Ramadhan tahun ini bisa dibilang salah satu yang terberat. Secara fisik Allah uji dengan kesehatan yang kurang baik, secara mental ujiannya nggak kalah berat. Namun di balik itu ada berkah luar biasa yang Allah berikan sebagai gantinya, yaitu hati yang tenang dan kesempatan untuk beribadah semaksimal mungkin terutama di 10 hari terakhir. Ini berkah yang sungguh, sungguh, luar biasa mahal harganya.
Lima tahun terakhir, saat Ramadhan saya selalu disibukkan dengan urusan pre-order sarimbit yang telat datang. Sejak pandemi kebanyakan produsen baju banyak menerapkan sistem pre-order untuk produknya. Mungkin ini untuk meminimalisir dead stock, sehingga produsen hanya membuat sejumlah pesanan. Namun entah kenapa, selalu ada saja drama dengan sistem ini. Mulai dari gagal produksi karena tidak memenuhi jumlah minimal produksi, produk yang selesainya jauh dari estimasi awal, dan segudang drama lainnya. Ini membuat saya harus selalu stand by memantau progress produksi maupun pengiriman agar semua pesanan bisa terselesaikan sebelum Lebaran. Belum lagi menenangkan para customer yang gelisah karena baju Lebarannya tak kunjung tiba.
Salah satu momen terburuk buat saya adalah saat menjelang malam takbiran masih memantau kurir mengirim barang. Sedihnya luar biasa karena sore Ramadhan terakhir rasanya lepas begitu saja. Di waktu mustajab, bukannya memaksimalkan ibadah, saya masih berkutat dengan handphone memantau posisi kurir :’((
Qodarullah tahun lalu kami memutuskan menutup toko offline Rumah Azka. Penyebab terbesarnya adalah karena admin yang sudah seperti tangan kanan saya mendadak ijin berhenti kerja karena alasan yang sangat kami pahami. Sebenarnya setelah Mbak Kiki saya sempat dapat admin pengganti, tetapi sayangnya belum cocok.
Kondisi saat itu saya hamil, penderita severe HNP, dan masih punya balita. Rasa-rasanya tak cukup energinya untuk mencari admin baru lagi dan mengajari lagi segala tetek bengek toko dari 0. Di sisi lain untuk menjaga toko sendiri saya juga tak sanggup. Akhirnya setelah banyak menimbang, kami putuskan untuk menutup (mudah-mudahan untuk sementara) toko offline Rumah Azka.
Untuk sampai ke titik ‘ya udah kita tutup dulu tokonya’ bukan perkara yang mudah. Hampir 8 tahun kami membuka toko offline. Dari toko masih di rumah, sewa ruko, hingga sewa rumah, pernah kami lalui. Namun ketika keputusan akhirnya diambil; sewa tempat kami cukupkan, rak-rak dibongkar; barang-barang dagangan kami angkut kembali ke rumah; surprisingly ini terasa… melegakan.
Jujur saat pandemi hari-hari berbisnis terasa berat. Kondisi ekonomi yang kurang baik membuat para pelaku usaha harus ekstra effort agar bisnisnya tetap survive. Di sisi lain, saya baru mendapatkan amanah anak ketiga, princess yang kami tunggu-tunggu. Maka sampailah saya di fase sesuatu yang dulunya menyenangkan mulai terasa membebani. Saya berada di titik mempertanyakan kembali motivasi saya berbisnis. Saya mencoba mengatur motivasi dan ritme bisnis agar sesuai dengan kondisi saya tapi belum berhasil. Bisnis yang dulu dimulai untuk mengisi waktu luang, sekarang justru mengambil waktu-waktu utama saya. Dan saya berada di titik mempertanyakan; is it really worth it?
Maka ketika akhirnya kesempatan untuk rehat itu datang, walaupun tidak dengan cara yang menyenangkan, saya semakin yakin bahwa pilihan Allah itu selalu yang terbaik. Dan saya menemukan hari-hari yang lebih santai. Tidak merasa perlu membuka handphone beberapa kali dalam sejam. Lebih banyak waktu tanpa terdistraksi saat menemani anak-anak. Lebih banyak mengerjakan hobi dan beristirahat. Jualannya sebenarnya masih via online maupun offline (dengan janji temu), tetapi pace-nya memang santai. Alhamdulillah customer dan reseller loyal sangat mengerti. Alhamdulillahnya juga, saya punya produsen yang luar biasa baik, yang tetap mengijinkan saya menjadi mitranya walaupun pembelian saya tidak sebanyak sebelumnya (baraakallahu fiikum Pak Ali, BuCipaa..☺️ )
Sempat juga terlintas, apakah saya sebenarnya hanya suka berdagang bukannya berbisnis? Karena dua hal ini ternyata sangat berbeda. Saya sangat menikmati melayani customer secara langsung. Menjelaskan fitur produk, mengemas barang belanjaan diselingi ngobrol dengan customer, oh I can do it all day! Hari-hari waktu masih jualan di car free day tahun 2015-2016 sangat membekas and I’d love to do it again in the future. But building a business? It’s a lot of work! Lebih-lebih kalau udah punya karyawan. Tanggung jawab nambah. Sometimes it’s like you were working IG 24/7 non stop. Managing the system, managing the people... Bisnis ternyata adalah tentang leadership, menejerial, akuntansi... honestly, hal-hal yang saya kurang suka, haha! Nggak heran tingkat stres saya juga jadi lebih tinggi… (Hail to all entrepreneurs out there! You all really do such a great job!)
Pada akhirnya saya sangat bersyukur atas Ramadhan tahun ini. Ternyata rehat seperti inilah yang saya butuhkan. Semoga Allah ijinkan saya bertemu Ramadhan tahun depan dan bisa melaluinya dengan ‘kelelahan’ beribadah, aamiin… Semoga Allah juga menerima amal ibadah saya dan teman-teman kemarin ya..
Serta jika Allah ijinkan, someday kepengen membuka toko offline Rumah Azka lagi. Kapannya, Insyaallah itu adalah di waktu yang paling tepat dan semoga jika itu terjadi, bisa memberikan kebermanfaatan yang lebih, aamiin...
Untuk teman-teman pengusaha di luar sana yang masih bertahan hingga kini, entah karena ingin atau tidak punya pilihan lain, semoga Allah karuniakan kemudahan dan kelapangan rezeki, serta kemudahan dalam beribadah. Aamiin Ya Rabbal 'alamin..
Bonus foto:
![]() |
| Waktu stok jualan dan perkap diangkutin balik ke rumah tahun lalu. Senyumnya Mbak Asma mewakili perasaan umminya *lega :D |

No comments:
Post a Comment