Tuesday, May 12, 2015

A Housewife Dilema

This post had been started written in May 1st but finished in May 12th
--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kalau flashback ke belakang, katakanlah lima tahun ke belakang saja, mungkin tidak akan terbayang beginilah kehidupan saya sekarang. Dalam imajinasi paling liar, bahkan dalam plan paling buruk (saat itu) tak mungkin terbayang bahwa saya saat ini, tahun 2015, di pagi hari yang cerah di Hari Buruh, sedang menikmati momen yang sangat langka bernama me-time, di sebuah kota kecil di utara Pulau Jawa. Ada batita yang tidur lelap di kamar sebelah dan di halaman tumbuh lebat pohon labu yang baru saja dipanen, buahnya dibuat kolak yang mengepul hangat menemani saya menulis.

 

Betapa Allah bekerja dengan cara yang misterius.. salah satu frase favorit saya.

 

Namun memang begitulah adanya..

 

Sementara saya menulis, angin berdesir lembut, menggoyangkan vitrage dari jendela pondok mungil kami; saya bersyukur. Sepenuh hati bersyukur. Syukur yang dibalut takjub pada kuasa Allah; pada rencanaNya yang mengejutkan. But as every surprise gift… mengejutkan tapi menyenangkan. Walau dalam beberapa bagian kadang terasa lucu. Bayangkan saja.. dari yang awalnya bercita-cita lulus kuliah langsung merantau ke Jakarta, bekerja di media, tinggal di apartemen dan nongkrong di Kemang ba’da kerja, lha kok sekarang jadi ibu rumah tangga, ngurusin bayi dan bercocok tanam di waktu senggang. Eaaa…kata anak sekarang. Most amazing part-nya adalah kok ya saya enjoy aja gitu lho..dan ini pilihan sendiri. Jadi memang perannya Yang Kuasa luar biasa sekali membolak-balik hati saya dalam hal ini; yang awalnya terlihat menarik jadi tidak, begitupun sebaliknya..

Saya ingat perjalanan saya tiga hari ke Jakarta (dulu, taun 2013. Sendiri saja tanpa suami, hanya mau nostalgia dengan kawan lama) yang dipenuhi agenda ngantri busway, berdesakan di busway, nungguin macet di dalam busway. Alamaaak.. hidup kok rasanya habis di jalan (all hail for Jakartans yang sanggup menghadapi semua ini every single day!). Bubar jalan keinginan merasakan hectic-nya ibukota. Biar pak sopir sajalah yang pusing liat mobil berjejal-jejal, saya duduk anteng di kursi belakang; sambil update Instagram atau tidur ayam, bangun-bangun sudah sampai Plaza Indonesia. Tentu itu ngayal. Mana ada gaji jurnalis pemula bisa bayarin sopir pribadi apalagi naik taksi setiap hari. Permisalan saja lhoo… kalau dulu saya jadi jurnalis beneran di ibukota..

 

Sebentar, saya jadi lupa awalnya niat nulis apa -.-"

Ya begitulah intinya.. saya sangat bersyukur dengan kondisi saat ini. Terlihat jauh dari riak, tapi bukan berarti tanpa tantangan. Tantangannya mungkin lebih ke pertikaian dalam diri.. Terkadang melihat kawan lain sudah begini begitu, saya kok merasa begini-begini aja. Seolah jadi IRT adalah stempel mati bahwa selamanya akan berkutat urusan anak dan rumah. But, hey, adakah yang salah dengan itu? Saya rasa tidak, kalau memang itu adalah pilihan murni seseorang. Malah jadi ladang pahala. Hail to every IRT yang bisa stay di rumah 24/7 ngurus suami, anak dan rumah, apalagi kalau tanpa bantuan rewang. Kalau saya mah tidak bisa, atau belum bias deh.. Bebersih rumah sendirian sangat takes time dan melelahkan buat saya. Kalau masak masih okelah.. karena hobi juga. Prinsip saya, mah, waktu dan tenaga kita terbatas. Jadi kalau ada kerjaan yang kira-kira 80% bisa dikerjakan dengan baik oleh orang lain, maka delegasikanlah saja hehehe...

 Aduh, sebenernya saya ini mau ngomong apa sih.. Oh ya, pertikaian dalam diri..

Saya mah suka galau kadang-kadang kalo liat si A atau si B. Namanya manusia yaa..durian tetangga selalu terlihat lebih menggiurkan. Padahal si A si B mah bisa jadi galau juga kalau liat saya haha.. Situ punya karier oke, tapi galau jodoh. Sini Insya Allah udah ketemu jodohnya tapi definisi kariernya masih ngambang... daan sebagainya. Ya ya ya.. wajar ya sekali-kali galau, namanya manusia. The most important thing is cepet-cepet ingat dan bersyukur aja. Inget kalau duren tetangga yang keliatannya lebih besar belum tentu dagingnya setebel dan semanis punya kita. Bahkan bersyukur at least kita punya duren daripada ada tuh yang ga punya duren walaupun kecil dan rasanya sepo* (ini apa yak kok malah ngomongin duren?? Penting banget yaaa perumpamaannyaaa..). 


C'est la vie**



Balik lagi soal stempel mati IRT...
Well, since I know from the first time kalau saya bukan tipe yang bisa diam aja di rumah, for me it just a matter of time saya mulai asyik lagi denga beragam project seru yang biasa saya kerjain. But for now, Azka is my top priority. Saya tahu bakal nyesel banget kalau sampai ngelewatin fase pertumbuhannya Azka. Soal jualan, ngedesain, bahkan sekolah lagi, akan ada banyak waktu untuk itu. Nanti. Tapi kalau ngeliat Azka tumbuh? Tinggal tunggu waktu aja dia mulai asyik main sama temannya dan ga ngintilin umminya ke manapun kayak sekarang :)



Jadi begitulah..
Curhatan saya kali ini...
Maapkeun kalau banyak muter-muternya dan agak gak nyambung prolog sama epilognya... hiksss
Begitulah kalau kelamaan ga nulis. Jangan ditiru ya sifat suka ketidurannya yang bikin jadi ga sempet-sempet nulis terus.


I really miss writing. I hope I will have plenty of time in the future to do this routines..
Will try my best to catch up soon!


Much love from Ummi Umar




 *bahasa jawa yang artinya hambar
**bahasa prancis, artinya kira-kira "yahh..begitulah hidup"

1 comment:

ariessa pratami said...

bener bgd nan... hiks hiks.. duren tetangga mmg nampak masih lbh menggiurkan... iya ini aku jg masih ngambang mau dibawa kemana kariernya. mau usaha sendiri g berani, ngikut orang terus, nanti rumah g keurus...