentuknya kayanya sama kaya kembang tahu jakarta.. tapi belum pernah nyoba tahuwa sih... hehehehe

essa_satu said...

iya sul enak banged, palagi kalo gratis,,hihi,,*kmu banged

ya udah sul, kapan2 kita nyari tahuwa, siapa tahu dapat hawa,,jadinya tahuwa,,*gubrak

misstyzha said...

wah ternyata dua orang di atas ini saling kenal ckck..bikin kisruh di blog orang aja hehe..

@mas samsul
salam kenal :D

@mas essa
isok ae mas..wes mulai playboynya metu hahaha

essa_satu said...

hehe,,iya,,kita bacanya bareng2waktu itu,,,:D