Catatan untuk mengenang Putu Ayu Dhana Reswari (Pyut), yang wafat 3 Maret 2026 lalu.
Pyut adalah salah satu sahabat terdekat saya di tahun pertama menjadi siswa SMAN 10 Melati, sebuah boarding school di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami berbagi rasa humor yang sama, ketertarikan akan seni serta kegemaran menulis diary.
Kami sempat punya diary bersama; model yang memiliki gembok kecil dengan kunci. Pyut akan mampir ke kamar saya sebelum berangkat ke sekolah untuk memberikan diary itu, sembari senyum-senyum. Saya akan merasa sangat penasaran; buru-buru membacanya begitu sampai sekolah. Saya akan terkikik-kikik membaca tulisan Pyut tentang harinya, tentang crush-nya atau segala hal receh yang bisa dialami remaja perempuan yang tinggal di asrama. Lalu saya akan mengomentari tulisannya dan ganti menulis curhatan yang kurang lebih sama temanya. Nantinya buku itu akan saya berikan lagi kepada Pyut sebelum apel sore atau malam. Begitu terus selama berbulan-bulan. Hal yang cukup lucu kalau diingat-ingat sebenarnya. Kelas kami bersebelahan, kamar kami berada dalam lorong yang sama; praktis kami bertemu setiap hari. Namun memang tidak ada yang mengalahkan sensasi berbagi rahasia dengan sahabat lewat buku diary.
Saya selalu mengingat Pyut sebagai gadis berkulit hitam manis dengan ransel Billabong navy besar. Kesukaannya pada tas ala surfer ini menguap bertahun-tahun kemudian. Di kamar kosnya di Dharmawangsa, saat kami sama-sama berkuliah di Surabaya, ia pernah berkelakar tidak mengerti kenapa dulu bisa tergila-gila pada tas setengah juta lebih itu. Katanya, dengan nominal yang sama, bisa dapat banyak barang yang lebih murah dan lucu. Terkadang saat main ke kosnya, Pyut akan memamerkan hasil belanjanya yang memenuhi kaidah murah dan lucu itu; bisa berbentuk flat shoes berpita atau atasan ala shabby chic yang memang ngetren kala itu.
Saya masih ingat hari itu agak siang baru bisa membuka-buka socmed. Di grup whatsapp SMA sudah ramai, komting angkatan kami mengumumkan kalau Pyut sedang di ICU. Dada langsung terasa sesak. Mendadak terlintas momen Pyut yang masih SMA dengan rambut diikat di belakang kepala. Berjalan melewati depan kamar di asrama dulu, dengan baju PDH dan ransel besar di punggungnya, ngobrol sambil tertawa-tawa dengan riang.
Di grup, teman-teman yang di Jakarta bergantian mengupdate kondisi Pyut. Beberapa menjenguk ke rumah sakit. Esok malamnya, 3 Maret, suasana di grup angkatan terasa tegang saat kondisi Pyut dikabarkan semakin menurun. Ketegangan itu seketika pecah menjadi tangis ketika kabar yang tak pernah diharapkan itu datang.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..
Kepergian Pyut menyisakan syok yang masih berusaha aku olah hingga kini. Kutemukan diriku mengais foto-foto lama kita, Yut.. Ya Allah, kita pernah sangat muda.. Sesak rasanya melihatnya. Seperti baru kemarin kita tertawa-tawa bersama. Remaja yang kekhawatirannya hanya seputar ulangan Matematika. Kita masih sangat belia.. Masa depan masih terasa samar dan panjang. Masih teringat jelas kalau ada sesuatu yang lucu, Pyut bisa ketawa lebar banget, bahkan kadang saking gelinya, sampai nggak keluar suaranya. Masih ingat tulisan Pyut yang rapi banget. Masih ingat pesiar bareng ke Lembuswana atau SCP...
![]() |
| Photobox waktu pesiar di hari Ahad |
![]() |
| Waktu ikut kompetisi mading se-Kaltim di Balikpapan. Nginepnya di rumah Pyut. |
Entah kenapa dari sekian banyak momen, yang paling tajam teringat justru saat kami di kelas 1 SMA. Mungkin karena begitu inginnya aku mengenang Pyut yang ceria dan masih sangat muda, di hari-hari yang terasa panjang tetapi menyenangkan di asrama..
Semoga husnul khotimah ya, Yut. Insyaallah kelak kita reuni di surga. Kita akan ngobrol tentang masa hidup kita di dunia, dalam keadaan tanpa letih, tanpa sedih, hanya bahagia yang terasa. Aamin Ya Rabbal alamin..
Miss you always..
Sesungguhnya kami yang masih hidup ini hanya sedang menanti giliran..


No comments:
Post a Comment